Hukum Menambah Lafadz “Sayyidina” dalam Shalawat Nabi

Termasuk di antara kesalahan yang banyak dilakukan kaum muslimin dalam bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penambahan lafadz “sayyidina” (bagian kami). Lafadz ini sama sekali tidak pernah diriwayatkan dalam hadits yang shahih. Jika hal ini disyariatkan, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada para shahabatnya. Oleh karena itu, telah dinukilkan pengingkaran atas hal ini dari sebagian ulama. Termasuk di antaranya adalah salah seorang ulama besar bermadzhab Asy-Syafi’iyyah yaitu Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah.

Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Gharabili -murid yang selalu mendampingi Al-Hafidz Ibnu Hajar- menukilkan: Telah ditanya (Al-Hafidz Ibnu Hajar, red) tentang cara bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik di dalam shalat atau di luar shalat, baik dikatakan wajib atau sunnahnya (dibaca di waktu tersebut), apakah disyaratkan padanya untuk menyifati beliau dengan “sayyid”, misalnya dikatakan: “Allahumma shalli ‘alaa sayyidina muhammad” (Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Sayyidina Muhammad), atau “Allahumma shalli ‘alaa sayyidil khalq” (Ya Allah, berikanlah shalawat kepada pemimpin seluruh makhluk), atau ‘kepada pemimpin anak cucu Adam’? Ataukah cukup dengan mengucapkan ‘Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad’? Mana yang lebih afdhal? Menyebutkan lafadz sayyid karena itu adalah sifat yang melekat pada diri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam? Atau tidak menyertakannya karena tidak ada dalam riwayat?

Beliau menjawab: “Ya, mengikuti lafadz yang telah ma’tsur (ada riwayatnya) itu lebih rajih (kuat). Dan janganlah berkata: ‘Jangan-jangan Rasulullah meninggalkan itu karena sikap tawadhu beliau sebagaimana beliau tidak pernah menyebut dirinya dengan tambahan ‘shallallahu ‘alaihi wasallam’, sementara umatnya dianjurkan mengucapkan hal ini setiap (nama) beliau disebutkan’.

Karena itu kita katakan: ‘Jika sekiranya (penyebutan sayyidina) itu lebih rajih, tentunya ada (riwayat) dari para shahabat kemudian dari tabi’in. Dan kita belum mendapati satupun riwayat dari salah seorang shahaba. Dan tidak pula para tabi’in mengucapkan hal itu dari sekian banyak riwayat mereka dalam hal ini.’ Inilah Al-Imam Asy-Syafi’i -semoga Allah meninggikan derajatnya, dan beliau termasuk orang yang paling banyak dalam mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau berkata dalam pembukaan kitabnya yang merupakan sandaran kitab para pengikut madzhabnya: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad”, dan seterusnya.

Demikian pula Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah. Ia telah mengkhususkan satu bab tentang cara bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitabnya Asy-Syifa dan menukilkan beberapa riwayat yang marfu’ dari beberapa shahabat dan tabi’in. Namun tidak satupun riwayat dari kalangan shahabat dan lainnya dengan lafadz “sayyidina”.

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata setelah menyebutkan perkataan Al-Hafidz: “Dan apa yang telah menjadi pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah tentang tidak disyariatkannya tambahan ‘sayyidina’ dalam bershalawat adalah karena mengikuti perintah yang mulia. Dan inilah yang menjadi pegangan para pengikut madzhab Hanafi. Inilah yang sepantasnya kita berpegang dengannya, sebab merupakan pertanda kejujuran kita atas kecintaan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Katakanlah: jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintaimu.” (Ali ‘Imran: 31)

Oleh karenanya, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Ar-Raudhah: “Shalawat yang paling sempurna kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammad…” tanpa menyebutkan lafadz: ‘sayyidina’. (Selengkapnya lihat: Sifat Shalat An-Nabi, karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah, hal. 172-175)

Termasuk dalam kesalahan juga adalah melantunkan shalawat Nabi dengan berirama dan terkadang dilakukan secara berjamaah. Bahkan ada yang diiringi dengan lantunan musik piano, genderang, rebana dan lainnya. Sungguh, ini merupakan suatu kebatilan yang nyata yang dikemas dalam bentuk ibadah. Bagaikan najis yang dicampur dengan setetes air suci. Allahul musta’an.

Tak hanya itu. Tujuan shalawat pun kini telah bias. Yang awalnya untuk mendoakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kini menjadi hiburan yang dapat dinikmati suara dan iringan musiknya.

[Lihat Majalah Asy Syariah no. 07/I/1425 H/2004 pada artikel "Shalawat Nabi Antara Sunnah dan Bid'ah Bagian 2", hal. 34-35]

67 responses to “Hukum Menambah Lafadz “Sayyidina” dalam Shalawat Nabi

  1. orang kafir sudah sampai pada titik siapa diri kita untuk apa bertuhan, kita masih saja berkutat di sekitar syaidina, mau apa kaum ini.
    iman islam bagi kaum yg berfikir untuk mengerti akan hakikat diri
    semua juga belum tentu masuk surga dan neraka, tergantung alloh lah yg kuasa
    kita cuma menjalankan dan tak usah menyalahkan karena hal yg lalu belum tentu salah dan belum tentu benar (perawinya).
    ibarat semua aswaja kafir dimata syiah, pakah kita akan berperang ????????

    • Nggak nyambung pada topiknya….!
      Pembahasan ini masalah hukum melafadzkan Sayyidina (syar’i), ya dibahas masalah seputar itu saja! kalau masalah hakikat, surga, neraka, perang dll harus dibahas terpisah. Semua ada pembahasannya sendiri-sendiri, jangan dicampur adukkan!

    • lho mas,
      jadi semua yang yang kita lakukan harus ada dalilnya begitu, harus ada sabda atau paling tidak Rosulullah pernah menjalaninya begitu. Memang hukum punya siap, punya Rosulullah atau punya Allah?
      Contohnya begini, anda membuat Blog seperti ini apa ada dalilnya? Tidak ada, ya karena mempunyai kebebasan untuk melakukan ibadah (dalam arti umum) kepada Tuhannya, selama itu dapat dinilai baik, entah perbuatan itu Benar atau Salah, hanya Allah Yang Maha Benar, bukan kapasitas manusia bisa menilai suatu perbuatan itu benar atau salah, tapi yang bisa dilakukan manusia hanya menilai Baik dan Buruk, kalau dalam istilah jawa, punya tata krama atau tidak, punya unggah ungguh atau tidak, masa manggil Bupati aja pakai Pak, Bu, dll, masa kita manggil nabi sendiri yang notabene orang No.1 diantara semua manusia, kamu panggil namanya aja, kan jelak gak baik, gak sopan, adat istiadat dan unggah ungguh nya dimana?

      Maksud saya begini, Anda jangan menyalahkan orang yang menambahkan ucapan Sayyidina pada sholawat, karena itu diluar kapasitas anda, memangnya Anda ini siapa kok bisa menghukumi sesuatu? Padahal Yang Maha Menghukumi dan Yang Maha Adil adalah Allah SWT.

      Kafir tidak kafir, musyrik tidak musyrik, benar atau salah, bukan kapasitas manusia untuk mengetahui, yang bisa dilakukan adalah “Melihat kepada dirisendiri!” jangan hanya bisa melihat dan menyalahkan orang lain. Karena sesungguhnya, manusia paling bejat, paling dzalim, paling kafir, paling musyrik, dan paling buruk adalah kita sendiri, bukan orang lain.

      Itu saja pesan saya, tolong diperbaiki sebelum anda menganggap diri anda sebagai Tuhan karena bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Terimakasih

      • Saya rasa Anda benar, intinya…..kita tidaklah pantas menyebut junjungan kita hanya dgn nama saja, itu seolah2 beliau setara dgn ulama biasa

  2. menambahkan kata sayyidina itu di bolehkan karena dalam ayat alqur’an allah menganjurkan bershalawat kepada nabi dengan penuh penghormatan sesuai dengan ayat alqur’an …..” Sesungguhnya Allah dan Malaikat–Malaikat – Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab : 56)….itulah dalil kuatnya……apakah anda pernah memanggil nama orang tua anda dengan sebutan asli nama orang tua anda…pasti anda di cap sebagai anak yang tidak tau diri dan tidak sopan atau ngalunjak oleh orang tua anda. makanya umat islam perlu berwawasan luas jangan sempit demikian kajiannya ….trmksih

  3. jangan suka menyalahkan orang lain. pake sayidina atau gak pke sayidina gak masalah. yang gk boleh itu kalo gak pernah bersholawat. ayo kita tebarkn sholawat ke penjuru bumiii. allahumma sholli ‘ala sayidina wa nabiyina wa habibina wa rosullina MUHAMMAD SAWW.

    • Beramal tidak cuma bermodal semangat aja mas, tp harus pake ilmu. Ilmu dulu baru amal.. itu yg bener! Jadi, betapa pun segunung amalan dikerjakan tp di atas kebid’ahan, hasilnya ya sia-sia aja.. Makanya jgn antipati dulu sama nasehat yg datang.. Kalo emang baik, kenapa jg ditolak!!

      • SAmpean sendiri g berilmu bicara beramal itu tidak cuma modal semangat aj tpi pake Ilmu, Orang berilmu itu pasti pemikirannya luas, (ini udah rumus) tidak mudah menyalahkan orang lain. jika anda yaqin dengan pendapat anda sekarang beranikah anda menjamin yg tidak pakek sayyidina itu masuk surga atau lebih mulia, belajar lah dulu lah Lintas Madzhab, lintas aliran bahkan untuk menambah wawasan lintas agama, supaya gak mudah menyalahkan yg lain, saya rasa kebiasan suka menyalahkan orang lain itu tidak kelihatan berilmunya malah kelihatan bodoh, anda bilang ibadah dibungkus kebatilan, sama dengan anda ingin dakwah malah membawa madlorot, lawong sama aj kok menyalahkan, Ilmu letakkan di hatimu jangan di kepala, ilmu itu bermanfaat untuk diri sendiri dan diamalkan sendiri menurut keyaqinan bukan untuk menghujah kesana-kemari, sadarlah saudara kita ini sama2 belajar,

      • hahib Abdullah bin alwi alhadad, sejak umur 3 tahun ga lepas tahajud,beliau hidup lk 400 tahun yg lalu karangan kitabnya ratusan padahal tidak melihat,sampai sekarang kitabnya masih laris dipakai di pondok2 pesantren (saking berkahnya)kira2 pinteran dan barkah mana dengan “antum”makanya kalau ga bisa masak rendang(ump)beli aja diwarung padang(enak cepat murah ga beracun)ga usah repot2 ikut saja kebanyakan ulama2 terdahulu insya ALLAH kheir dunia aherat

      • Yg bener aja mas,,
        imam syafi’i menyunahkan lho
        Beda pendapat sdh ada dr dulu tp itu mnjadi rahmat.
        apakah mas lebih hebat ilmunya dr imam syafi’i?!
        berani mas mengatakan imam syafi’i ahli bid’ah?!

  4. Emang susah menasehati org. yg sudah bertahun2 mengamalkan ajaran yg sesat dan didukung oleh ulama yg mata pencariannya dari undangan maulidan & sholawatan yg gak jelas…

    • Gak usah nuduh orang lain sesat, gak usah menghujat orang lain, antum juga blm tentu benar nah klw antum merasa benar sendiri tidak mau menerima pendapat org lain berarti antum sedang melakukan kesombongan,.nah kesombongan itu adalah perilaku syaithon,..berarti antum sedang menjalankan perintah setan….maka sholatnya blm benar,..coba pelajari apa makna dan manfaatnya sholat.

  5. Paling aman n paling afdhol ya mengikuti apa yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam segala hal. Krn terjamin kebenaran n keberkahannya. Tidak perlu ditambahi ataupun dikurang, yg akhirnya memunculkan bid”ah dlm beragama.

  6. Apa apa yang telah di jelaskan dalam AL-Qur’an dan AL-Hadist kita sepakat. Namun dalam hal 4 madzab, Sahabat, ulama perlu kita ikuti, sebab beliau sudah disyahkan oleh Rosululloh. dalam hadistnya ; : ‘Al-ulama-u warosatun anbiya-i ” Ulama itu adalah pewaris Nabi, jadi ini sudah jelas kok. AL-Qur’an, Hadist, Qiyas, dan Ijma’ Ulama. Sudahlah jangan diperuncing dan dimasalahkan. Boleh pake boleh gak. terserah yang mau ngejalanin ajah.

  7. Benar apa yg pernah dikatakan Rasulullah, bahwa perang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu. termasuk hawa nafsu untuk mengada-adakan cara-cara ibadah baru yang TAK PERNAH diajarkan oleh Rasulullah dengan dalih menambah PAHALA, padahal urusan pahala HANYA Allah dan Rasul-Nya yang tau. Jika bid’ah dalam ibadah diperbolehkan, mengapakah Rasulullah dengan tegas bersabda “Tiap-tiap bid’ah adalah SESAT”????. Mengapa pula Allah berfirman, “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu…”???? Lantas apa guna “penambahan-penambahan” itu???? selain hanya untuk mengikuti hawa nafsu saja??? Siapa Tuhan kita? Siapa Nabi kita? Ulama adalah pewaris nabi-nabi, Ulama yang mana??? Ulama yang perpegang teguh pada “estafet” Nabi? Atau ulama yang…………?????? Akhirnya pelan tapi pasti merubah “wajah” asli Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW menjelma menjadi wajah Islam yang lain. Namanya tetap Islam, tapi wajahnya penuh dengan “make up” dan “make over”. Naudzubillaah….. Wallahu a’lam…

  8. Salafi memang punya kelainan
    Jika seseorang Menyebut Sayidina untuk Nabi Muhammad, di anggap bid’ah sesat masuk neraka.
    akan tetapi satu sisi salafi menyebut ulama’ulama’ mereka dg gelar: llamah, al-hafisd, al-‘alim. apakah sebutan itu ada dalilnya juga…?
    suka membid’ahkan orang lain akan tetapi mereka ahli bid’ah juga. kata salafi sendiri tdk ada dalil berarti bid’ah juga dong……/

  9. kalau ada orang yang suka mencuri namanya pencuri, kalau ada orang yang suka minum-minuman keras ya namanya peminum, kalau ada orang yang suka melaksanakan bid’ah ya namanya ahli bid’ah, apa lagi. definisi bid’ah sudah jelas. mau apa lagi?

  10. sungguh aneh….
    tugasnya orang islam itu sebenarnya mengislamkan orang kafir apa mangkafirkan orang islam??
    seharusnya hal seperti ini tidak usah diposting mas/mbak!!! kalau ada forum silahkan didiskusikan.
    apa kagak malu sama orang beragama lain yang baca, urusan rumah tangga tapi dibuka ke publik.

  11. Akan ditemukan dalam akhir zaman orang yang menjalankan agama sesuai Qur’an dan Hadits dianggap orang sesat…(al-hadits)
    sangat jelas sekali beibadah itu harus sesuai dengan tuntunan, ini masalah Ibadah, ibadah haram hukumnya jika dilakukan tanpa ada tuntunan Qur’an dan hadits

    • bid’ah itu adalah urusan ibadah khusus, seperti sholat, zakat, puasa, haji, kalau ibadah umum itu tidak ada bid’ah,
      jika semua perbuatan kita dianggap bid’ah, maka panjenengan mas Fadhl sekarang juga lagi BID’AH, lha wong Rosulullah Muhammad SAW dulu gak pernah buka internet kok…. gak pernah comment2 kaya njenengan kok,

  12. ANDAIKATA Rasulullah S.A.W sekarang berdiri dihadapan kita, MUNGKIN Beliau akan berkata “De ! jangan panggil aku Sayyid atau Tuan, yang berhak tuh Sayyid Abu Bakr, Sayyid Utsman, mereka pengusaha sukses. Cukup panggil aku Hamba Alllah”.

  13. apakah ada dalil nya yg menyebutkan kalo menggunakan kata sayyidina itu dilarang oleh rasullullah ? bila ada dalil nya saya setuju dengan anggapan bid’ah, tapi klo tidak ada dalil nya rasullullah pernah melarang nya saya tidak berani mengatakan bid’ah dan melarang orang lain untuk mengagungkan rosullulah dengan cara seperti itu, tolong digaris bawahi ya..”melarang” bukan “tidak mencontohkan” atau “tidak menganjurkan”

    • mereka menggunakan dalil :
      لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ
      “Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

      Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

      Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي
      akan tetapi seharusnya لا تسودوني (la tusawwiduuni).
      Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?

      • Nah ini br koment orq yg pk ilmu,

        Kalian blg smua bidah sesat, tp ulama kalian sndr blg bidah itu msh dpisah2..

        Dlm hdist nabi:
        أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها، وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة).
        Sesungguhnya Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rosyidin. Gigitlah sunnah itudengan geraham kalian (yakni; peganglah jangan sampai terlepas). Dan berhati-hatilahterhadap PERKARA YANG BARU, maka sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
        Syaikh Sholeh Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, hal: 639-640). Al-Utsaimin mengatakan, “Hukum asal dari perbuatan-perbuatan baru dalam urusan dunia adalah HALAL. Jadi bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu HALAL, kecuali ada dalil yang menunjukan akan keharamannya. Tetapi hukum asal dari perbuatan-perbuatan baru dalam urusan agama adalah DILARANG, jadi bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah HARAM dan BID’AH, kecuali adal dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkankeberlakuannya.”
        Melalui tulisannya yang lain Al-Utsaimin telah melanggar hukum yang dibuatnya sendiri dalam Al-Ibda’ fi Kamal Al-Syar’i wa Khathar Al-Ibtida’, hal 13. Dia mengatakan tentang hadits Nabi, ”(Semua bid’ah adalah sesat) adalah bersifat general, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitu kata-kata “kullu (seluruh)”. Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya ini tidak akan pernah benar.”
        Dalam pernyataannya diatas Al-Utsaimin menegaskan bahwa “SEMUA BID’AH adalah SESAT”, bersifat general, umum, dan menyeluruh terhadap seluruh bid’ah, tanpa terkecuali, sehingga tidak ada bid’ah yang disebut BID’AH HASANAH. Namun mengapa dalam pernyataannya yang pertama dia membagi bid’ah ada yang HALAL dan yang HARAM, juga ada bid’ah Dunia dan Bid’ah Agama, bukankah kullu di situ dikatakannya sebagai general (umum)? Beginilah LUCU-nya dan KONTRADIKTTIF-nya, bagaimana banyak orang tidak mampumelihat ironisme difinisi Al-Utsaimin ini?

        Lucu kan????

      • Berarti anda merasa lebih baik sholatnya dari pada para sahabat yang tidak mengucapkan sayyidina?

  14. Tidak Ada Yang Salah Dengan Penyebutan Sayyidina kpd rosulullah..
    namun yg jadi permasalahannya kata sayyidina itu di pakai dalam sholat kita..
    apa namanya kalo bkn bid’ah..??
    sia” sholat nya, krna bkn contoh dari rosulullah..

    jangan lah berfikiran taklid dan jumud, kaji ulang jika ada yang berkomentar dengan di perkuat dengan 2 hal (alquran & assunah)..
    apa lagi yang kita laksanakan tidak berdasarkan ilmu..

    trims..

    • Ada sebuah kisah wkt nabi sakit. Yang mengimami abu bakar tp suatu hari abu bakar melihat nabi ikut sholat dibelangnya seketika abi bakar kebbelakang Nabi tp Nabi tetap mengisyartkan agar abu bakar tp abu bakaar gak sampe hati tetap kebelakang akhirnya Nabi mengimami setelah selesai sholat ditanya knp wahai sahabtku?jwb abu bakar hamba tdk lebih mulia untuk menjadi imam Engkkau….
      Apa nabi marah?membidahkan?menyesatkan
      Pelajarane
      Adab bisa mengrukshohkan perintah syariat dan ini terjadi jaman Nabi dan Nabi tdk Mrh tdk membidhakan menyesatkan mengkafirkan
      Lafadz sayidina demi adab kepada Nabi yg lebih mulia dr imam tabiin dan sahabt ulama ulama dan syekh syekh….
      Jika datang sebuah hujah ikutilah hujah itu tinggalkan pendapat kalian..itu qoidah fikh.nek ra glm berarti taqlid buta dan itu bidah dholalah fin nar….
      Pemakain ra dibelakang syekh bidah ustadz jg bidah tuh mengganti naama juga bidah cukur prontos bidah isbal tp tetep sombong tetep bidah jenggotan g murah senyum ittiba abu jahal wong abu jahal yo jeenggoten.

      • Ini ngomong apa sih, nglantur! Contoh tsb sama sekali berbeda, ini masalah sunnah yang dijalankan oleh para sahabat. Emangnya anda berpikir bahwa anda lebih beradab, lebih sopan, lebih hormat kepada Nabi saw daripada para sahabat yang gak pernah pake kata sayyidina?

  15. Udah gg asing lagi, dr dulu tduhnnya bidah mulu…
    Kalian bilang anty taqlid, tp mati2an mndukung pndapat nya olamak wahaby…duh…cp deh

  16. Saya mohon izin untuk mengkopi dan berbagi di album facebook saya, , semoga menjadi ladang pahala untuk antum dan siapapun yang berbagi dan mengamalkanya, , aamiin

    • Semoga yang berdebat masuk Neraka, Masalah agama tidak boleh diperdebatkan…
      Keyakinan itu dari hati, dan Allah menghendaki hati siapa saja yang akan disentuh-Nya

      • Keyakinan memang dari hati, tapi keyakinan juga harus berdasar ilmu, sedangkan ilmu yang hakiki yang patut dipegang teguh adalah Al Qur’an dan Sunnah. Jadi, selama perdebatan ini menambah ilmu hakiki kita ya malah bagus toh, asal tidak saling menyombongkan diri dan tidak saling menghujat, harus sama-sama membuka hati dan pikiran untuk mau menerima kebenaran. Jangan memperturutkan hawa nafsu. Yang satu pingin menghujat yang lain menolak kebenaran, ya sama-sama berdosa karena keluar dari tujuan mencari/berbagi ilmu.

  17. Yuk bidah bidahan
    Semua yang baca quran berbentuk mushaf sekarang ini adalah bidah….apalagi ada harokatnya MBAHNYA bidah..
    Yg menanyakan rowi sanad adlah bidah jaman nabi sahabt g ada tuh.
    Yang hanya salam dan salaman sesama golongan e thok bidah
    Yang tdk pernah tersenyum pd sesama adl bidah
    Menuntut ilmu tanpa sanad adl bidah
    Pake celana pjg bidah dlm hadist nabi pake sarung
    Kajian hanya kitab ibnu taymniah dan segolongnanya adl bidah
    Kajian pke speaker mix biangnya. Bidah
    Yg menyesatkan dan mengkafirkan sesama muslim adl bidah
    Yang rumongso bener dewe adl bidah
    Yg rumongso plg betul adl bidah
    Belajar lewat internet bidah
    Ngaji pake terjemah bhs indonesia bidah
    Selain anshor muhajirin adl bidah NU MUH LDII MTA SALAFI WAHABi adl bidah
    apa mereka pernah ketemu Nabi atau sahabt Nabi kok sok tau taunya kehidupan Nabi?pa mereka tau tiap detik apa yang dikatakan Nabi?hadewwwhh sing bidah sopo sing ora endi
    Dari sekian tahun hidup Nabi ada hadist hadist yang ilang … Bahkan mungkin nabi juga ada qoul qodiM dan jadid kita tdk tau…
    Hanya berpegang pada muh wahab,albani binnn bazz,ustaimin,sholeh,ibnu taymiah bidaaaaaah terbesar ada hadith nabi unthur ma qola walka tandzut man qola
    Apa beliu beliu lebih pintar dari tabiin ibnu hajar?dari bukhori?muslim?
    Udahlah penting islam
    Mbok ya raja saudi ditegur make nama kebesaran Al jalalah aku arep manggil ibnu tay miay dangn hae ibnu tay kesini makan barg..dah makann blm kamu albani?Ingat MUHAMAD adl sayid ibnu adam. Nek wani didepan paspampres manggil sby den susilo…po. Manggil ustad ustad kalian yg bernama abu… Dgn kalo mslah agama pendapat abu pie?

  18. Hadewh do bidah bidahan ya?
    Ikut ya…
    Al jidalu bidah ingat ya…al jidalu bidah..
    Skrng okelah kullu bidah dholal smp akhir tp lihat konteks hadithnya lkp jgn dipitong disgitu saja…
    Dalam al quran ada tuh ayat begini “Jgn jadikan panggilan Rosul seperti kmu memangil diantara kmu sekalian”
    Berarti sahabt umar bidah dong dlm menjamaahkan taraweh…
    Saabt ustman menumpulkan jd mushaf juga ya?
    Nabi itu solat pake baju mamah ,riwayat sarung kok pke celana bida g kira2?
    Sawu sawwu rapatkan shof bukan meregangkan kaki..bidah g?
    Ada yg bc doa iftitah dlm hadist tahrij Kabiroo smp akhir nabi g ajarkan tp atas inisiatif ahabt Nabi mengatakan 30malaikt mencatat amalnya harusnya nek g bl nabi mnegur hae ente bidah dsb.
    Yg saling membidahkan bidah.
    Tlg hadit nya dibaca yg lengkap ya saudaraku

  19. sssalamualaikum.
    kut comnt.

    solat ada caranya, zakat, puasa, smua ada caranya.
    memuji Allah, bersholawat, salam.
    beramal dsb. dah di contohkan rasulullah.

    jangan berlari dari alquran dan sunnah.
    nanti kayak org sebelah (yahudi nasarah), mengada2 dalam urusan agama.

    jaminan dari Allah siapa aja yg berpegang pada alquran dan sunnah pasti selamat, tidak akan tersesat.

    semua dah di kasi tau nabi lah.
    melangkah, makan, melihat, tidur, mulut, lida, hidung, jenggot. semuanyaa.

    tinggal ikut.

    bekerja juga. cari jodoh, aahh. smuanyalah.

    orang yg tau “dengar dan ikuti”.

    itu kalo mau mengikuti rasullah.

    tuntunannya alquran sunnah alquran sunnah alquran sunnah.

  20. Antum tu tolol antum gak sadar mlakukan hal bidah yg mungkarah…..napa alquran lo baca sdng dulu al quran gak ada harokat tajwid dan titiknya…mikir

    • biasanya orang yang ngatain orang lain tolol, dia tuh tidak lebih pintar dari yang dikatain, kalau tidak lebih pintar berarti lebih tolol dong?!

  21. Beliau menjawab: “Ya, mengikuti lafadz yang telah ma’tsur (ada riwayatnya) itu lebih rajih (kuat). Dan janganlah berkata: ‘Jangan-jangan Rasulullah meninggalkan itu karena sikap tawadhu beliau sebagaimana beliau tidak pernah menyebut dirinya dengan tambahan ‘shallallahu ‘alaihi wasallam’, sementara umatnya dianjurkan mengucapkan hal ini setiap (nama) beliau disebutkan’.

    Karena itu kita katakan: ‘Jika sekiranya (penyebutan sayyidina) itu lebih rajih, tentunya ada (riwayat) dari para shahabat kemudian dari tabi’in. Dan kita belum mendapati satupun riwayat dari salah seorang shahaba. Dan tidak pula para tabi’in mengucapkan hal itu dari sekian banyak riwayat mereka dalam hal ini.’ Inilah Al-Imam Asy-Syafi’i -semoga Allah meninggikan derajatnya, dan beliau termasuk orang yang paling banyak dalam mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau berkata dalam pembukaan kitabnya yang merupakan sandaran kitab para pengikut madzhabnya: “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad”, dan seterusnya.

    Coba kita cek lafadz shalawat dalam kitab-kitab berikut :
    Al-Umm, Al-Maj’mu, Al-Adazkar, Al-Ihya, Fathul Mu’in.
    Ternyata semuanya tdk memakai kata SAYYIDINA.

  22. kembali lagi pada niat hati kita….jika niatnya untuk menghormati beliau Sallallahu’alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul, meskipun dalam salat,,,insya Allah ada nilai tersendiri di mata Allah SWT,,,yang benar dan salah hanya Allah yang mengetahuinya…tapi jika niatnya untuk mengkultuskan beliau Sallallahu’alaihi wasallam itu yang dirasa kurang tepat….bukankah masalah khilafiyah yang benar mendapat pahala 2 kali lebih baik dari yang kurang benar….tidak ada yang dapat dosa toch…yang dosa yang ndak solat…..hadist yang sampai pada kita bisa ada kemungkinan sudah dimodifikasi…lain halnya dengan alqur’an yang terjamin keasliannya….oleh karena itu kembalikan pada niat kita..yang menggunakan kata “Sayyidina” untuk menghormati silahkan saja…yang tidak menggunakannya asal jangan menganggap nabi seperti nama Muhammad lainnya ya silahkan….yang penting tetap menggunakan salawat dalam solat, berdoa, dan diperbanyak sebagai zikir pada pagi dan petang…semoga kita mendapatkan syafaat Nabi kita……..Amiiin.

  23. ada baiknya saya tambahkan hadist ini ya sebagai bahan pemikiran bersama untuk tidak saling menyalahkan….Sabda Beliau saw : “janganlah kalian berkata : beri makan Rabb mu, wudhu kan Rabb mu (Rabb juga bermakna pemilik, ucapan ini adalah antara budak dan tuannya dimasa jahiliyah), tapi ucapkanlah (pada tuan kalian) Sayyidy dan Maulay (tuanku dan Junjunganku), dan jangan pula kalian (para pemilik budak) berkata pada mereka : wahai Hambaku, tapi ucapkanlah : wahai anak, wahai pembantu” (shahih Bukhari hadits no.2414) hadits semakna dalam Shahih Muslim hadits no.2249.
    maka bagi yang menggunakan Sayyidina dengan maksud menghormati beliau sebagai nabi adalah lebih afdhal……makasih, dengan maksud tidak menyalahkan yang tidak mau menggunakannya………”sesungguhnya Allah melihat dari hatimu”…

  24. sdh jelas didalam hadist bukhori dan muslim jg mas ko masih saja membantah alias ngeyel,didalam ibadah itu jgn ditambah dan jangan dikurang barang siapa yg menambah dan barang siapa yg mengurangi sunahku maka engkau bukan umatku trs yg menambah atau yg mengurangi itu umatnya siapa umat firaun

    • Begitu mudahnya anda mengkafirkan ahli kiblat,,apakah anda punya jaminan masuk surga?!
      Apa itu iman,islam,ihsan??siapa org kafir itu?!siapa umat fir’aun?!
      Dimana letak zuhudmu,tawadhumu,sabarmu,iklasmu,?
      Allah tdk memandang perkataanmu tp apa yg ada di dalam dadamu,,,sudah sucikah dia?

  25. hadeeuh pada ribut gini..mau pake sayidina atawa gak insya ALLOH diterima..yang begini nih bikin islam pecah..untuk yang memuat artikel ini seharusnya memberikan dalil-dalil yang boleh ini dalilnya yang tidak ini dalilnya bukan malah membenarkan atau menyalahkan..berikan wawasan dengan niat yang baik,.duuhh..akibat’a pada salilng menghujat deh..tanggung jawab antum semua di hadapan ALLOH..Inget barang siapa sesama muslim saling membenci ibadahnya tidak akan diterima sebelum saling berdamai

  26. kalau kita membaca syair diba’ misalnya “Ya Rabbi shalli ‘ala Muhammad, Ya Rabbi shalli ‘alaihi wa sallim” (يا رب صل على محمد * يا رب صل عليه وسلم), dalam syair yang panjang dan berulang-ulang itu, para jamaah diba’ juga tidak menambah kata “sayyidina”. Sebab, kalau ditambah “sayyidina”, kaidah qofiyah atau not syairnya bisa berubah dan tidak indah lagi. Lalu, apakah para jamaah diba’ itu juga sampeyan klaim sebagai kelompok Muhammadiyah atau kelompok lain yang tidak membolehkan ucapan “sayyida” atau “sayyidina”?

    Ternyata, hadis yang biasa dikutip dan dijadikan dasar pelarangan “sayyidina” itu dalam shalat maupun shalawat adalah hadis “Laa tusayyiduuni fis sholat” (لا تسيدوني في الصلاة). Artinya, “Jangan kalian mengucapkan sayyidina kepadaku di dalam shalat”.

    Bila hadis di atas dianalisis secara bahasa, dalam kajian morfologis (ilmu sharaf), kata “sayyid” berasal dari “saywidah (سيودة)”, lalu huruf “wawu” pada kata itu ditukar ke huruf “ya” sehingga ada 2 huruf ya’ yang berjejer (سييودة). Karena itu, lalu kedua huruf ya’ itu diidghamkan (digabung). Akhirnya, menjadi kata “sayyid” (سيد). Oleh karena itu, yang benar seharusnya “laa tusawwiduuni (لا تسودوني)” bukan “tusayyiduni (لا تسيدوني)” sebab kata (سيودة) inilah yang merupakan akar kata dari “sayyid”.

    Intinya, redaksi hadis “La tusayyiduuni (لا تسودوني)” itu sudah tidak tepat secara morfologis. Dengan kata lain, tidak mungkin Nabi Muhammad salah memilih kata, apalagi statemen itu terkait dengan hukum yang harus dituangkan dalam redaksi kalimat yang jelas, ringkas dan tidak boleh salah

  27. Bismillahirrahmanirrahim

    Jika hendak meraih dunia, ilmu.. Jika hendak meraih akhirat, ilmu.. Jika hendak meraih keduanya, ilmu..

    Bukankah Nabiyullah Muhammad SAW telah mengingatkan bahwa di akhir zaman, Islam bakal terpecah-pecah menjadi 72 golongan? Dan hanya ada satu golongan yang akan (langsung) masuk surga.. Yaitu AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.. Golongan yang senantiasa mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW..

    Berdasarkan hadist-hadist yang pernah saya baca (maaf saya menggunakan HP jd agak susah jika menuliskan hadist tersebut di sini), Muhammad SAW memperbolehkan memanggil beliau menggunakan kata Sayyidina asalkan jangan sampai berlebihan hingga seolah-olah menuhankan beliau.. Na’udzubillah..

    Sedangkan untuk Solawat Nabi, saat beliau ditanya sahabat tentang cara bersolawat, beliau menjawab tanpa menggunakan kata Sayyidina.. Begitu pula contoh Solawat pada saat Sholat, tanpa menggunakan kata Sayyidina..

    Jadi jika disimpulkan bahwa dalam menyebut nama beliau, boleh menyebut Sayyidina Muhammad.. Namun dalam bersolawat, cukup dengan Muhammad..

    Bukankah kita dianjurkan untuk meninggikan beliau? Sungguh bahwa seluruh umat Islam sangat menjunjung tinggi beliau, mencintai dan merindukannya..

    Allahumma Shali ‘ala Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam

    Wallahu a’lam bish-shawwab

  28. Cobalah menghayati bukan saling pintar nya sendiri mengenai bidah justru salafushalih sudah memisahkan termasuk lah imam malik imam syafii dll yang sekarang berantem kan pendapat ulama generasi sekarang sekelas ustaimin, bin baz dll …. cobalah mengerti selagi pendapat … biarlah berbeda asal jangan menjadi haram karena bermusuhan … lihat hati kita nanti dihadapan Allah

  29. kang-kang masalah khilafiah kok didebatno,… sampe zaman akher yo ra bar2,… ulama2 dulu udah membahas ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak,.. sekarang kembali ke pada keyakinan masing masing … semoga mlebu suargo kabeh amiin…

  30. Ya Allah semoga orang-orang yang menganggap dirinya paling benar, merasa telah suci, merasa tidak kafir, merasa tidak medzolimi sesama, merasa yang dilakukan umat lainnya yang berbeda dengan apa yang dia lakukan itu salah, Engkau pendekkanlah umurnya ya Allah… Karena sesungguhnya, umur yang pendek itu lebih baik daripada umur panjang yang diisi dengan pertengkaran dan kerusakan. Musuh kami sekarang bukan dari umat Yahudi, bukan dari umat Nasrani, bukan dari umat Hindu, dan bukan dari umat Budha, tetapi musuh kami adalah umat Islam itu sendiri, yang telah “membeli kesesatan dengan petunjuk-Mu” (baca Surat Al Baqarah : 8 – 20)
    Karena sesungguhnya umat Islam yang sejati adalah seorang umat yang memberikan rasa aman kepada umat islam lainnya, umat-umat agama lain, dan seluruh makhluk pengisi alam semesta ini. Hanya Engkau yang Maha Benar ya Allah,

    Untuk semua, tidak terkecuali para commenter2 di atas, yang merasa pendiriannya benar, “ORANG YANG MERASA SALAH WALAUPUN SEJATINYA SALAH, LEBIH BAIK DARIPADA ORANG YANG MERASA BENAR WALAUPUN MEMANG SEBENARNYA BENAR, APALAGI YANG MERASA BENAR PADAHAL DIA SALAH?” Karena sesungguhnya yang mempunyai KEBENARAN itu bukan Manusia anda-anda semua, yang kita tahu hanyalah 0,00000….1% dari KEBENARAN yang sebenar-benarnya, hanya Allah Yang Maha Benar. Berarti kalau kita merasa benar, kita Allah dong? Memangnya kamu siapa? Dia siapa? Kita siapa? Kita semua tidak punya Hak untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah! Jika kalian, atau guru kalian, atau ustadz kalian, atau ukhti kalian, atau alim ulama kalian, merasa mempunyai Hak untuk menentukan yang benar, berarti yang demikian merasa dirinya adalah Allah, dan itu lebih buruk dari perbuatan MUSYRIK itu sendiri (ingatlah kisah Fir’aun). Naudzubillah…

  31. GITU AJA KO REPOT INGAT PESEN DARI SESEPUH KITA JANGAN SENANG MENGKAFIRKAN ORANG LAIN SEDANGKAN KAFIR DALAM DIRI SENDIRI TA PERNAH DIPERHATIKAN MAKANYA JANGAN MERASA BENAR HIDUP INI SEMUA MILIK ALLAH SWT

  32. Saya sepaham dengan tidak memakai saiyidinah karena nggak acuannya, tapi saya bukan menyalahkan ,dasarnya kalau ada yang jelas yaa untuk apa yang samar samar,makasih

  33. Ass. Wr. Wb.
    Adanya perbedaan dalam Islam, sebenarnya tidak perlu dipertajam. Sebab dengan memperuncing perbedaan itu tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi ketidak samaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ? Hanya semoga saja jika pengomporan dari dalam, hal itu bukan kesengajaan. Kalau tidak, akhirnya perpecahan yang terjadi.
    Apabila perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar. Sungguh berat memang.
    Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %.
    Terhadap angka itu Anda ikut berperan, dan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
    Wass. Wr. Wb.
    hmjn wan@gmail.com

  34. Yang baik dan pas allahumma sholli a’la sayyidina wa maulana wahabibana wasyafi’ina wa zuhkriina wa qurratu a’yunina wa maulana ……..masih ribuan lagi ……MUHAMMADIN

  35. asalamualaikum, ingat sabda rasul wahay muslimin, ” jikalau kalian ragu dengan semua ini, kembalilah ke alqur’an dan sunnah ku’ itu ucapan yg keluar dari mulut rasullullah, wahai muslimin. sekarang kita tergantung keyakinan mu masing2, percaya mana, ulama, dan lain2, atau percaya ama alqur’an dan sunnah rasul. itu aja cukup kok :)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s