Hukum Menangis ketika Membaca Al-Qur’an

Menangis merupakan sesuatu yang biasa terjadi pada setiap orang. Namun menangis dengan sebab mendengar atau membaca ayat Al-Qur’am tentu merupakan peristiwa yang tidak terjadi pada setiap orang. Hanya orang-orang yang beriman yang mampu meresapi makna ayat-ayat Al-Qur’an dan memahami kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa menetes air matanya saat membaca atau mendengar bacaan Al-Qur’an. Hal ini menunjukkan pula kelembutan hatinya. Sesungguhnya lunaknya hati dan cucuran air mata di saat membaca Al-Qur’an adalah ciri-ciri kaum salaf radhiyallahu ‘anhum.

Keutamaan Menangis Di Saat Membaca Al-Qur’an

Menangis di saat berdzikir dan membaca Al-Qur’an adalah sifat dari orang-orang yang arif dan syiar hamba-hamba Allah yang shalih. Sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami;
sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra': 107-109)

Imam Al-Qurthubi berkata tentang firman Allah Azza wa Jalla:

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”

“Dalam hal ini Allah berlebihan dalam mensifati mereka sekaligus pujian buat mereka dan merupakan hal yang wajar bagi setiap muslim yang memiliki ilmu atau sedikit dari ilmu untuk menggapai kedudukan semacam ini, merasa khusyuk, tunduk dan merendah diri ketika mendengar bacaan Al-Qur’an. Lalu beliau berkata bahwa ayat ini sebagai dalil akan bolehnya menangis dalam shalat yang timbul dari perasaan takut kepada Allah atau terhadap perbuatan maksiatnya dalam agama ini. Dan yang demikian itu tidaklah membatalkan atau mengurangi kesempurnaan shalat.” [1]

Abdul-‘Ala At-Taimi [2] berkata: “Barangsiapa yang memiliki ilmu dan tidak bisa membuatnya menangis maka patut dikatakan ia telah mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat baginya.” Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan tentang sifat dari ahlul ilmu dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami;
sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra': 107-109)

Sesungguhnya apa yang didapati oleh seseorang dari perasaan gemetar pada hatinya, air mata menetes dan tubuh yang merinding di saat mendengar ayat-ayat Allah atau dzikir yang masyru’ (disyariatkan) maka ini adalah seutama-utama keadaan yang telah disebutkan dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. [3] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Az-Zumar: 23)

Dan Allah berfirman:

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Imam Al-Qurthubi berkata: Di dalam ayat ini terdapat bukti yang kuat bahwa ayat-ayat Allah punya pengaruh terhadap hati. [4]

Arti dan Macam-macam Menangis

Ar-Raghib berkata: ‘bakaa yabkii’ bukan dengan mad (memanjangkan bacaannya) berarti air mata yang menetes karena perasaan sedih dan meratapi.

Ibnul Qoyyim berkata: Menangis itu ada beberapa macam:

- Menangis sebagai curahan kasih sayang dan belas kasig.

- Menangis yang timbul dari perasaan takut dan khasyyah.

- Menangis karena perasaan cinta dan rindu.

- Menangis sebagai luapan rasa bahagia dan senang.

- Menangis lantaran keluh kesah terhadap perkara yang menyakitkan hati lalu tidak mampu menanggung beban tersebut.

- Menangis yang timbul lantaran perasaan sedih.

Perbedaan antara tangisan yang timbul lantaran perasaan sedih dengan tangisan yang timbul dari perasaan takut adalah bahwa tangisan yang ditimbulkan oleh perasaan sedih disebabkan oleh kejadian yang sudah lewat, sedangkan tangisan yang ditimbulkan oleh perasaan takut disebabkan oleh kekhawatiran terhadap sesuatu yang akan datang. Sedangkan tangis yang timbul dari luapan rasa bahagia dan tangisan yang timbul dari perasaan sedih, bahwa air mata dari luapan rasa senang terasa dingin dan hati terasa bahagia sedangkan air mata yang timbul dari kesedihan terasa hangat sedang hatipun terasa sedih.

- Menangis lantaran lemah dan ketidakberdayaan.

- Menangis yang timbul dari sifat nifaq, mata menangis namun hatinya membatu, pelakunya menampakkan kekhusyukan padahal sebenarnya ia adalah manusia yang paling keras hatinya.

- Menangis yang disewakan dan diperdagangkan, seperti tangisan orang-orang yang disewa untuk meratapi.

- Menangis yang timbul secara kebetulan seperti seseorang melihat manusia menangis karena sebab sesuatu lalu ia turut menangis pula bersama mereka dalam keadaan ia tidak mengerti sebab apa mereka menangis. Akan tetapi ketika ia melihat mereka menangis lalu ia hanyut menangis.

Jenis Menangis Pura-pura

Tangisan yang dilakukan dengan memberat-beratkan diri maka yang demikian itu dinamakan berpura-pura menangis, hal ini ada dua macam:

1. Berpura-pura menangis yang memiliki nilai terpuji.

2. Berpura-pura menangis yang memiliki nilai tercela.

Adapun berpura-pura menangis yang terpuji adalah yang bisa
mendatangkan kelunakan hati dan perasaan takut kepada Allah serta tidak membawa kepada perbuatan riya’ ataupun sum’ah. Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ia melihat beliau dan Abu Bakar menangis akan keadaan tawanan perang Badr: “Beritakan kepadaku, apa yang membuat engkau menangis wahai Rasulullah? Kalau memang aku mendapati hal itu membuatnya menangis maka aku akan menangis dan jika tidak maka aku akan berpura-pura menangis karena tangisan engkau berdua.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari perbuatan tersebut, demikian juga ada sebagian salaf mengatakan: “Menangislah kalian dari rasa takut kepada Allah, kalau kalian tidak bisa menangis maka berpura-puralah kalian menangis!”

Adapun bagian kedua yaitu berpura-pura menangis yang tercela: adalah yang diperbuat untuk mendapatkan pujian dari makhluk, maka sering kali kita mendengar dan melihat orang yang berpura-pura menangis untuk tujuan materi belaka atau semata-mata ingin dilihat atau didengar. [5]

Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Menangis

Tangis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serupa dengan tertawanya, tidak tersedu-sedu dan tidak berteriak-teriak seperti halnya tertawanya beliau tidaklah terbahak-bahak namun kedua matanya berlinang hingga meneteskan air mata, terdengar pada dada beliau desis nafasnya.

Terkadang tangisan beliau sebagai bentuk ungkapan kasih sayang terhadap orang yang meninggal atau pula sebagai ungkapan rasa kekhawatiran dan belas kasih terhadap umatnya dan kadang karena rasa takut kepada Allah atau ketika mendengar Al-Qur’an. Yang seperti itu adalah tangisan yang timbul dari rasa rindu, cinta dan pengagungan bercampur rasa takut kepada Allah. [6]

Abdullah bin Mas’ud menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacakan (Al-Qur’an) untukku.” Lalu aku katakan: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku baca untuk engkau padahal Al-Qur’an turun kepadamu?” Beliau berkata: “Ya, sesungguhnya saya ingin mendengarkannya dari selainku.”

Lalu aku baca surat An-Nisa’ hingga sampai ayat:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami
mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai) umatmu.”

Beliau lantas berkata: “Ya cukup.” Tiba-tiba air matata beliau menetes.

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menangis ketika menyaksikan salah satu cucunya yang nafasnya sudah mulai terputus-putur dan ketika putra beliau Ibrahim meninggal, air mata beliau menetes karena belas kasih beliau kepadanya. Beliau juga menangis ketika meninggalnya Utsman bin Madh’un, beliau menangis ketika terjadi gerhana matahari lantas beliau shalat gerhana dan beliau menangis dalam shalatnya, kadang pula beliau menangis di saat menunaikan shalat malam.

Diriwayatkan dari Tsabit Al-Bunaniy dari Muthorrif dari bapaknya berkata: Saya menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang beliau dalam keadaan shalat, terdengar dalam perut beliau Al-Aziz (seperti suara air yang mendidih dalam mirjal yaitu bejana) maksudnya beliau sedang menangis. [7]

Al-Aziz adalah rintihan dalam perut dalam arti lain suara tangis. Al-Mirjal dengan dikasroh mim-nya adalah bejana yang difungsikan untuk mendidihkan air yang terbuat dari besi, kuningan atau batu. Disebutkan dalam Al-Fath Ar-Rabbaniy: Makna ucapan tersebut adalah bahwa isi perut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendidih dari sebab beliau menangis dari rasa takut kepada Allah. [8]

Terdapat dalam suatu riwayat bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan: Beberapa surat telah membuatku beruban seperti surat Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalaat, Amma Yatasa’alun dan surat Idzasy-Syamsu Kuwwirat. [9] Adalah bacaannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa membelah hati seseorang sebagaimana tertera dalam Ash-Shahihain dari Jubair bin Muth’im, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat Ath-Thur dalam shalat maghrib, tidaklah aku mendengar suara yang paling bagus dari beliau. Dalam sebagian riwayat lain: Maka tatkala aku mendengar beliau membaca:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri?”

Lantas ia mengatakan: Hampir saja jantungku terbang.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah: Ketika Jubair mendengar ayat tersebut ia masih musyrik menganut ajaran kaumnya, ia datang di saat terjadinya penebusan tawanan perang setelah perang badar. Maka cukuplah bagi kamu dengan orang yang bacaannya punya pengaruh terhadap orang yang getol kepada kekafirannya dan itulah yang menjadi sebab ia mendapatkan hidayah, oleh karena itu, sebaik-baik bacaan adalah yang muncul dari kekhusyukan hati. Thawus berkata: Manusia yang paling bagus suaranya dalam membaca Al-Qur’an adalah yang mereka paling takut kepada Allah.

Jatuh Pingsan dan Berteriak Ketika Mendengar Ayat Al-Qur’an

Dalam hal ini sebagian ulama mengingkari masalah berteriak dan pingsan ketika mendengar ayat Al-Qur’an. Disebutkan oleh Al-Qurthubiy tentang tafsir firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.” (Az-Zumar: 23)

Bahwasanya Ibnu Umar melewati salah seorang dari Ahlul Qur’an dalam keadaan tersungkur, lalu beliau berkata: “Ada apa gerangan dengan orang ini?” Orang-orang menjawab: “Tadi dibacakan kepadanya Al-Qur’an dan ia mendengar nama Allah disebut lalu ia tersungkur.” Lantas Ibnu Umar menyangkal: “Sesungguhnya kita juga memiliki rasa takut kepada Allah namun kita tidak jatuh tersungkur. Sesungguhnya syaithan merasuk dalam perut salah seorang di antara kalian, padahal tidaklah demikian perbuatan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” tandas beliau.

Berkata Imam An-Nawawiy: Ahmad bin Abi Hawariy, beliau adalah kebanggaan penduduk Syam sebagaimana pernyataan Abul-Qasim bin Junaid rahimahullah, bila dibacakan kepadanya Al-Qur’an beliau berteriak dan jatuh pingsan.

Sementara Ibnu Abi Dawud mengatakan: Perbuatan Abul-Hawari telah diingkari oleh Al-Qasim bin Utsman Al-Jauni, Abul-Jauza’, Qais bin Jubair dan yang lainnya. Aku katakan (Imam An-Nawawi): Yang benar adalah tidak sepantasnya perbuatan ini diingkari terkecuali bagi orang-orang yang diketahui ia berlagak dengan hal tersebut.

Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya apa yang didapati di saat mendengar dan berdzikir dengan dzikir yang masyru’ dari perasaan gemetar, air mata yang menetes dan jasad yang merinding maka ini adalah seutama-utama keadaan yang telah disinggung oleh Al-Kitab dan As-Sunnah. Sedangkan kegoncangan yang sangat hingga membawa pingsan dan kematian serta teriakan yang histeris maka yang demikian ini tidaklah pelakunya tercela kalau seandainya memang di luar
kesadarannya. Sebagaimana hal ini terjadi pada tabi’in dan orang-orang yang setelahnya. Hal itu bersumber dari kuatnya dorongan yang masuk kepada hati seiring dengan keadaan lemah dan kuatnya hati tersebut. Namun sikap tegar itu lebih utama karena yang seperti inilah keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya.”

Beliau juga menambahkan: “Menurut pandangan jumhur ulama bahwasanya salah seorang dari mereka apabila dikuasai oleh perasaan demikian maka hal ini tidaklah diingkari walaupun sikap tegar itu jelas lebih sempurna. Oleh karenanya ketika Al-Imam Ahmad ditanya tentang hal yang demikian ini beliau menjawab: Telah dibaca Al-Qur’an di hadapan Yahya bin Said Al-Qaththan lalu beliau jatuh tidak sadarkan diri, dan kalaulah ada orang yang mampu menahan dirinya dari hal ini sudah barang tentu Yahya bin Said akan menahannya sementara aku tidak melihat orang yang lebih berakal dari dia.”

Berkata Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin: “Teriakan-teriakan yang kadang terdengar dari sebagian manusia dan nampaknya muncul bukan atas sekehendak mereka, dalam hal ini para ulama berkata: Sesungguhnya manusia itu apabila menangis karena perasaan takut kepada Allah maka shalatnya tidaklah batal walaupun terpisah dan bacaannya dua huruf atau lebih karena tidaklah mungkin manusia itu dalam hal ini melakukan dengan sesuka hati dan tidak mungkin pula kita katakan kepada manusia: ‘Jangan engkau menangis dan jangan khusyuk dalam shalatmu’.”

Allahu a’lam dan mudah-mudahan shalawat dari Allah tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Fatwa Seputar Menangis dan Pura-pura Menangis

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya: Tentang teriakan suara dari orang-orang yang menangis.

Beliau menjawab: Sering sekali saya menasehati orang-orang yang menelpon saya agar menjauhi perbuatan yang semacam ini dan hal ini tidak boleh dilakukan karena mengganggu orang lain, memberat-beratkan diri mereka serta mengganggu ketenangan orang-orang yang sedang shalat dan membaca Al-Qur’an. Yang sebaiknya dilakukan oleh orang mukmin adalah berupaya agar jangan sampai tangisnya itu terdengar dan hendaknya berhati-hati dari perbuatan riya’ karena syaithan kadang menyeretnya kepada perbuatan riya’.

Sebaiknya ia tidak menyakiti dan mengganggu yang lainnya dengan suaranya, namun, ada sebagian manusia yang mengalami hal yang demikian ini di luar kehendaknya, dikuasai oleh keadaan seperti ini tanpa ia sengaja maka yang seperti ini dimaafkan apabila terjadi tanpa dengan sekehendaknya.

Telah tetap dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya apabila beliau membaca Al-Qur’an maka terdengar di dalam dada beliau seperti suara air mendidih di dalam bejana dari sebab tangisnya. Demikian juga tentang kisah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau apabila membaca Al-Qur’an hampir tidak bisa didengar oleh manusia karena tangisnya, sama halnya dengan Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya terdengar dari belakang shaf isak tangisnya dan ini semua bukan berarti beliau menyengaja menarik suara keras dengan tangis tersebut akan tetapi keadaan tersebut telah menguasainya karena perasaan takutnya kepada Allah Azza wa Jalla. Bilamana dikuasai oleh keadaan oleh keadaan seperti tadi tanpa disengaja maka tidak mengapa baginya.

Beliau juga ditanya -semoga Allah membalas semua kebaikannya- tentang hukum bagi seorang imam yang mengulang-ulang bacaan ayat rahmat dan adzab?

Beliau menjawab: Saya melihat hal ini tidak mengapa dalam rangka mengajak manusia untuk merenungi, khusyu’ dan mengambil faidah darinya. Di dalam suatu riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau berulang kali mengulang firman-Nya yang berbunyi:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka
sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Maidah: 118)

Walhasil dalam masalah ini, apabila untuk tujuan yang positif (baik), bukan untuk riya’ maka tidaklah hal ini terlarang. Namun apabila ia melihat bahwasanya dengan mengulang berkali-kali membuat mereka gelisah serta menimbulkan suara yang menggelisahkan karena sebab tangisnya maka meninggalkan perkara ini jelas lebih utama sehingga tidak menimbulkan gangguan dan kalau seandainya dengan mengulang-ulang itu tidak menimbuljan kecuali rasa khusyu’, merenungkan dan semangat menjalani shalat maka semuanya adalah baik.

Beliau ditanya tentang pengulangan ayat-ayat yang mengandung sifat-sifat Allah?

Beliau menjawab: Saya belum pernah mengetahui adanya nukilan dalam masalah ini. Karena yang ternukil dari Nabi sesungguhnya tidak ada pemisahan antara ayat-ayat sifat dengan yang lainnya sejauh apa yang saya ketahui, karena terkadang timbulnya menangis dan perasaan khusyu’ pada ayat-ayat tersebut dan tidak diragukan bahwa ayat-ayat sifat termasuk dari hal-hal yang berpengaruh dan mengundang tangis. Karena dengan itu seseorang bisa mengingat kebesaran Allah serta kebaikan-Nya dan kemudian ia menangis, semisal firman-Nya:

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telag menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

Maka bilamana seseorang itu merenungkannya tentulah ia menangis dan khusyu’ disebabkan rasa takut kepada Allah dan yang semisalnya dari beberapa ayat. Seperti juga dalam firman-Nya:

“Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Semua ayat tadi dari apa-apa yang menimbulkan tangis karena mengingat keagungan Allah dan kesempurnaan, kebaikannya kepada hambanya serta kesempurnaan, makna yang terkandung dalam sifat-sifat tersebut yang punya pengaruh lalu menimbulkan rasa tangis, maka merenungkan ayat-ayat yang berkenaan dengan nama dan sifat-sifat Allah sangatlah penting sekali seperti halnya merenungi ayat yang berbicara tentang surga, neraka, rahmat serta adzab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melewati ayat yang mengandung makna tasbih (pensucian Allah dari segala kekurangan) beliau bertasbih di dalam shalat malamnya, apabila melewati ayat yang mengandung janji beliau berdoa, demikianlah yang diriwayatkan oleh Hudzaifah dari perbuatannya alihisshalatu wassalam, sedangkan sunnah beliau adalah berdoa pada ayat yang mengandung janji dan harapan, meminta perlindungan pada ayat yang mengandung ketakutan serta bertasbih pada ayat yang disebut nama dan sifat Allah.

Beliau ditanya -semoga Allah menjaganya- tentang seseorang yang menangis dalam doanya sementara ketika mendengar Kalamullah ia tidak menangis?

Beliau menjawab: Hal yang demikian ini bukanlah atas sekehendak dia. Kadang jiwanya itu berdetak ketika memanjatkan doa dan tidak berdetak ketika mendengar sebagian ayat akan tetapi sebaiknya bagi dia untuk melatih jiwanya untuk lebih khusyu’ ketika baca Al-Qur’an ketimbang khusyu’ dalam doanya karena khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an itu sangat penting, namun kalau memang mungkin untuk khusyu’ di dalam membaca Al-Qur’an dan berdoa maka hal itu adalah baik karena kekhusyukan dalam berdoa termasuk sebab-sebab terkabulnya sebuah doa. Akan tetapi hendaknya perhatiannya untuk khusyu’ dalam membaca Al-Qur’an lebih besar karena ia adalah Kalamullah. Di dalamnya terdapat cahaya penerang dan petunjuk, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat merenungkan dan menangis ketika membaca Al-Qur’an.

Oleh karenanya tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu: “Bacalah Al-Qur’an untukku.” “Bagaimana mungkin aku akan membaca Al-Qur’an untukmu sedang Al-Qur’an itu turun kepadamu?!” jawab Abdullah. “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari selainku,” lanjut beliau.

Kemudian dibacalah mulai awal surat An-Nisa’ sampai firman-Nya:

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami
mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”

Beliau berkata: “Cukup!” Lalu aku menoleh kepadanya maka tiba-tiba mata beliau meneteskan air mata, kata Ibnu Mas’ud. Dan nampaknya tangis beliau tidak sampai mengeluarkan suara namun bisa diketahui dengan air mata yang menetes. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Sikhkhir, bahwasanya ia mendengar pada dada beliau seperti suara air yang mendidih dalam bejana karena sebab menangis, kejadian ini berindikasi bahwa tangis beliau kadang mengeluarkan suara akan tetapi tidak sampai menggangu.

Beliau ditanya tentang hukum berpura-pura dalam menangis? Dan akan kebenaran riwayat dalam masalah tersebut?

Beliau menjawab: Datang suatu riwayat pada beberapa hadits:

“Jika engkau tidak bisa menangis maka berpura-puralah menangis!”

Akan tetapi saya tidak mengetahui keabsahan hadits, hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad namun saya tidak ingat keabsahan riwayat tambahan tersebut yaitu:

“Jika engkau tidak bisa menangis maka berpura-puralah menangis!”

Hanya saja riwayat ini masyhur di kalangan para ulama tapi masih perlu mendapat perhatian lagi dan saya sekarang tidak ingat kedudukan sanadnya. Nampaknya tidak perlu untuk memberat-beratkan diri, kalau mendapati tangis maka hendaklah ia berupaya untuk tidak mengganggu yang lainnya, menangis dengan suara lirih tidak mengganggu yang lainnya semampunya.

Penutup

Dan akhirnya wahai saudaraku seislam. Ingatlah akan keadaanmu ketika engkau membaca Al-Qur’an atau sedang mendengarkannya, cobalah engkau hadapkan dirimu kepada potret generasi Salafus Shalih kita. Bagaimana mereka hidup bersama Al-Qur’an dan ingatlah bahwa Al-Qur’an akan memberimu pengaruh tergantung seberapa besar engkau memberikan hak kepada Al-Qur’an serta akan membuka hatimu dengan sinar dan kecerahan pada setiap saat tergantung berapa besar engkau membuka diri dengan Al-Qur’an.

Footnote:

[1] Ahkamul Qur’an karya Al-Qurthubi, 1/341.

[2] Lihat Zadul Masir karya Ibnul Jauzi, 5/98.

[3] Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 22/522.

[4] Ahkamul Qur’an, 11/120.

[5] Zadul Ma’ad, 1/184.

[6] Zadul Ma’ad, 1/183.

[7] HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Abu Dawud serta Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dan dishahihkan oleh Al-Albani.

[8] Al-Fath Ar-Rabbani, 4/111.

[9] Shahihul Jami’, no. 3729.

Sumber: Air Mata Iman karya Abdullah bin Ibrahim Al-Haidan
(penerjemah: Al-Ustadz Abu Affan Asasuddin), penerbit: Qaulan Karima, Purwokerto. Hal. 12-26 & 77-90.

One response to “Hukum Menangis ketika Membaca Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s