Bid’ahnya Dzikir dengan Alat Tasbih

Banyak dari kalangan kaum muslimin menganggap baik (afdhal) apabila berdzikir setelah shalat dengan menggunakan biji tasbih. Mereka beralasan agar tidak terjadi salah hitung atau lupa ketika melafadzkan dzikir, padahal perkara ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

Di dalam Adh-Dha’ifah 1/185-193, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan: Sesungguhnya alat tasbih adalah bid’ah yang tidak dikenali di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia tiada lain muncul setelah masa beliau. Maka bagaimana masuk akal dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memotivasi para shahabatnya melakukan suatu urusan yang mereka tidak kenali?

Dalil atas apa yang saya sebutkan adalah riwayat Ibnu Wadhdhah Al Qurthubi dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘Anha hal. 12 dari Ash-Shalt bin bahran ia berkata, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melewati perempuan yang membawa alat tasbih yang dia gunakan bertasbih, maka dia memutusnya dan melemparkannya. Kemudian beliau melewati laki-laki yang bertasbih dengan kerikil maka dia menendangnya lalu mengatakan, “Kalian telah didahului! Kalian telah mengerjakan suatu bid’ah yang gelap! Para shahabat Muhammad melebihi kalian dalam ilmu!”

Ini juga menyelisihi petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Abdullah bin ‘Amr berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghitung tasbih dengan melipatkan jari-jari menggunakan tangan kanannya. Diriwayatkan Abu Dawud (1/235) dan At-Tirmidzi (4/255), ia menghasankannya.

Andaikata tidak ada dalam alat tasbih selain satu keburukan saja yaitu ia menghilangkan sunnah menghitung dengan jari-jari! Namun orang-orang telah meragamkan dalam memunculkan bid’ah dengan bid’ah ini sehingga engkau bisa melihat seorang yang menisbatkan dirinya kepada salah satu thariqah ia mengalungkan lehernya dengan tasbih, sebagian lagi menjalankan tasbihnya sedangkan dia berbicara kepadamu atau mendengarkan ucapanmu. Dampak buruk bid’ah ini tidak terbilang. Alangkah indahnya ucapan seorang penyair: Dan segala kebajikan pada mengikuti mereka yang telah lalu. Dan segala keburukan pada perbuatan mengada-ada orang yang belakangan.

Kemudian Asy-Syaikh Al-Albani menjelaskan keutamaan bertasbih dengan tangan kanan saja. Beliau rahimahullah menerangkan dalam Ash-Shahihah 1/48 : Inilah sunnah dalam menghitung dzikir yang disyariatkan, menghitungnya hanya dengan tangan dan dengan tangan kanan saja. Menghitung dengan tangan kiri atau dua tangan atau kerikil, semuanya menyelisihi sunnah.

Sumber: Fiqih Pilihan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah karya Mahmud bin Ahmad Rasyid (penerjemah: Al-Ustadz Muhammad Fuad Qawam Lc.), penerbit: Pustaka Salafiyah hal. 304-305.

2 responses to “Bid’ahnya Dzikir dengan Alat Tasbih

  1. ya Akhi/Ukhti yang dirahmawati Alloh, saya sedikit berkomentar, kalau begitu yg berkenaan dgn bid’ah sangat banyak sekarang ya, karena didasarkan pada kondisi Rasulullah waktu itu, diantaranya :
    1. Pencetakan Alquranul Karim dalam bentuk tertulis termasuk bid’ah, karena pada waktu itu hanya disampaikan secara lisan-lisan saja.
    2. Pakaian yang dipakai para pria sekarang, shalat pakai baju kemeja dan celana jeans juga bid’ah karena waktu jaman rasulullah pakai pakaian khas arab (jubah)
    3. Alquranul Karim yang ada di HP atau media elektronik juga bid’ah, karena tidak dicontohkan jaman Rasululloh.
    4. Kendaraan (mobil, motor dan sepeda) juga bid’ah karena jaman Rasululloh pakai kendaraan onta dan kuda.
    5. dan masih banyak lagi, bila semuanya diartikan dengan letterlek tanpa dilihat essensi dari ibadahnya itu apa, karena yang menimbulkan banyak perbedaan adalah pada masalah fiqih, sedangkan yang saya fahami ada juga ijtihad dan kiyas ulama dalam menjelaskan lebih detailnya Alquranul Karim dan Hadist Rasulullah karena banyak ayat-ayat Alquranul Karim dan Hadist yang sifatnya umum. Sedangkan bid’ah juga tidak semuanya buruk, ada juga yang namanya bid’ah hasanah artinya yang diperbolehkan (contohnya yang paling jelas adalah pencetakan Alquranul Karim). Semua amal ibadah tumpuannya pada kebersihan niatnya masing-masing, karena Alloh hanya melihat kemurnian ketaqwaan hamba-hambaNYA, bukan dari hal-hal phisik penilaian. Wallahu’alam Bissawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s