Selop Bertumit Tinggi, Bolehkah?

Jika kita meneropong sebuah sudut kehidupan anak cucu Adam, khususnya kehidupan wanita dari zaman ke zaman, maka kita akan menemukan perubahan drastis sehingga muncullah istilah: ‘lain dulu lain sekarang’.

Sesuatu yang terjadi hari ini, dahulu belum peqnah terjadi di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dahulu para wanita muslimah bangga dengan pakaian kesucian mereka (yakni, jilbab) yang menutup semua tubuh mereka. Kini tinggal sebuah cerita yang bisa dikenang. Kebanyakan di antara mereka pada hari ini lebih senang mengekor kepada wanita-wanita barat yang kafir atau wanita-wanita fasik sehingga apa saja yang ditawarkan oleh orang-orang kafir atau fasik, maka serta-merta sebagian wanita muslimah menerimanya mentah-mentah tanpa berusaha mengetahui hukumnya, misalnya memakai selop (sepatu) yang memiliki alas atau tumit yang tinggi.

Memakai selop tinggi -secara hukum- merupakan perkara yang terlarang di dalam agama dan syariat, karena selop semacam ini akan menonjolkan dan mengangkat pinggul wanita yang memakainya, dan akan menampakkan kakinya yang merupakan aurat baginya. Perkara-perkara seperti ini akan membangkitkan syahwat dan nafsu birahi kaum lelaki. Seorang wanita jika memakai selop yang bertumit tinggi, maka cara berjalannya akan berubah menjadi berlenggak-lenggok. Inilah model golongan wanita penduduk neraka yang belum ada di zaman kenabian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat: (1) kaum yang membawa cemeti bagai ekor sapi yang digunakan memukul manusia, dan (2) wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok. Kepala mereka (wanita-wanita tersebut) laksana punuk onta yang miring. Para wanita ini tak akan masuk surga, dan tak akan mendapatkan bau surga, sedang baunya bisa didapatkan dari perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 5547 dan 7123)

Selain itu, menggunakan selop tinggi akan memberikan gambaran bahwa si pemakainya adalah wanita yang tinggi, tidak pendek. Jelas ini merupakan sebuah tipuan dan pengelabuan yang diharamkan dalam Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang mengelabui kami, maka ia bukan termasuk dari golongan kami.” (HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman no. 279)

Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang kita meniru orang-orang kafir dalam segala hal, termasuk cara berpakaian, berdandan atau bersandal sebagaimana dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 4031, Ahmad no. 5114, Ath-Thabrani dalam Ausath no. 8327, Ibnu Manshur dalam As-Sunan no. 2370. Di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Takhrij Al-Misykah no. 4347)

• Al-Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hadits ini serendah-rendahnya mengharuskan pengharaman tasyabbuh (menyerupai orang kafir atau fasik).” (Lihat Iqtidha Ash-Shirath Al-Mustaqim, 83)

Di antara perkara yang dilakukan oleh wanita-wanita kafir, lalu ditiru oleh para wanita muslimah adalah memakai selop yang memiliki alas atau tumit yang tinggi sehingga mengubah bentuk dirinya, dari pendek menjadi tinggi; dari berjalan biasa menjadi berjalan sambil berlenggak-lenggok kepala dan bahunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dahulu di kalangan Bani Israil, ada seorang wanita pendek. Dia membuat kaki kayu, lalu berjalan di antara dua wanita pendek. Wanita itu membuat cincin emas. Di bawah permatanya, ia isi dengan wewangian yang paling harum, yaitu misk. Jika ia ingin lewat pada suatu majelis (yakni majelis laki-laki), maka ia menggerak-gerakkan cincin itu. Lalu semerbaklah baunya.” Di dalam riwayat lain, “Wanita itu membuat penutup bagi cincin itu [1]. Jika ia melewati orang banyak atau suatu majelis, maka ia mengangkat cincinnya, lalu ia membukanya. Lantaran itu, semerbaklah wewangiannya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/40) dan (3/46). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 486)

• Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dahulu para lelaki dan wanita di kalangan Bani Israil shalat secara bersama-sama. Seorang wanita memiliki kekasih (pacar). Wanita itu memakai dua sandal kayu yang dengannya, wanita itu menjadi tinggi. Lalu ditimpakanlah haid atas mereka.” (HR. Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf (no. 5115), dengan sanad yang shahih [2])

Perhatikanlah wahai para pembaca, para wanita Bani Israil ditimpakan haid dalam waktu yang lama sebagai hukuman bagi mereka atas perbuatan dosa yang mereka lakukan, seperti dosa berpacaran, tidak menundukkan pandangan dari lawan jenis, membuat sandal beralas tinggi, menggunakan parfum (wewangian) demi menarik perhatian dan membangkitkan syahwat kaum lelaki. (Lihat Fathul Bari, 1/519)

Kemudian setan dan bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia (yakni para desainer pakaian dan perhiasan) bahu membahu dalam menipu dan menggelincirkan kaum wanita. Akhirnya, para wanita dibuatkan berbagai macam model pakaian, perhiasan dan sandal yang kebanyakannya melanggar syariat, sehingga tanpa sadar para wanita kita meniru gaya dan model kaum wanita Yahudi. Dari sinilah muncul sandal selop beralas atau bertumit tinggi. (Lihat Ahkam Az-Ziinah li An-Nisaa’ hal. 133, cet. Maktabah As-Sawadi, 1416 H)

• Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata saat memetik faidah dari hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat peringatan yang amat jelas bahwa kebiasaan wanita-wanita fasik adalah memakai sesuatu yang menarik perhatian. Di antaranya, sesuatu yang tersebar di kalangan mereka berupa penggunaan sandal yang bertumit tinggi. Terlebih lagi, sandal yang dialasi pada bagian bawahnya dengan besi agar suara (detakan)nya semakin keras ketika berjalan. Barangkali asalnya berasal dari ide kaum Yahudi sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits ini. Karenanya, wajib bagi kaum muslimah untuk menghindari hal itu. Wallahul musta’an.” (Lihat Ash-Shahihah 1/878, cet. Maktabah Al-Ma’arif, 1415 H)

Ringkasnya, menggunakan sandal atau sepatu yang bertumit tinggi atau beralas tinggi adalah perkara yang diharamkan di dalam agama kita, karena ia mengandung pengelabuan, menyerupai adat kebiasaan wanita-wanita kafir atau fasik, membangkitkan syahwat birahi kaum lelaki, mengubah fitrah wanita, merusak kesehatan mereka, penyebab jatuhnya wanita dan lainnya. (Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi’ah (6/499) karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dengan tartib Syaikh Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwa’ir, cet. Risalah Idaroh Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta, 1420)

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah

Footnote:

[1] Yakni, tempat ia mengisi wewangian, pada bagian bawah permata cincin.

[2] Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hafizh dalam Fathul Bari (1/519), tahqiq Abdul Aziz Asy-Syibl, cet. Darus Salam, 1421 H. Hadits ini memiliki derajat marfu’, karena peristiwa seperti ini tak disaksikan oleh sahabat yang meriwayatkannya. Tentu ia menceritakannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sumber: Majalah Akhwat vol. 4/1431/2010, hal. 47-49.

3 responses to “Selop Bertumit Tinggi, Bolehkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s