Bagaimana Wanita Mengimami Wanita?

Ulama berbeda pendapat tentang hukum seorang wanita mengimami wanita lain dalam shalat berjamaah. Ada yang menganggap mustahab (sunnah), seperti riwayat dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah. Dan ini pendapat yang dipegangi `Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq dan Abu Tsaur. Ada yang menganggap tidak disunnahkan seperti pendapatnya Al-Imam Ahmad*. Ada pula yang memakruhkannya seperti Ashabur ra’yi.

Sedangkan Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, dan Qatadah berpendapat bahwa shalat jamaah bagi wanita ini hanya dilakukan dalam shalat sunnah bukan shalat wajib. Al-Hasan dan Sulaiman bin Yasar mengatakan: wanita tidak boleh mengimami wanita lain dalam shalat wajib atau pun shalat sunnah. Adapun Imam Malik, beliau berpandangan tidak pantas wanita mengimami seorangpun, karena dimakruhkan baginya untuk mengumandangkan adzan, sementara adzan merupakan panggilan untuk shalat berjamaah. (Al-Mughni, 2/17)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Tamamul Minnah membawakan beberapa atsar yang berkaitan dengan hal ini, di antaranya:
“Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah adzan dan iqamah serta mengimami para wanita dan beliau berdiri di tengah mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunanul Kubra)

Hujairah bintu Hushairi berkata: “Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah mengimami kami dalam shalat Ashar dan beliau berdiri di antara kami.” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi)

Kemudian Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Atsar-atsar ini baik untuk diamalkan, terlebih lagi bila dihubungkan dengan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Para wanita itu saudara kandung (serupa) dengan laki-laki.” (Tamamul Minnah, hal. 154)

Dari keterangan di atas bisa disimpulkan bolehnya wanita mengimami wanita lain dalam shalat berjamaah di rumag karena adanya contoh dari perbuatan para shahabiyah tanpa ada yang menyelisihi mereka. Dan juga tidak didapatkan adanya larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Boleh seorang wanita mengimami wanita lain dalam shalat namun ia tidak boleh mengimami laki-laki.” (Al-Muhalla, 4/219)

Tata Cara Berjamaah Bagi Wanita

Ada beberapa perkara yang perlu diperhatikan bila para wanita ingin menegakkan shalat berjamaah di kalangan mereka, di antaranya:

1. Adzan dan Iqamah
Dalam pelaksanaan shalat berjamaah, dibolehkan bagi wanita untuk adzan dan iqamah dengan dalil atsar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas dan juga atsar lainnya seperti yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (1/202), dengan sanad yang jayyid (bagus), kata Asy-Syaikh Al-Albani**, dari Wahab bin Kisan. Ia berkata: “Ibnu ‘Umar ditanya, apakah ada adzan bagi wanita?” Mendapat pertanyaan demikian, Ibnu ‘Umar marah dan berkata: “Apakah aku melarang dari dzikrullah (berdzikir kepada Allah)?”

2. Posisi Imam
Imam wanita berdiri di tengah-tengah makmumnya di dalam shaf, sebagaimana riwayat ‘Aisyah dan Ummu Salamah di atas. Dan hal ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama salaf. Namun bila imam tersebut maju di depan shaf maka tidak didapatkan larangan dalam hal ini, akan tetapi berpegang teguh dengan apa yang dilakukan salaf adalah lebih baik dan lebih utama. (Jami’ Ahkamin Nisa, 1/352)

Ibnu Juraij berkata: “Bila seorang wanita mengimami wanita lain, maka ia tidak maju di depan mereka akan tetapi ia sejajar dengan mereka. Ini dilakukan dalam shalat wajib maupun sunnah.” Lalu ada yang berkata kepada Ibnu Juraij: “Bagaimana bila jamaah itu banyak hingga mencapai dua shaf atau lebih?” Ibnu Juraij menjawab: ‘Ia berdiri di tengah-tengah mereka’.” (HR. ‘Abdurrazzaq, 3/140)

Demikian pula yang dikatakan oleh Ma’mar (Al-Mushannaf, 3/140). Dan juga Al-Hasan dan Asy-Sya’bi dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/89)

3. Memperdengarkan suara atau tidak?
Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah: “Wanita memperdengarkan suaranya dalam shalat jahr***. Namun bila di tempat itu ada laki-laki maka ia tidak boleh memperdengarkan suaranya kecuali bila laki-laki itu adalah mahramnya.” (Al-Mughni, 2/17)

Catatan Penting untuk Imam Shalat

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata dalam salah satu fatwanya: “Dibolehkan bagi wanita untuk shalat berjamaah dengan diimami salah seorang dari mereka, dan imam ini berdiri di shaf makmumnya (bersisian), bukan di depan mereka. Shalat jamaah ini tidaklah wajib bagi mereka karena kewajiban jamaah termasuk kekhususan laki-laki. Adapun mereka, boleh shalat berjamaah ataupun sendirian.”

Ketika beliau ditanya tentang kebolehan wanita memperdengarkan suaranya di dalam shalat jahriyah dalam rangka memudahkan untuk khusyu’, beliau menjawab: “Untuk shalat yang dilakukan pada malam hari, disunnahkan baginya jahr dalam ucapan shalat, sama saja apakah dalam shalat fardhu ataupun shalat nafilah (sunnah) selama tidak terdengar oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Karena bila sampai terdengar, dikhawatirkan laki-laki itu akan terfitnah (tergoda) dengan suaranya. Bila di tempat tersebut tidak ada laki-laki yang bukan mahramnya, namun ketika mengeraskan bacaan shalatnya berakibat menganggu dan menimbulkan kekacaun bagi orang lain yang sedang shalat maka hendaknya ia merendahkan suaranya (membaca dengan sirr).

Adapun dalam shalat yang dilakukan pada siang hari, ia tidak boleh memperdengarkan suaranya ketika membaca surat Al Qur’an. Karena shalat siang hari adalah sirriyah. Ia membaca sebatas didengar dirinya sendiri karena tidak disunnahkan jagr dalam shalat siang hari.” (Al-Muntaqa, Asy-Syaikh Al-Fauzan, 3/76, 201)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:
*) Didapatkan pula keterangan bahwa Imam Ahmad rahimahullah juga menganggap mustahab. Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Berkata Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, dan Abu Tsaur rahimahumullah: ‘Disunnahkan bagi seorang wanita untuk mengimami wanita lain dan ia berdiri di tengah-tengah mereka’.” (Al-Muhalla, 4/220) **) Tamamul Minnah, hal. 153
***) Yaitu shalat Maghrib, ‘Isya, dan Shubuh

Sumber: Majalah Asy Syari’ah, No. 02/I/Sya’ban 1424 H/September 2003, hal. 75-76.

One response to “Bagaimana Wanita Mengimami Wanita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s