Kesialan Pada Tiga Hal: Wanita, Rumah dan Ternak

Asy-Syaikh Abdullah bin Mar’i hafizhohullah ditanya: Apakah hadits “Kesialan ada pada tiga hal: perempuan, rumah, dan ternak” diartikan sesuai dzahirnya?

Maka beliau menjawab:

Hadits ini ditafsirkan dengan dua penafsiran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullah:

Pertama : Salah satu sebab terjadinya kesialan ialah ketiga hal ini. Maknanya: Hendaklah tepat dalam memilihnya. Seperti juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam : “Kebajikan dan kesialah ada pada tiga hal: Kebajikan perempuan ialah murah maharnya dan bagus akhlaknya, sedangkan kesialannya ialah mahal maharnya dan buruk akhlaknya… (beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan tentang rumah dan ternak).”

Dari sini diketahui bahwa salah satu sebab terjadinya kesialan ialah tiga hal itu. Maka hendaklah tepat dalam memilihnya, agar tidak terjatuh pada kesialan yang belum pernah ada sebelumnya.

Kedua : Kesialan datang melalui tiga hal ini, maka tinggalkan ketiganya kalau engkau mengkhawatirkan sampainya kesialan itu padamu. Dahulu kaum jahiliyah mempunyai keyakinan tentang sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Musnad Imam Ahmad dengan sanad hasan, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Siapa yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…. (beliau radhiyallahu ‘anha menyebutkan hadits di atas),” maka dia telah membuat kedustaan besar terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab sesungguhnya itu hanyalah ucapan ahli jahililyah yang kemudian dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak terjatuh dalam keyakinan mereka, lalu beliau radhiyallahu ‘anha membaca firman Allah Azza wa Jalla:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

Al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullah juga menyebutkan kisah seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas berkata: “Dahulu kami tinggal di suatu rumah, di sana anak-anak kami banyak… (dia menyebutkan berbagai kebajikan). Lalu kami berpindah rumah maka keluarga kami kekurangan… (dia menyebutkan berbagai keburukan).” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya untuk kembali ke rumahnya yang pertama. Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Ini untuk memutus akar kesialan.” Maksudnya: Siapa yang merasakan dirinya lemah, maka sepatutnya dia meninggalkan keadaan itu, agar tidak terbetik kesialan dalam benaknya.

[Diambil dari buku Bingkisan Ilmu dari Yaman untuk Muslimin Indonesia (Transkip Daurah Islamiyah Nasional, 01-08 Juli 2005 Yogyakarta bersama Asy Syaikh Abdullah Bin Umar Bin Mar’i dan Asy Syaikh Salim Bamuhriz), penerbit: Cahaya Tauhid Press, hal. 226-227]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s