Bunga Rampai Poligami

Hukum Asal Pernikahan Adalah Berpoligami

Pertanyaan : Wahai Syaikh kami – semoga Allah menjagamu-, apa hukum berpoligami di dalam Islam?

Jawab : Segala puji milik Allah Rabb Sekalian Alam, Shalawat dan Salam atas Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Amma Ba’du.

Sesungguhnya termasuk yang wajib bagi seorang muslim dan muslimah adalah tunduk kepada hukum Allah Subhaanahu wa ta’aala dan hukum Rasul-Nya Shallallohu ‘alaihi wasallam. Allah Subhaanahu wa ta’aala berfirman :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ‏‎ ‎فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ‏‎ ‎عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا‎ ‎اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ‏‎ ‎الْعِقَاب

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS. Al-Hasyr : 7)

Dan firman-Nya :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا‎ ‎مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ‏‎ ‎وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ‏‎ ‎يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ‏‎ ‎مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al Ahzab :36)

Dan yang lainnya dari ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas tentang kewajiban setiap muslim dan muslimah agar tunduk kepada apa yang telah menjadi hukum Allah dan Rasul-Nya, dan menyakini bahwa itu adalah kebaikan. Demikian pula telah datang dari sunnah Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan kaum muslimin dan muslimat agar mereka tunduk kepada apa yang dibawa oleh Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, sama saja apakah hukum tersebut terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun dalam Sunnah Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam. Dan di antara sunnah yang mutawatir itu adalah apa yang diriwayatkan oleh dua syaikh (Bukhari dan Muslim) dari Anas Radiyallohu ‘anhu dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ‏‎ ‎بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ‏‎ ‎مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ‏‎ ‎أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا‎ ‎سِوَاهُمَا

“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman: “Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya……” (Al Hadits) [1]

Maknanya bahwa ia mendahulukan apa yang mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya Shallallohu ‘alaihi wasallam di atas ucapan siapa pun. Dalam hadits yang shahih Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ‏‎ ‎رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا‎ ‎وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا‎ ‎وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Akan merasakan manisnya keimanan orang yang ridha Allah menjadi Rabbnya, Islam jadi agamanya, dan Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam menjadi Rasul-Nya.” [2]

Maka sabda beliau “dan Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam sebagai Rasul-Nya”, ini mengharuskan untuk beriman dengan setiap yang dibawa oleh Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, dan bahwasanya itu berasal dari Allah, dan itu kebenaran yang tiada keraguan padanya.

Alangkah baiknya apa yang dikatakan Asy Syafi’i –Rahimahullah-: “Aku beriman kepada Allah dan apa saja yang datang dari Allah menurut kehendak Allah, dan aku beriman kepada Rasulullah dan apa saja yang datang dari Rasulullah menurut kehendak Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. [3]

Dan telah sepakat para pemimpin Islam atas apa yang kami sebutkan ini. Jika hal ini telah dipahami, maka sesungguhnya poligami merupakan hukum asal (pernikahan -edt).

Ini yang jelas penyebutannya dalam Al Qur’an Al Karim. Allah Ta’ala berfirman :

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ‏‎ ‎مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى‎ ‎وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ‏‎ ‎خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا‎ ‎فَوَاحِدَةً

“Maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.” (QS. An Nisa : 3)

Yang memperhatikan ayat yang mulia ini, akan jelas bagi kita akan dua hal :

Pertama : Bahwa hukum asal pernikahan adalah poligami, di mana Allah Subhaanahu wa ta’aala memulai dengannya dan menganjurkannya. Barang siapa yang mengatakan bahwa itu wajib, maka ucapan tersebut memiliki sisi kekuatan, sebab asal perintah hukumnya wajib.

Kedua : Mencukupkan satu istri bagi yang mengkhawatirkan dirinya tidak (bisa) berbuat adil.

(Pertanyaan ini dijawab oleh Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri Hadzahulloh) [4]

Membenci Poligami Adalah Membenci Salah Satu Syi’ar Allah

Ada sebagian orang baik dari kalangan laki-laki maupun wanita yang membenci poligami, dalam keadaan sebagian mereka diketahui belum menikah. Apakah ini termasuk membenci sesuatu yang datang dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam?

Jawab:

Pertama : Bahwa pemikiran yang dimiliki oleh orang yang anda sebutkan dari kaum laki-laki maupun wanita tersebut memiliki beberapa sebab, diantaranya :

1. Kurangnya pengetahuan dia tentang agama Allah. Barangsiapa yang mendalami agama Allah Subhanahu wa ta’ala, maka tentu dia tidak akan membenci syi’ar ini. Dia mengetahui bahwa ini termasuk agama Allah Subhanahu wa ta’ala. Adapaun apakah dia mengamalkan atau tidak mengamalkannya, ini perkara lain. Namun hendaknya dia tidak membencinya, bahkan seharusnya dia meyakini bahwa hal itu merupakan kebaikan untuk Islam dan kaum muslimin. Adapun jika dia tidak senang berpoligami, maka ini perkara lain.

2. Pengaruh fanatisme dan kebiasaan satu kabilah (suku). Banyak di antara para pemimpin kabilah dan negeri yang mereka tidak berpoligami, dan pada hakekatnya ini adalah sebuah kesalahan. Ini adalah pengabaian terhadap salah satu syi’ar Islam atau dia telah menanamkan benih kerusakan. Karena efek dari hal ini akan menyebabkan banyaknya para wanita yang melajang dan tidak menikah disebabkan karena kebiasaan suku atau sebuah negeri yang memiliki sifat fanatik.

3. Pengaruh pendidikan yang banyak dipublikasikan melalui berbagai media informasi baik yang didengar, dibaca maupun dilihat (Radio, Koran/Majalah, Televisi, dan lain-lain, Pent) yang mempropagandakan bahwa poligami itu memunculkan berbagai problem serta menyebabkan timbulnya perceraian dan kedengkian.

Sehingga mereka sesungguhnya terbagi menjadi dua golongan, yaitu :

1) Dia orang yang bodoh tentang agama Allah, orientasinya hanyalah menulis, membacakan dan memperdengarkan kepada manusia.

2) Dia adalah musuh sunnah yang telah dipengaruhi oleh pemikiran barat.

Tadi kami telah menjelaskan bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk meyakini bahwa ini merupakan salah satu syi’ar Islam, sebagaimana yang telah kami jelaskan pula bahwa hukum asal dari pernikahan adalah poligami (bukan monogami, pent) dan yang berpendapat wajibnya memiliki sisi kebenaran dalil karena asal perintah hukumnya wajib. Maka haram atas mereka untuk mengingkari syi’ar ini. Dan kami nasehatkan kepada kaum muslimin agar hendaklah mereka berpoligami, karena poligami ini memiliki hikmah dan kemaslahatan yang banyak, diantaranya :

– Apa yang telah kami isyaratkan, yaitu mengurangi jumlah wanita yang melajang.

– Sebagian wanita tidak memiliki wali, atau dia memiliki wali yang zalim, maka dengan poligami, seorang lelaki bisa menyelamatkan wanita tersebut darinya.

– Seorang lelaki tatkala menyambung hubungan ipar kepada beberapa keluarga, maka akan menimbulkan kepercayaan di antara mereka berupa kecintaan dan kasih sayang. Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, melakukukan hal ini, di mana beliau menyambung hubungan ipar kepada beberapa kabilah baik Quraisy maupun di luar Quraisy. Dan yang nampak bahwa berdasarkan apa yang saya ketahui, kebanyakan istri-istri beliau berasal dari luar Quraisy.

Saya tidak bisa memastikannya sekarang.

Kami nasehatkan kepada setiap muslimah agar menerima syari’at Allah serta meridhai hukum Allah dan jangan memusuhi suaminya jika dia menikah lagi dengan yang lain, dan jangan pula memusuhi madunya. Adapun keadaan dia yang tidak suka dengan poligami dan dia lebih senang untuk tidak dimadu, maka ini adalah perkara fitrah. Namun sesungguhnya yang dibenci dan dicela adalah tatkala dia menampakkan permusuhan terhadap diri suaminya, hartanya maupun anak-anaknya. Atau dia berbuat zalim terhadap keluarga suaminya dan keluarga madunya.

Yang lebih parah lagi adalah kalau sampai dia menampakkan bahwa suaminya adalah seorang yang berbuat aniaya dan zalim, ini adalah haram. Di antara mereka ada pula yang minta diceraikan karena hal ini.

Maka kami peringatkan kepada para wanita muslimah yang telah ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, sebagai Rasulnya dari kesengajaan untuk melakukan berbagai tindakan ini, dan mengingat sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ‏‎ ‎زَوْجَهَا طَلَاقًا فِي غَيْرِ‏‎ ‎مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا‎ ‎رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

“Siapa saja wanita yang meminta dicerai – yaitu dari suaminya – tanpa ada permasalahan, maka haram baginya untuk mencium bau surga.” [5]

Lalu Syaikh Hafizahullah berkata : Mungkin masih ada yang tersisa dari pertanyaan?

Abu Rawahah berkata : Ya. Apakah kebencian mereka terhadap poligami termasuk sikap membenci apa yang datang dari Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam sehingga dapat menjadi pembatal di antara pembatal-pembatal keislaman?

Syaikh Hafizahullah menjawab dengan mengatakan: “Tidak, tidak sampai menjadi pembatal keislaman, namun ini merupakan kesalahan dan bahaya. Pada hakekatnya ini kembali kepada keyakinannya, namun dikhawatirkan terhadap orang yang membenci poligami ini terjatuh dalam kekafiran karena membenci salah satu syi’ar Allah sebab perkara ini ditetapkan berdasarkan Al Kitab, As Sunnah dan Ijma’.”

(Pertanyaan ini dijawab oleh Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri Hafidzahulloh) [6]

Kekhususan Fathimah Radiyallohu ‘anha Untuk Tidak Dimadu

Mengapa Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam melarang Ali Radiyallohu ‘anhu untuk menikahi wanita lain setelah menikahi anaknya beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam (Fathimah, Pent). Apakah ucapan Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam “Sesungguhnya dia (Fathimah) adalah bagian dariku”, ini merupakan kekhususan bagi Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam?

Jawab : Jawaban atas pertanyaan ini mengandung tiga sisi :

Sisi Pertama : Bahwa Fathimah Radhiyallahu ‘anha adalah pemimpin wanita seluruh alam, berdasarkan nash Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam [7] dan berdasarkan ijma’ para ulama yang ucapannya diakui. Maka seorang wanita yang demikian kedudukannya sepantasnya untuk tidak dimadu, dan suaminya tidak menikahi yang lainnya tatkala dia masih hidup karena kedudukan ini yaitu sebagai seorang pemimpin wanita seluruh alam.

Sisi Kedua : Bahwa ini termasuk kekhususan beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam dan bila kita berkata bahwa ini termasuk kekhususan Fathimah Radhiyallahu ‘anha, maka tidak jauh (dari kebenaran). Karena Fathimah adalah anak Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam. Inilah yang beliau isyaratkan dengan sabdanya : “Sesungguhnya dia (Fathimah) adalah bagian dariku”, yaitu : salah satu bagian dari diriku, sedangkan Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, wajib untuk dijaga dari kemudharatan [8] meskipun sebagian mudharat tersebut pada selain beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam memiliki kekhususan yang diharamkan kepada yang lainnya dari umatnya. Maka menghormati Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam di atas penghormatan yang lain dan mencintai beliau di atas setiap kecintaan.

Sisi Ketiga : Bahwa Ali Radiyallohu ‘anhu menikahi wanita lain setelah dia (Fathimah) wafat sedangkan para sahabat yang lain, mereka berpoligami di masa hidup Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, dan setelah wafatnya. Demikian pula para tabi’in, mereka berpoligami di masa hidup para sahabat Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam, dan kaum muslimin di atas amalan ini hingga hari ini.

(Pertanyaan ini dijawab oleh Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah Al-Jabiri Hafidzahulloh) [9]

(Artikel ini diambil dari www.atstsabat.com)

_______________
[1] Sambungan haditsnya : “Dan dia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya melainkan karena Allah, dan dia membenci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana ia benci untuk dilempar ke dalam api neraka.” Diriwayatkan oleh Bukhari (No. 21), Kitabul Iman, bab “Man Kariha an Ya’uda fil Kufri Kamaa Yakrahu an Yulqa fin Naar Minal Iman, dan Muslim (No. 67), Kitab Al Iman, Bab: “Bayaan Khisaal Manit Tashafa Bihinna, Wajada Halaawatal Iman”.

[2] Diriwayatkan oleh Muslim, No:56, Kitabul Iman, Bab :”Addalil ‘Alaa Anna Man Radhiya Billahi Rabban Wabil Islami Diinan, Wabimuhammadin Rasulan, Fahuwa Mukmin, Wa Inis Takabal Ma’ashiy Al Kabaair, dari hadits Al Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu ‘anhu.

[3] Imam Al-Maqdisi –Rahimahullah- menyebutkan dalam kitabnya “Lum’atul ‘Itiqad” No.4. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Adapun yang dikatakan Asy Syafi’i maka itu adalah benar, wajib bagi setiap muslim untuk meyakininya. Siapa yang meyakininya dan tidak mendatangkan ucapan yang menyelisihinya, maka dia telah menempuh jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Demikian disebutkan dalam “Ar Risalah Al Madaniah bersama Fatwa Alhamawiyah (hal:121).

[4] Lihat: http://atstsabat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=67:hukum-asal-pernikahan-adalah-berpoligami&catid=29:sunnah-poligami&Itemid=55

[5] Dikeluarkan oleh Abu Daud (6/142), Kitab Ath Thalaq (18), Bab “Fil Khulu’. At Tirmidzi (4/433), Kitab Ath Thalaq Wal Li’an (1), bab Maa Jaa’ Fil Mukhtali’at. Ibnu Majah, Kitab Ath Thalaq (21), Bab: Karahiyatul Khulu’ Lil Mar’ah. Seluruhnya dari jalan Ayyub bin Abi Qilabah dari Abu Asma’ Ar Rahabi dari Tsauban Radiyallohu ‘anhu : Al Hadits. Dan telah dishahihkan Al Albani sebagaimana yang disebutkan dalam kitabnya Al-Irwa’ (7/1000), hadits no: 2035.

[6] Lihat: http://atstsabat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=69:membenci-poligami-adalah-membenci-salah-satu-syiar-allah&catid=29:sunnah-poligami&Itemid=55

[7] Isyarat kepada hadits Aisyah yang panjang, dikeluarkan Muslim dalam shahihnya, no.2450. Kitab Fadhail Shahabah, bab: Fadhail Fathimah Binti An-Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam. Padanya Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Wahai Fathimah, tidakkah engkau ridha untuk menjadi pemimpin wanita kaum mukminin atau pemimpin wanita umat ini?” Aisyah berkata: “(Fatimah) tertawa dengan hal itu.”

[8] Berkata An Nawawi Rahimahullah tatkala mengomentari hadits Miswar bin Makhramah yang dikeluarkan oleh Imam Muslim (2449), Kitab: Fadhail Ash Shahabah, Bab: Fadhail Fathimah bintu An Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam Marfu’ah :

‏ إِنَّمَا فَاطِمَةُ‏‎ ‎بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا‎ ‎آذَاهَا

”Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku, menyakiti aku apa yang menyakitinya.”

Berkata para ulama : dalam hadits ini menunjukkan haramnya menyakiti Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam dalam kondisi dan cara apapun, meskipun munculnya gangguan tersebut dari sesuatu yang asal hukumnya boleh dalam keadaan beliau masih hidup, dan ini berbeda dengan selain beliau.

Mereka berkata : Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang bolehnya menikahi bintu Abi Jahl bagi Ali Radiyallohu ‘anhu dengan sabdanya : “Aku tidak mengharamkan yang halal,” namun beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam melarang menggabungkannya (antara Fathimah dengan anak perempuan Abu Jahl) karena sebab yang disebut dalam nash :

Pertama : Bahwa hal itu menyebabkan disakitinya Fathimah sehingga Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam merasa sakit pula ketika itu. Maka menjadi binasa orang yang menyakitinya. Maka beliau melarang hal itu karena kesempurnaan kasih sayang beliau kepada Ali dan Fathimah Radhiyallahu ‘anhuma.

Kedua : Beliau mengkhawatirkan fitnah atas Fathimah dengan sebab kecemburuan.

Adapula yang berkata: ”Bukan maksud larangan untuk mengumpulkan keduanya. Namun maknanya: Bahwa beliau Shallallohu ‘alaihi wasallam mengetahui dengan keutamaan dari Allah bahwa keduanya tidak mungkin disatukan.

[9] Lihat: http://atstsabat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=68:radiyallohu-anha-untuk-tidak-dimadu&catid=29:sunnah-poligami&Itemid=55

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s