Bahaya Ucapan: Wahai Anjing, Wahai Babi!

Sebagian orang yang bertengkar memanggil kepada saudaranya dengan sebutan: wahai keledai, wahai kambing, wahai anjing… Dan kadang mereka memanggil dengan maksud bergurau. Hal yang demikian terlarang dalam syariat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jangan kamu berkata kepada temanmu: Wahai keledai, wahai anjing, wahai babi. Maka dia berkata pada hari kiamat: “Apakah kamu melihatku, bahwa aku diciptakan sebagai anjing, atau keledai, atau babi.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, dan padanya dari Mujahid dan selainnya) Lihat: Mu’jam Al-Manahi Al-Lafzhiyyah, hal: 351.

Ucapan kepada orang yang dia sedang bertengkar dengannya: Wahai keledai, kambing, wahai anjing dan semisalnya, maka ini adalah jelek dari dua sisi:

1. Bahwa dia berdusta (yaitu Allah tidak menciptakannya sebagai keledai, kambing dan tidak pula sebagai anjing).

2. Dia telah menyakiti (karena manusia akan tersakiti dengan kata-kata yang merendahkannya).

Dan ini berbeda dengan ucapan: “Wahai zhalim” dan yang semisalnya. Sesungguhnya yang demikian diperbolehkan karena keterpaksaan dalam permusuhan, lagi pula benar secara umum. Maka sedikit sekali manusia, kecuali dia berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri dan orang lain. (Sumber yang sama)

Aku katakan: sesungguhnya kata-kata kasar yang diucapkan oleh seorang Muslim kepada saudaranya ini telah menafikan apa yang datang di dalam Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)

Allah menciptkan Adam dari tanah. Allah tiupkan padanya ruh, sebagaimana dikabarkan Al Qur’an Al Karim. Manusia seluruhnya dari anak turun Adam ‘alaihis salam. Maka ucapan seseorang kepada saudaranya “wahai keledai, wahai anjing,” adalah kedustaan dan perbuatan mengada-ada atas Al Qur’an, terlebih perkataannya: “Wahai anak anjing”, padanya terdapat cacian terhadap Adam ‘alaihis salam sebagai bapaknya, dan beliau adalah bapak seluruh manusia.

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai saudaranya apa-apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Maka sebagaimana seorang muslim tidak senang dikatai anjing, keledai, kambing dan selainnya dari kata-kata yang kotor, maka tidak boleh baginya untuk mengatakannya kepada saudaranya yang muslim.

Sekiranya seorang muslim melihat dengan bashirah, niscaya dia mengerti bahwa kata-kata ini tertuju juga kepadanya secara dzatnya. Karena dia tujukan cacian ini kepada saudaranya yang muslim dan dia adalah saudaranya, baik dia kehendaki atau enggan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Hendaknya seorang muslim yang berakal, dalam menyikapi orang yang memakinya dengan kata-kata yang diada-adakan ini (babi, bighal, anjing) sampai (zhalim, fasiq, fajir, kafir) dan selainnya dari kata-kata yang keras, agar menjawab dengan kata-kata: “Aku adalah saudaramu.”

Yaitu jika aku “babi,” “anjing,” atau “fasiq,” “kafir,” maka kamu seperti aku, karena aku adalah saudaramu. Tidak boleh baginya membalas dengan kata-kata kasar yang semisalnya. Dalam rangka mengamalkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fushshilat: 34)

“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Yang aneh dan disayangkan, orang tua berkata kepada anaknya: “Anak anjing!” Maka seakan-akan dia berkata: “Sesungguhnya orang tuamu adalah anjing dan kamu anaknya.”

Maka seharusnya ia katakan: Semoga Allah memperbaikimu dan memberimu petunjuk. Mendoakan kebaikan bagi anak, orang yang bermaksiat, dan selain keduanya itu lebih bermanfaat. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa tersebut.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Salah Kaprah yang Mesti Diluruskan karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerbit: Pustaka Salafiyah, hal. 117-121 (dengan sedikit penambahan).

One response to “Bahaya Ucapan: Wahai Anjing, Wahai Babi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s