Larangan Menyebarkan Rahasia Kenikmatan Ranjang

Ketahuilah wahai saudaraku muslim…

Bahwasanya tidak boleh menyebarkan segala rahasia yang terjadi dalam hubungan seksual antara suami-istri. Dalil tentang hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian menyebarkan rahasia istrinya.” [1]

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam syarahnya terhadap “Shahih Muslim”: “Dalam hadits ini terdapat pengharaman bagi seorang suami untuk menyebarkan segala sesuatu yang terjadi selama berhubungan seksual dengan istrinya dan menceritakannya secara detail, demikian juga segala sesuatu ekspresi yang muncul dari istrinya, baik yang berupa ucapan, aktifitas maupun yang sejenisnya.” [2]

Dalam hadits Asma’ binti Yazid, ia berkata: “Aku pernah berada di tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan para lelaki dan para wanita sedang duduk. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mungkin ada lelaki yang menceritakan apa yang telah dilakukan bersama istrinya, dan mungkin seorang wanita mengabarkan apa yang telah diperbuat bersama suaminya.”

Serentak mereka terdiam. Lalu aku berkata: “Demi Allah benar, ya Rasulullah. Sesungguhnya mereka para wanita melakukannya. Dan mereka para lelaki pun sungguh melakukan hal itu juga.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian lakukan hal itu. Sesungguhnya hal itu seperti setan lelaki yang berjumpa dengan setan wanita di jalan lalu menggaulinya, dalam keadaan manusia melihatnya.” [3]

Maka wahai saudaraku, takutlah engkau kepada Rabb-mu, kenakanlah pakaian taqwa dan berhiaslah dengan malu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

“Rasa malu itu semuanya baik.” [4]

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Diriwayatkan oleh Imam Muslim (2597) dan Abu Dawud (4227).

[2] Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi (5/262).

[3] Shahih karena yang sebelumnya, diriwayatkan oleh Ahmad (6/456). Di dalam sanadnya terdapat Syahr bin Hausyab, dan dia dibicarakan. Akan tetapi hadits ini menjadi kuat dengan syawahid yang telah aku sebutkan tadi. Wallahu a’lam.

[4] Hadits shahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shahih (10/521, Fath) dan di dalam Al-Adabul Mufrad (hal. 377), Muslim (2/6-7), Abu Dawud (4796), Ahmad (4/426, 427, 436, 440, 442, 445, 446), Ath-Thayalisi (853), Ath-Thabrani, dalam Al-Kabir(18/171/387) dan di dalam Ash-Shaghir(1/85), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (2/251-6/262), dan Abu Ahmad Al-Askari dalam Ma Yaqa’u fihit Tashhif wat Tahrif (1/11/10-11) dari hadits Imran bin Husain.

Referensi:

1. Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai karya Abu ‘Abdirrahman Sayyid bin ‘Abdirrahman Ash-Shubaihi (alih bahasa: Abu Hudzaifah), penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’, hal. 240-241.

2. Tuntunan Lengkap Pernikahan karya Abu Ishaq Al-Huwaini Al-Atsari dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (alih bahasa: Hannan Hoesin Bahannan), penerbit: Maktabah Salafy Press, hal. 73-74.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s