Mengapa Orang-orang Beriman Tertimpa Musibah?

Maksud pembahasan ini, menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya bukanlah sebab turunnya musibah sedikitpun. Bahkan sebaliknya, ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuahkan balasan yang baik di dunia dan akhirat.

Namun terkadang orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya tertimpa satu musibah dengan sebab dosa mereka bukan karena ketatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana ketika mereka tertimpa musibah pada perang Uhud dikarenakan dosa-dosa dan pembangkangan mereka terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian juga kemiskinan, sakit, dan kegoncangan, bukan karena ketaatan dan keimanan, namun mereka diuji dengan keimanannya agar kejelekan-kejelekan yang ada pada mereka hilang dan bersih, serta dibersihkannya mereka dengan musibah tersebut sebagaimana emas dibersihkan dengan api dari kotoran yang menempel. Jiwa-jiwa itu mengandung kejelekan, sedangkan ujian-ujian itu membersihkan kejelekan dari dalam jiwanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar Allah melihat siapa yang sabar dan beriman) dan supaya sebagian kamu dimuliakan-Nya gugur sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (Ali ‘Imran: 140-141)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji keikhlasan yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan bisikan-bisikan syaitan yang ada dalam hatimu.” (Ali ‘Imran: 154)

Oleh karena itu Nabi Shalih berkata kepada kaumnya:

“Shalih berkata: “Musibah yang menimpamu hanyalah dengan sebab dosamu dan balasan dari Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji.” (An-Naml: 47)

Sehingga musibah-musibah itu menghapuskan dosa-dosa orang-orang beriman. Dan bila sabar menghadapinya maka kedudukan mereka menjadi tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah-musibah yang berasal dari musuh yang menimpa mereka di dalam peperangan sesungguhnya menjadikan besar pahala bila dihadapi dengan sabar.

Dalam kitab Shahih disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

“Tidaklah orang-orang yang berperang di jalan Allah kemudian mereka selamat serta mengambil harta rampasan perang kecuali dipercepat mendapatkan 2/3 pahala di dunia dan tinggal 1/3-nya di akhirat. Jika tidak mendapatkan ghanimah maka pahala mereka sempurna (penuh).” [1]

Adapun kelaparan, kehausan, dan kelelahan di dalam jihad fi sabilillah maka dicatat sebagai amal shalih, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kelelahan, kelaparan pada jalan Allah, tidak singgah di suatu tempat yang membangkitkan rasa takut orang-orang kafir, serta tidak mendapatkan kemenangan dan ghanimah dari musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shalih.” (At-Taubah: 120)

Footnote:

[1] HR. Muslim no. 153-154, kitab Imarah, Abu Dawud dalam kitab Jihad, An-Nasa’i dalam kitab Jihad. Ibnu Majah dalam kitab Jihad, dan Ahmad bin Hambal juz 2 hal. 169.

Sumber: Kenikmatan dan Musibah Dalam Pandangan Syari’at karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (alih bahasa: Ahmad Hamdani), penerbit: Pustaka Ar Rayyan, hal. 60-62.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s