Makruhnya Penggunaan Istilah ‘Aqiqah’

Telah terjadi khilaf (perselisihan pendapat) tentang makna aqiqah secara etimologi pada tiga pendapat:

Pendapat pertama, pendapat Abu ‘Ubaid dan Al-Ashma’i maupun yang lain; bahwasanya asal maknanya adalah rambut yang ada di kepala bayi ketika baru saja dilahirkan. Lalu kambing yang disembelih untuknya dinamakan aqiqah, karena rambut di kepala bayi tersebut dicukur ketika kambing disembelih. Ini merupakan penamaan sesuatu dengan nama pakaian yang melekat padanya. Dan ini merupakan gaya bahasa Arab di dalam pembicaraan mereka.

Pendapat kedua, bahwasanya aqiqah adalah sembelihan itu sendiri. Inilah pendapat Imam Ahmad rahimahullah. Juga beliau menyatakao kesalahan Abu Ubaid maupun yang lain yang sependapat dengannya.

Pendapat ketiga, bahwasanya aqiqah meliputi kedua pendapat di atas. Ini adalah pendapat Al-Jauhari di dalam Ash-Shihah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah. Dan pendapat ini lebih utama. Wallahu a’lam.

Terjadi juga khilaf di antara para ulama dalam hukum penggunaan istilah aqiqah tersebut kepada tiga pendapat berikut ini:

Pertama, makruh berdasarkan kepada hadits Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya:

Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang aqiqah. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla tidak mencintai “Al-‘Uquq” (perbuatan durhaka.” Seakan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membenci istilah tersebut. Mereka bertanya lagi: “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Sesungguhnya kami bertanya kepada anda tentang salah seorang di antara kami yang lahir anaknya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Barangsiapa yang suka (ingin) untuk menasikahi anaknya hendaklah ia menasikahi untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.”

Atas dasar ini maka dinamakan nasikah bukan aqiqah.

Kedua, boleh, tidak ada kemakruhan. Mereka berhujjah dengan beberapa hadits, di antaranya hadits Samurah: “Anak itu tergadai dengan aqiqahnya.” Dan hadits-hadits shahih yang lain yang di dalamnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan secara mutlak dengan lafadz tersebut.

Ketiga, apa yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah setelah beliau menyebutkan khilaf di atas di dalam Tuhfatul Mauduud halaman 45. Beliau mengatakan: “Saya katakan: Semodel dengan ini adalah khilaf mereka dalam hal penamaan shalat Isya’ dengan nama ‘Atamah. Dalam hal ini ada dua riwayat dari Imam Ahmad. Setelah diteliti kedua perkara ini, maka kesimpulannya adalah makruh meninggalkan nama (istilah) yang disyariatkan, seperti: Isya’ dan Nasikah, lalu diganti dengan nama ‘Atamah dan Aqiqah. Adapun jika nama yang digunakan itu adalah nama yang syar’i yang tidak pernah ditinggalkan, lalu kadang-kadang digunakan juga nama yang lain, maka hal ini tidak mengapa. Dengan ini bertemulah hadits-hadits tersebut. Wabillahit taufiq.” [1]

Kami (penulis) katakan: Adapun yang kita lihat pada hari ini di antara saudara-saudara kita yang meninggalkan nama (istilah) syar’i, maka dengan itu terjadi masalah, lalu mereka menggunakan nama lain yang tidak syar’i. Sehingga kalau saja anda menyebutkan kata nasikah di depan salah seorang dari mereka, pasti mereka akan meminta anda untuk menjelaskan maksud dari kata itu.

Oleh karena itulah kami mengingatkan pentingnya kita kembali menggunakan lafadz-lafadz syar’i yang telah ditinggalkan, agar disebarkan di dalam setiap pertemuan dan acara-acara kita, hingga tersebar istilah tersebut. Dan agar kita tidak mengganti istilah tersebut dengan lafadz yang tidak syar’i. Dan agar tidak terjatuh ke dalam firman Allah Ta’ala:

“Lalu orang-orang yang dzalim mengganti perkataan dengan perkataan yang tidak diperintahkan kepada mereka.” (Al Baqarah: 59)

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Al-Fath (9/588) setelah beliau membawakan hadits berkata: “Tujuannya; agar diambil faedah dari hadits di atas bahwa yang lebih utama adalah menyebutnya dengan istilah nasikah atau dzabihah dan agar tidak disebut dengan istilah aqiqah.”

Berkata Imam Ibnu ‘Abdil Barr: “Di dalam hadits di atas terdapat makruhnya nama-nama (istilah) yang maknanya dipandang buruk. Dan yang wajib yang nampak dari hadits tersebut adalah hendaklah sembelihan untuk anak yang baru lahir itu disebut dengan istilah nasikah dan jangan diistilahkan dengan aqiqah. Akan tetapi aku tidak mengetahui seorang ulama pun yang condong kepada hal ini. Tidak pula mengatakan hal ini. Aku menyangka mereka tidak melakukan hal ini karena berdasar kepada hadits-hadits lain yang shahih menurut mereka, yang disebutkan di sana tentang lafadz aqiqah. Demikian itu di dalam At-Tanwir. Berkata Az-Zurqani: Barangkali yang dimaksud adalah para ulama mujtahidin. Sebab sesungguhnya Ibnu Abid Dam mengatakan dari para ulama yang semadzab dengannya dari kalangan Syafi’iyah: dianjurkan mengistilahkannya dengan nasikah atau dzabihah. Dan dimakruhkan menamakan dengan istilah aqiqah, sebagaimana makruhnya menamakan Isya’ dengan ‘Atamah. Al-Bajirumi berkata: Yang lebih utama adalah menyebutnya dengan dzabihah atau dengan nasikah, karena di dalam lafadz aqiqah terserap padanya makna ‘uquq (durhaka). Maka menyebut dengan istilah itu menyelisihi yang lebih utama. Dan diungkapkan di dalam Syarah Al-Minhaj: Dimakruhkan penamaannya dengan aqiqah.” (Diambil dari Aujazul Masalik ila Muwattha’ Malik (9/209) karya Muhammad Zakari Al-Kandahlawi)

Sumber: Menyambut Si Buah Hati karya: Salim Rasyid As-Sibli & Muh. Khalifah M. Rabaab (penerjemah: Abu Yahya Muslim), penerbit: Ash-Shaf Media, hal. 56-60.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s