Apa Hukum Bernama dengan “Iman”?

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa hukum memakai nama dengan nama-nama ini: Abrar, Malak, Iman, Jibril, Jani?

Jawaban:

Tidak boleh memakai nama Abrar, Malak, Iman dan Jibril. Adapun Jani saya tidak mengetahui maknanya.

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah juga ditanya: Apa hukum bernama dengan “Iman”?

Maka beliau menjawab:

Menurut pendapat saya, nama Iman mengandung makna tazkiyah (pensucian diri). Dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengganti nama Barrah karena khawatir nama itu termasuk ke dalam tazkiyah. Dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Zainab sebelumnya bernama Barrah, kemudian dikatakan ia mentazkiyah dirinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menamainya dengan Zainab (10/575 Al-Fath).

Juga dalam Shahih Muslim (3/1687) dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Juwairiyyah sebelumnya bernama Barrah, kemudian Nabi menggantinya dengan nama Juwairiyyah. Beliau tidak suka dikatakan telah keluar dari rumah Barrah. Begitu juga dalam halaman 1688 dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha, ia berkata, “Aku menamai putriku Barrah. Kemudian Zainab binti Abu Salamah berkata, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nama ini. Maka Nabi berkata, “Janganlah kalian mensucikan diri-diri kalian! Allah lebih tahu dengan para pelaku kebaikan di antara kalian.” Mereka berkata, “Dengan apa kami menamainya? Beliau bersabda, “Namailah ia dengan Zainab!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan alasan ketidaksukaannya dengan nama yang mengandung makna tazkiah (pensucian) dari dua sisi:

Pertama, dikatakan keluar dari rumah Barrah, begitu juga dikatakan, keluar dari Barrah (kebaikan).

Kedua, tazkiyah (pensucian). Dan Allah lebih tahu dari kita dengan orang-orang yang layak suci.

Maka seharusnya nama Iman diganti; karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang setiap hal yang mengandung makna tazkiyah terutama jika nama bagi seorang perempuan; karena bagi laki-laki itu lebih dekat sebab kata ‘Iman’ mudzakkar (jenisnya laki-laki -ed).

Sumber: Ungkapan dan Pemahaman dalam Timbangan Syariah (Al-Manahil Lafzhiyah) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (penerjemah: Abu Zaid Resa Gunarsa) penerbit: Penerbit Al-Ilmu, hal. 1 dan 28-29.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s