Kenapa Ulama Terkadang Berbeda Pendapat?

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, semoga Allah meninggikan derajatnya, ditanya tentang adanya perbedaan fatwa yang terjadi dari seorang ulama dengan ulama lainnya dalam satu persoalan. Apa penyebab dari hal tersebut? Dan bagaimana sikap orang yang menerima fatwa-fatwa tersebut?

Beliau rahimahullah menjawab:

Penyebab dari persoalan tersebut yaitu pada dua perkara:

Pertama: Masalah Ilmu

Salah seorang dari kedua mufti (orang yang berfatwa) bisa jadi tidak mengetahui perkara yang diketahui oleh mufti yang kedua, sehingga mufti yang kedua lebih banyak pengkajian (pentelaahan) berbagai kitab dibandingkan mufti pertama. Ia telah mentelaah perkara-perkara yang tidak ditelaah (dikaji) oleh mufti yang lainnya.

Kedua: Masalah Pemahaman

Dalam masalah pemahaman terdapat perbedaan yang cukup banyak antara satu orang dengan orang lainnya. Boleh jadi mereka sama dalam hal keilmuan, namun dalam pemahaman antara satu orang dengan orang lainnya berbeda-beda. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan suatu pemahaman yang luas dan tajam pada seseorang, ia memahami ilmu lebih banyak dari apa yang dipahami oleh yang lainnya. Karena ia lebih banyak ilmunya dan lebih kuat pemahamannya, maka ketika itu ia lebih dekat kepada kebenaran dari yang lainnya.

Adapun kaitannya dengan orang yang meminta fatwa apabila ia dihadapkan pada perbedaan pendapat yang terjadi di antara dua mufti maka ia mengikuti mufti yang ia pandang lebih dekat kepada kebenaran, boleh jadi lantaran kualitas keilmuannya, kewara’annya, atau karena kualitas agamanya. Sebagaimana halnya apabila ada orang yang sakit kemudian ia dihadapkan dengan adanya perbedaan diagnosa yang dilakukan oleh dua orang dokter, maka ia mengambil ucapan dokter yang ia pandang lebih dekat pada yang benar (kebenaran).

Apabila kedua perkara tersebut ia anggap sama-sama kuat dan iapun tidak menguatkan salah satu dari pendapat dua mufti tersebut maka ia diberikan dua pilihan, insya Allah, ia bisa mengambil pendapat yang ini atau pendapat yang itu dan apa yang ia pandang jiwanya lebih merasa tenang dengan pendapat itu maka agar ia mengambil pendapat tersebut.

Sumber: Tuntunan Ulama Salaf dalam Menuntut Ilmu Syar’i karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (penerjemah: Abu Abdillah Salim bin Subaid), penerbit: Pustaka Sumayyah, hal. 243-244.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s