Bisakah Melihat Allah di Dunia?

Pertanyaan: Manusia telah berselisih tentang ru’yah. Ada di antara mereka yang mengaku melihat Allah di dunia dan ada yang tidak mengakui ini dan itu dan ada pula yang mengatakan: “Allah tidak dapat di lihat, kecuali di akhirat”?

Jawab:

Yang benar dari ucapan-ucapan yang mereka katakan, bahwasanya Allah akan di lihat di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabb-nyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang keadaan orang-orang kafir:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthafifin: 15)

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah tentang ru’yah sangat banyak, bahkan mencapai ribuan dalil, sebagaimana telah dikumpulkan oleh sebagian Ahli Ilmu dalam pembahasan ini. Seperti Ad-Daruquthni dan aku akan menyebutkannya insya Allah beberapa dalil tersebut.

Amr bin ‘Aun telah menceritakan kepada kami, Khalid atau Hasyim telah menceritakan kepada kami, dari Isma’il, dari Qair dari Jariir, ia berkata: “Kami pernah duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang memperhatikan bulan pada malam bulan purnama. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian melihat bulan ini, yang tidak terhalang dalam melihatnya, jika kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan shalat sebelum terbenamnya matahari [1], maka kerjakanlah.” [2]

Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami, ‘Ashim bin Yusuf Al-Yarbu’i telah menceritakan kepada kami, Abu Syihaab telah menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Abi Khalid dari Qais bin Abi Hazim dari Jarir: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata telanjang.” [3]

Kemudian beliau rahimahullah berkata: “Abdul-‘Aziiz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d telah menceritakan kepada kami, dari Ibnu Syihab dari ‘Atha’ bin Yaziid Al-Laits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya manusia mengatakan: “Apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat kelak?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Adakah kalian terhalang ketika melihat bulan di malam purnama?”

Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adakah kalian terhalang ketika melihat matahari yang tidak ada padanya awan?”

Mereka para shahabat menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu. Allah akan mengumpulkan manusia pada hari kiamat, lalu berfirman: ‘Barangsiapa yang senantiasa beribadah kepada sesuatu hendaklah ia mengikutinya, orang yang biasa beribadah kepada matahari, ia akan mengikuti matahari dan orang yang biasa beribadah kepada bulan, maka ia akan mengikuti bulan dan orang yang biasa beribadah kepada thaghut ia akan mengikuti thaghut dan umat ini akan tetap berada bersama pemberi syafaatnya atau para munafiknya -Ibrahim ragu-, lalu Allah mendatangi mereka, seraya berfirman: ‘Aku adalah Rabb kalian’. Mereka berkata: ‘Ini adalah tempat kami sampai Rabb kami akan mendatangi kami. Maka apabila Rabb kami telah datang, kita mengenali-Nya, lalu Allah mendatangi di dalam bentuknya sesuai yang mereka ketahui, lalu mereka berkata: ‘Engkau adalah Rabb kami’, lalu mereka mengikuti-Nya…. [4]

Kemudian beliau rahimahullah berkata (hal. 423): “Yusuf bin Musa telah menceritakan kepada kami, Abu Usamah telah menceritakan kepada kami, Al-A’masy telah menceritakan kepadaku dari Khaitsamah dari ‘Adiy bin Hatim ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada seorang pun dari kalian, kecuali akan diajak bicara oleh Rabb-Nya tanpa ada penerjemah antara dia dengan-Nya dan tidak ada hijab yang menutupinya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata di dalam An-Nuniyyah-nya (hal. 773-775): … Demikian pula melihat wajah-Nya Yang Maha Suci, adalah kelezatan yang paling sempurna bagi manusia. Akan tetapi, Al-Jahmi kan mengingkari perkara ini dan itu, serta wajah itu pula dikhawatirkan kan melakukan perkara yang baru. -selesai-

Al-Jahmiyah dan Al-Mu’tazilah berkata: “Sesungguhnya penglihatan itu tidak akan terjadi, kecuali untuk sesuatu yang berjasad (ada wujudnya).” Dan ini merupakan kekeliruan, yang mana dasar dari perkara ini adalah kita menetapkan bagi Allah apa yang telah ditetapkan untuk diri-Nya dan apa yang telah ditetapkan oleh Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa melakukan takwil, tahrif, tasybih, ta’thil, dan tidak pula takyif.

Sedangkan mereka merubah ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihatlah.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Dengan perkataan: “Bahwasanya para hamba sedang menunggu apa yang akan diperbuat oleh Tuhan mereka untuk mereka”. Sebagaimana dikatakan: “Saya memandang kepada si fulan untuk mengetahui apa yang diperbuat untukku; maknanya adalah menunggu kejadian dan harapan”. [5]

Sedangkan orang yang mengklaim, bahwa Allah dapat di lihat di dunia sangatlah keliru sekali, [6] sebab nash-nash yang ada menerangkan kepada kita, bahwa Allah tidak akan dapat dilihat di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-‘An’aam: 103)

Musa ‘alaihis salam berkata, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Rabb berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku [7], tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’raf: 143)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kezalimannya.” (QS. Al-An’am: 103)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: adalah Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menetapkan ru’yah di akhirat dan beliau menafikannya di dunia dan ia berhujjah dengan ayat: “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 103)

Al-Imam Muslim rahimahullah berkata (4/2245): Ibnu Syihab berkata dan Amr bin Tsabit Al-Anshari telah memberitakan kepadaku, sesungguhnya sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitakan kepadanya.

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada suatu hari ketika manusia diperingatkan dari Ad-Dajjal:

“Sesungguhnya tertulis di antara kedua matanya kalimat kafir, akan bisa dibaca setiap orang yang membenci amalannya, atau setiap orang yang beriman akan bisa membacanya.” Dan beliau berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak akan bisa melihat Rabbnya sampai setelah kematian.” [8]

Pendapat yang menafikan ru’yatullah (melihat Allah di dunia) adalah pendapat yang benar.

Adapun orang yang menafikan ru’yatullah di akhirat tidaklah benar dan ia berhujjah dengan ayat di bawah ini:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-‘An’aam: 103)

Berdalil dengan ayat ini bukan pada tempatnya. Di dalam ayat ini digunakan kalimat Al-Idrak, beda antara Al-Idrak dan Ar-Ru’yah.

Ibnu Abil-‘Izzi berkata di dalam Syarh Ath-Thahawiyyah, hal. 193: “Al-Idrak ialah meliputi dengan sesuatu dan ketentuan yang lebih terhadap riwayat, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’araa’: 61-62)

Musa tidaklah menafikan penglihatan, namun hanya menafikan Al-Idrak. Maka Ru’yah dan Al-Idrak, salah satunya akan didapati bersama yang lain. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat dilihat dan tidak dapat dijangkau, sebagaimana diketahui. Dan tidak akan bisa diliputi oleh Ilmu dan inilah yang telah dipahami oleh para shahabat dan imam dari ayat tersebut, sebagaimana telah aku sebutkan pendapat mereka di dalam tafsir ayat itu, bahkan matahari (yang terbit dari timur dan tenggelam di barat) adalah makhluk yang tidak mungkin orang yang melihatnya mampu menjangkaunya.

Pertanyaan selanjutnya: Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Rabbnya pada malam Isra’ Mi’raj?

Jawab: Dalam hal ini terdapat khilaf (perselisihan).

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan di dalam Majmu’ Fatawa (no. 3/386), beliau rahimahullah berkata: “Terjadi pertentangan di kalangan para shahabat, apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabbnya pada malam Isra’ Mi’raj? Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan mayoritas ulama Ahlis-Sunnah berpendapat, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabbnya pada malam Isra’ Mi’raj. Sedangkan Aisyah radhiyallahu ‘anha dan sekelompok orang yang bersamanya mengingkari pendapat tersebut, Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak merawikan sedikitpun dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ia tidak pernah menanyakan kepada beliau tentang hal tersebut dan tidak pula dinukilkan perkara tersebut dari Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana manusia meriwayatkan dari kalangan orang yang jahil, bahwa bapaknya (Abu Bakar Ash-Shidiq) telah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Benar”. Dan beliau berkata kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Tidak”. Maka ini adalah hadits yang penuh kedustaan, sesuai dengan kesepakatan para ulama.”

Diriwayatkan oleh Ibnul-Khuzaimah di dalam At-Tauhid dari Ibnu Abbas, bahwasanya ia berkata: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihatnya dengan kedua matanya.”

Hadits ini lemah, sebagaimana disebutkan di dalam At-Ta’liq ‘Alal Aqidah Ath-Thahawiyyah (hal. 197)

Yang benar:

Bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melihat dengan kedua matanya, akan tetapi melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hatinya (ketika dimi’rajkan ke Sidratil Muntaha tersebut).

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata (8/606): Yahya telah menceritakan kepada kami, Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari Isma’il bin Abi Khalid dari ‘Amir dari Masruq, ia berkata: ‘Aku berkata kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Wahai ibuku, apakah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabbnya?” Ia menjawab: “Sungguh telah rontok rambutku mendengar apa yang kalian ucapkan, di mana kalian dari tiga orang yang telah berbicara kepadamu sungguh telah dusta: “Barangsiapa yang telah mengatakan kepadamu bahwasanya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Rabbnya sungguh orang tersebut telah berdusta.” Kemudian beliau rahimahullah membacakan ayat:

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-‘An’aam: 103)

Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman:

“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syuuraa: 51) [9]

Al-Imam Muslim rahimahullah berkata (1/158): “Abu Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, Hafsh telah menceritakan kepada kami, dari Abdul Malik dari ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Rabbnya dengan hatinya.”

Dan beliau rahimahullah berkata (hal. 161): “Abt Bakr bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami, Waki’ telah menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Ibrahim dari Qatadah dari Abdullah bin Syaqiq dari Abu Dzar, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Apakah engkau melihat Rabbmu?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Cahaya telah meliputiku, bagaimana aku bisa melihat-Nya?”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Untukmu Muslimah… Kupersembahkan Nasehatku karya Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah (alih bahasa: Abu Salamah Rusdi), penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’ hal. 376-387, dengan sedikit peringkasan.

________________
[1] Yang dimaksudkan dengan shalat tersebut adalah shalat ‘Ashar dan shalat Fajr (subuh) dijelaskan dalam lafaz Al-Imam Al-Muslim no. 1002 (pentj.).

[2] Al-Imam Muslim (1/439), Ibnu Khuzaimah di dalam kitab At-Tauhid (hal. 168), Abu Dawud (2/646), dan At-Tirmidzi (4/687), ia berkata: ‘hadits hasan shahih’, dan Ibnu Majah telah mengeluarkannya (1/69) semuanya dari jalam Ismaa’iil dari Qais.

[3] Ibnu Khuzaimah telah mengeluarkannya di dalam At-Tauhid hal. 169 dari jalan ‘Aashim bin Yusuf Al-Yarbuu’iy, Abu Syihaab telah menceritakan kepada kami. Telah dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Ash-Shahihah no. 6883 (pentj.): -teks arab- (lihat sumber hal. 378, pen.)

[4] Al-Imam Muslim telah mengeluarkannya (1631), Ahmad di dalam kitab Musnad-nya (2/534), dan Ibnu Khuzaimah di dalam Kitab At-Tauhid secara ringkas (174) dari ‘Athaa’ bin Yaziid Al-Laits.

[5] Al-Kasysyaaf, karya Az-Zamakhsyariy (4/192)

[6] Ibnu Taimiyah berkata di dalam Majmu’ al-Fatawa (2/389): “Setiap orang mengaku, bahwa ia telah melihat Rabb-nya dengan matanya sebelum mati, maka pengakuan tersebut adalah bathil, sesuai kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”

[7] Dikatakan ( ‎لن‎ ) : “Ada dua perkataan: Ibnu Katsir menyebutkan di dalam Tafsirnya, ia berkata: “Dan sungguh telah dipermasalahkan huruf ( ‎‏ ‏( لنdi sini oleh kebanyakan para ulama, karena huruf tersebut topiknya untuk penafian selama-lamanya, Mu’tazilah berdalil dengannya untuk menafikan‏ ‏ru’yah di dunia dan akhirat dan ini adalah pendapat yang paling lemah, karena telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullag shallallahu ‘alaihi wasallam: “Bahwasanya kaum mukminin akan melihat Allah di akhirat, sebagaimana yang akan kami sebutkan.”

[8] Di dalam hadits ini ada penjelasan tentang: bahwasanya Allah tidak akan bisa dilihat di dunia dan Dia hanyalah akan bisa dilihat di akhirat.

[9] Hadits ini telah dikeluarkan oleh Muslim (1/159), lalu ia berkata: “Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku, Ismaa’iil bin Ibraahim telah menceritakan kepada kami, dari Dawud dari Asy-Sya’biy dari Masyruuq, ia berkata: Aku bertelekan di sisi Aisyah, lalu ia berkata: “Wahai Abu ‘Aaisya, tiga perkara barangsiapa yang membicarakan satu di antaranya, sungguh ia telah membuat kedustaan terhadap Allah, ia berkata: ‘Aku bertelekan, lalu aku duduk’. Dan aku berkata: “Wahai Ummul Mukminiin, tangguhkanlah untukku dan jangan tergesa-gesa, ‘bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwiir: 23)
Dan Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 13)
Lalu ia berkata: “Aku adalah orang yang pertama kali dari umat ini yang telah bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah, kemudian beliau bersabda: “Hanya Jibril yang aku belum pernah melihatnya pada rupanya yang asli, kecuali di kali kedua itu, aku melihatnya ketika turun dari langit dalam keadaan duduk di antara langit dan bumi amat besar bentuknya. Lalu ia berkata: “Bukankah engkau mendengar, bahwa Allah berfirman: Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-An’am: 103, atau tidakkah engkau mendengar bahwasanya Allah berfirman: “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy-Syuuraa: 51) … Al-Hadits.

One response to “Bisakah Melihat Allah di Dunia?

  1. Ping balik: Bisakah Melihat Allah di Dunia? « - – ASSALAFIYYAH – -

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s