Hukum Drama dan Nasyid Islami

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi hafizhahullah ditanya seputar drama/film islami serta hukum menyaksikannya dan hukum nasyid (lagu-lagu) islami.

Setelah menjawab salam penanya beliau mengatakan:

Hanya kepada Allah aku menyandarkan pertolongan, taufik, dan kelurusan.

Alhamdulillah wa sholaatu wa salaamu ‘ala rasulillah wa ‘ala alihi washohbihi, wa ba’d:

Pertama: Yang nampak bagiku bahwa drama dan film adalah haram, karena drama terwujud di atas perkara-perkara yang haram pula, yaitu sebagai berikut:

1. Kedustaan, hal ini karena drama tidak bisa terwujud kecuali dengan kedustaan, tidak berlandaskan dan tidak akan sempurna kecuali dengannya. Sedangkan dusta dalam agama Islam adalah haram tidak ada seorang muslim pun yang ragu dari keharamannya. Allah telah mencela kedustaan dan pelakunya, bahkan melaknat mereka dalam kitab-Nya yang agung:

“Kemudian kita mengadakan mubahalah (mendoakan dengan laknat dan kebinasaan satu terhadap lainnya) dengan menjadikan laknat Allah (menimpa) kepada orang-orang yang berdusta.” (QS. Ali Imran: 61)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya bersabda:

“Sesungguhnya kedustaan itu menuntun kepada kebejatan, dan kebejatan menuntun pelakunya ke dalam an naar.” [1]

2. Perkataan dusta dan pengakuan palsu, dalam sebuah hadits yang shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengaku-ngaku sesuatu yang bukan miliknya maka dia bukan dari golongan kami.” [2]

3. Berpura-pura, seorang pemain drama dia berpura-pura menangis, tertawa, sedih, bahagia, marah, ataupun rela. Inilah kedustaan.

4. Menirukan watak seseoran, kadang-kadang seorang muslim mempraktekkan atau melakukan adegan sebagai orang kafir, kadang-kadang seorang kafir atau fasik melakukan adegan sebagai salah seorang tokoh besar dari kaum mu’minin, entah sebagai seorang shahabat, ulama besar, atau raja yang adil, dan perkara ini adalah sebuah kejahatan besar.

5. Pemain drama menghalalkan perkara-perkara haram di atas. Perlu untuk diketahui bahwa menceritakan kepribadian seseorang dengan menirukan gayanya, cara berjalannya, atau cara bicaranya merupakan ghibah dan ghibah adalah perkara haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku tidak suka menceritakan (menirukan) seseorang walaupun diberi suatu imbalan (karena melakukannya).” [3]

6. Drama mengajarkan sifat khianat dan jahat, dan bahwasanya pengakuan perbaikan yang didahului atau diruntuhkan oleh berbagai kerusakan yang ditimbulkannya.

7. Para pemain drama yang mengaku dirinya muslim telah memberikan bantuan yang besar kepada orang-orang orientalis, musuh Islam, yaitu dengan memunculkan berbagai riwayat yang disusupkan kepada pemimpin-pemimpin Islam dan tokoh-tokoh Islam, yang dimaukan dengan riwayat-riwayat tersebut pelecehan dan perendahan martabat mereka. Kemudian oleh para pemain drama diambil dan dipraktekan serta disebarkan, entah sadar atau tidak, atau bahkan mengakui kebenaran riwayat-riwayat dusta di atas. Sehingga dengan demikian mereka telah memberikan bantuan kepada orientalis dalam menghancurkan Islam dan tokoh-tokohnya. Tentunya perkara ini merupakan puncak dari pengkhianatan terhadap Islam dan pemeluknya, bahkan kadang pelakunya bisa mencapai tingkat kafir, keluar dari agama Islam.

8. Para shahabat dan orang-orang shalih setelah mereka mendalami Al Qur’an dan As Sunnah, serta berbagai macam mau’izhah (nasehat), mereka tidak butuh kepada perkara yang bernama drama atau film.

Kedua: Tentang nasyid-nasyid, kami katakan bahwa syair-syair bukan sesuatu yang telah basi. Syair-syair yang mengandung dorongan berjihad, mengamalkan amalan-amalan yang utama, meneladani para tokoh Islam, mencegah kehinaan dan kerendahan, berisi pula penghinaan bagi pelaku kehinaan dan kerendahan, juga syair-syair yang tidak mengandung perendahan harga diri seorang muslim, tidak pula ada kedustaan di dalamnya maka yang demikian ini pernah dilantunkan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau sendiri pernah mendengarnya bahkan pernah didengar di dalam masjidnya.

Oleh karena itu kami katakan bila syair-syair nasyid termasuk dalam kategori di atas, dilantunkan oleh satu orang, dilakukan dalam beberapa acara, tidak diperbanyak dan tidak menyibukkan dengannya sehingga meninggalkan perkara yang lebih penting maka tidak mengapa untuk sekedar selingan. Adapun bila dijadikan sebagai adat dan kebiasaan, dilantunkan dengan lantunan lagu diiringi oleh pengiring sehingga dilantunkan secara bersama-sama, maka pada yang demikian ini terdapat tiga kebid’ahan:

1. Bid’ah melantunkannya yaitu menyelaraskan suara dengan lantunan musik.

2. Bid’ah berkumpul untuk menyusunnya karena para salaf tidak pernah melakukannya.

3. Kami tidak mengetahui adanya seseorang yang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan lagu kecuali orang-orang Sufi. Dan aku khawatir apabila telah melewati masa yang panjang akan dijadikan sebagai sebuah ibadah, dan sungguh orang-orang Sufi telah memulai lagu yang dilantunkan dari syair-syair tentang zuhud, kerinduan terhadap surga, kemudian digabungkan padanya suara ketukan alas kaki. Al Imam Asy Syafi’i mengatakan: “Aku meninggalkan sebuah perkara baru di Iraq yang diadakan oleh orang-orang zindiq, mereka sebut sebagai at taghyiir, membuat kaum muslimin lalai dengannya dari membaca dan mempelajari Al Qur’an.” Demikian perkataan beliau. Ibnul Jauzi berkata setelah menukilkan perkataan Al Imam Asy Syafi’i di atas: “Abu Manshur Al Azhari menyebut Al Mughayyirah, mereka adalah sekelompok orang yang mengganti dzikir kepada Allah dengan doa-doa dan ketundukan. Mereka menamakan syair-syair yang berisi dzikir kepada Allah dengan taghyiir.” Az Zajjaaj berkata, “Mereka menamakannya dengan taghyiir, usaha mengajak kepada zuhud dari perkara yang akan hilang dan mengajak kaum muslimin untuk mementingkan akherat.” Abu Harits meriwayatkan dari Al Imam Ahmad perkataan beliau, “At Taghyiir adalah bid’ah.” Beliau ditanya: “Sesungguhnya taghyiir melembutkan hati, beliau menjawab, “Taghyiir adalah bid’ah.” Ya’qub Al Hasyimi meriwayatkan dari beliau “At Taghyiir adalah bid’ah yang baru diada-adakan.” Ya’qub bin Bukhtan meriwayatkan dari beliau “Aku membenci (memakruhkan) at taghyiir.” Dan beliau melarang orang dari mendengarnya. Ismail bin Ishaq Ats Tsaqafi meriwayatkan dari beliau pula ketika ditanya tentang hukum mendengar kasidah-kasidah, beliau menjawab: “Aku membencinya dan dia adalah bid’ah. Tidak boleh mereka duduk-duduk untuk mendengarkannya.” Dinukilkan dari Al Muntaqa An Nafiis min Talbir Iblis karya Ibnul Jauzi hal. 298 dan yang setelahnya…

Bila hal ini telah diketahui, maka aku khawatir bila telah lama rentang waktunya syaithan akan membisikkan kepada mereka untuk menjadikannya sebagai ibadah dan akan dicampur dengan perkara haram lainnya, seperti tepuk tangan dan tarian sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Sufi. Semoga Allah menyelamatkan kita dari perkara yang telah menimpa mereka.

Wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi.

Diambil dari: Menyingkap Kejahatan Aliran-aliran Sesat karya Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi (penerjemah: Fathul Mujib bin Bahruddin), penerbit: Hikmah Ahlus Sunnah, hal. 95-99. Dengan diringkas dan dengan sedikit perubahan.

____________________
[1] Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam kitab: Adab bab qaulillahi ta’ala (-teks arab-) wa maaa yunha ‘anil kadzibi. Dan Al Imam Muslim kitab Al Birr wash shilah wal adaab, bab tahriim an namiimati wa qubhi al kadzibi wa husni ash shidqi wa fadhlihi, diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

[2] Muttafaqun ‘alaihi, diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam kitab Manaqib bab Nisbatul Yaman ila Ismail …, dan Al Imam Muslim dalam kitab Al Iman bab Bayaani hali imani man raghiba ‘an abihi wahuwa ya’lamu, hadits ini diriwayatkan dari shahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

[3] HR. Al Imam At Tirmidzi kitab Shifatul qiyamah war riqaq wal wara’ bab: fi shifati awaanil khaudh tsumma baabun minhu. Dan Al Imam Abu Daud kitab Al Aadaab bab fil ghibah. Dan Al Imam Ahmad, kitab Baaqi musnadil anshar, no. hadits 24443, 24529, 25032, dan 25180, dari Ummul Mu’miniin Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s