Apakah Semua Hewan Air Itu Halal?

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Dahulu di website ini, kami pernah mengangkat pembahasan mengenai makanan atau hewan yang diharamkan. Pada kesempatan kali ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hewan air, apakah seluruh hewan di air itu halal atau tidak? Semoga sajian singkat ini bisa bermanfaat.

Kaedah Mengenai Masalah Makanan

Sebelum kita masuk inti pembahasan, alangkah baiknya kita mengingat suatu kaedah tentang makanan atau hewan:

“Hukum asal segala sesuatu adalah halal. Sesuatu tidaklah diharamkan kecuali jika diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Inilah kaedah yang disampaikan oleh Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah ketika mengawali pembahasan beliau dalam kitab “Al Ath’imah” (masalah makanan). [1]

Dalil dari kaedah di atas adalah firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ‏‎ ‎إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ‏‎ ‎يَطْعَمُهُ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.” (QS. Al An’am: 145)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ‏‎ ‎جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَىْءٍ‏‎ ‎لَمْ يُحَرَّمْ ، فَحُرِّمَ مِنْ‏‎ ‎أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

“Kaum muslimin yang paling besar dosanya adalah yang bertanya tentang sesuatu, lantas sesuatu tersebut diharamkan karena pertanyaannya, padahal sebelumnya tidak diharamkan.” (HR. Bukhari no. 7289 dan Muslim no. 2358)

Dalil di atas menunjukkan bahwa asal segala sesuatu itu halal sampai ada dalil yang mengharamkannya, Setelah kita memahami kaedah di atas baik-baik, kita akan masuk ke pembahasan inti.

Dalil Tentang Hewan Air

Allah Ta’ala berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ‏‎ ‎وَطَعَامُهُ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. Al Maidah: 96)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ -صلى الله‎ ‎عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ‏‎ ‎اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ‏‎ ‎وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ‏‎ ‎الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ‏‎ ‎عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ‏‎ ‎الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ‏‎ ‎‏-صلى الله عليه وسلم- » هُوَ‏‎ ‎الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ
مَيْتَتُهُ «.

“Seseorang pernah menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, kami pernah naik kapal dan hanya membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjawab, “Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. Abu Daud no. 83, An Nasai no. 59, At Tirmidzi no. 69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ‏‎ ‎وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ‏‎ ‎فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا‎ ‎الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ‏‎ ‎وَالطِّحَالُ

“Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah no. 3314. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Apakah Semua Hewan Air Itu Halal?

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Tidak ada perselisihan para ulama bahwa ikan adalah sesuatu yang dihalalkan. Yang terdapat perselisihan di antara mereka adalah hewan air yang memiliki bentuk yang sama dengan hewan darat seperti manusia, anjing, babi dan ular.”

Penulis ‘Aunul Ma’bud mengatakan,

أَنَّ جَمِيع حَيَوَانَات الْبَحْر‎ ‎أَيْ مَا لَا يَعِيش إِلَّا‎ ‎بِالْبَحْرِ حَلَال ، وَبِهِ قَالَ‏‎ ‎مَالِك وَالشَّافِعِيّ وَأَحْمَدُ ،‏‎ ‎قَالُوا مَيْتَات الْبَحْر حَلَال‎ ‎وَهِيَ مَا خَلَا السَّمَك حَرَام‎ ‎عِنْد أَبِي حَنِيفَة وَقَالَ‏‎ ‎الْمُرَاد بِالْمَيْتَةِ السَّمَك‎ ‎كَمَا فِي حَدِيث ” أُحِلَّ لَنَا‎ ‎مَيْتَتَانِ السَّمَك وَالْجَرَاد “‏‎ ‎وَيَجِيء تَحْقِيقه فِي مَوْضِعه‎ ‎إِنْ شَاءَ اللَّه تَعَالَى

“Seluruh hewan air yaitu yang tidak hidup kecuali di air adalah halal. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad. Ulama-ulama tersebut mengatakan bahwa bangkai dari hewan air adalah halal. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hewan air selain ikan itu haram.” [2]

Pendapat yang lebih tepat dalam hal ini, asalnya seluruh hewan yang hanya hidup di air adalah halal.

Hewan Air Tiba-Tiba Mati Diketemukan Mengapung Di Atas Air

Jika hewan air mati dengan sebab yang jelas, misalnya: karena ditangkap (dipancing), disembelih atau dimasukkan dalam kolam lalu mati, maka hukumnya adalah halal berdasarkan kesepakatan para ulama. [3]

Jika hewan air mati tanpa sebab yang jelas, hanya tiba-tiba diketemukan mengapung di atas air, maka dalam hukumnya ada perselisihan. Yang kuat adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad (berbeda dengan Imam Abu Hanifah dan pengikutnya), mereka menyatakan bahwa hukumnya tetap halal. [4] Dalilnya adalah keumuman dalil yang disebutkan di atas.

Hewan yang Hidup di Dua Alam

Yang kami ketahui tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya”.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah memberi penjelasan sebagai berikut. [5]

Hewan yang hidup di dua alam (air dan daratan) ada dua macam:

Pertama: Hewan yang terdapat larangan khusus untuk memakannya seperti katak. Begitu pula yang dilarang adalah buaya karena buaya adalah hewan buas yang memiliki gigi taring untuk menyerang mangsanya, ini menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya. Yang terlarang karena ia termasuk hewan buas yang bertaring adalah ikan paus yang hidup di air laut. Begitu pula yang terlarang adalah ular, kalajengking, kepiting, kura-kura karena dianggap khobits (jelek/kotor) dan diduga dapat memberikan bahaya dengan racunnya.

Kedua: Hewan yang tidak ada dalil akan haramnya, namun ia dihalalkan dengan syarat disembelih terlebih dahulu seperti bebek (itik) dan burung air. Wallahu a’lam. –Demikian penjelasan dari Ibnu Hajar dalam Al Fath-

Catatan: Untuk perkataan Ibnu Hajar yang mengharamkan kepiting, kura-kura atau penyu dengan alasan jijik dan beracun, ini perlu ditinjau kembali. Tentang masalah ini, semoga dengan pertolongan Allah kami bisa menjawab pada tulisan selanjutnya.

Adapun dalil terlarangnya memakan katak adalah hadits,

أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -‏‎ ‎صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ‏‎ ‎يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ‏‎ ‎النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-‏‎ ‎عَنْ قَتْلِهَا.

“Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Al Khottobi rahimahullah mengatakan, “Dalil ini menunjukkan bahwa katak itu diharamkan untuk dimakan. Katak termasuk hewan yang tidak masuk dalam hewan air yang dihalalkan.” [6]

Imam Ahmad mengatakan,

يُؤْكَلُ كُلُّ مَا فِي الْبَحْرِ‏‎ ‎إِلَّا الضُّفْدَعَ وَالتِّمْسَاحَ

“Setiap hewan yang hidup di air boleh dimakan kecuali katak dan buaya.” [7]

Bolehkah Berobat dengan Katak?

Penulis ‘Aunul Ma’bud mengatakan, “Jika seseorang ingin berobat dengan katak tentu saja ia perlu membunuhnya. Jika diharamkan untuk membunuh, maka tentu saja dilarang pula untuk berobat dengannya. Katak itu terlarang, boleh jadi karena ia najis atau boleh jadi karena ia adalah hewan yang kotor.”

Akhir Kata

Hukum asal hewan air adalah halal, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Di antara hewan air yang dilarang adalah katak dan buaya.

Tulisan tentang makanan haram insya Allah masih berlanjut dalam tulisan selanjutnya. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Penulis: Ust. Muhammad Abduh Tuasikal

Footnote:

[1] Lihat Ad Daroril Al Mudhiyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 432, Darul ‘Aqidah, cetakan tahun 1425 H.

[2] ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Muhammad Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi Abuth Thoyib, 1/107, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, 1415 H.

[3] Al Mughni, ‘Abdullah bin Ahmad Al Maqdisi, 11/39, Darul Fikr.

[4] Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 2/336-337, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[5] Kami sarikan dari Fathul Baari, 9/619.

[6] ‘Aunul Ma’bud, 10/ 252.

[7] Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, 1/189, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.

Faedah tambahan tentang hukum kepiting:

Soal: Dahulu yang saya ketahui kepiting itu haram. Akan tetapi ada beberapa tayangan TV yang menerangkan bahwa kepiting itu halal. Mohon penjelasannya. Terima kasih.

Jawab: Berkenaan dengan hukum memakan kepiting ini, Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan, semua hewan yang hidup di darat dari binatang air, tidak halal tanpa sembelihan, seperti burung laut, penyu, anjing laut, kecuali yang tidak berdarah (ma la dama lahu). Maka kepiting ini dihalalkan tanpa disembelih. Imam Ahmad mengatakan, kepitiing tidak mengapa (halal). Beliau ditanya: “Apakah disembelih?” Beliau menjawab, “Tidak. Hal ini, karena maksud penyembelihan adalah mengeluarkan darah dan memperbagus daging. Sehingga yang tidak ada darahnya, maka tidak membutuhkan
disembelih.” [1]

Hal ini juga didukung oleh kaidah, bahwa hukum asal sesuatu itu halal dan tidak diharamkan, kecuali yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Adapun yang didiamkan, maka itu diperbolehkan. [2]

Di antara dasar kaidah ini, yaitu sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam:

“Semua yang dihalalkan di Al-Qur’an, maka itu halal. Dan yang diharamkan, maka ia haram. Dan yang didiamkan, maka itu tidak ada hukumnya. Terimalah dari Allah kemudahan-Nya. (Allah berfirman: Rabbmu tidak pernah lupa) [3]

Footnote:

[1] Al Mughni (13/344).

[2] Kaidah ini disampaikan Imam Asy-Syaukani dalam Durar al-Bahiyah.

[3] HR. Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya (2/137/12), dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam silsilah Ash-Shahihah no.2256.

Sumber: http://www.rumaysho.com/hukum-islam/umum/3056-apakah-hewan-air-itu-halal.html

One response to “Apakah Semua Hewan Air Itu Halal?

  1. BEDA BINATANG LAUT DENGAN BINATANG DARAT

    Tanya:
    Apakah benar bahwa setiap binatang di darat mesti ada juga di laut?, ana pernah dengar kalau di laut ada juga anjingnya, yang disebut dengan anjing laut, apakah ia dihukumi sama dengan anjing darat?.

    Jawab:

    بسم الله الرحمن الرحمن الرحيم

    Sampai saat ini belum kami ketahui ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah menyebutkan bahwa setiap binatang yang hidup di darat mesti ada juga di laut.

    Adapun yang berkaitan dengan anjing laut, maka memang benar ada makhluk yang hidup di laut yang mirip dengan anjing darat, namun untuk menghukuminya sama dengan hukum anjing darat maka ini juga membutuhkan dalil.

    Asal segala sesuatu yang ada di laut hukumnya adalah halal, Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata tentang laut:

    هو الطهور ماؤه، الحل ميتته

    “Dia adalah suci airnya, halal bangkainya”.

    Yang dimaksud bangkai di sini adalah bangkai sesuatu yang hidup di dalam laut itu sendiri, sama saja bangkai itu mirip anjing atau mirip babi, selama dia hidup di dalam laut maka boleh untuk memakannya.
    Wallohu A’lam.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (13 Dzulqo’dah 1435).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s