‘Aisyah Shalat di Kuburan Nabi?

Oleh: Al-Lajnah Ad-Daimah

Pertanyaan: Saya telah berdiskusi dengan beberapa orang yang membolehkan shalat di atas kuburan serta masjid yang terdapat kuburan di dalamnya. Saya telah membantah kerancuan mereka dengan hadits-hadits shahih yang tegas. Hanya saja, mereka mengatakan, “Di mana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha shalat setelah dikuburkannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan selain beliau (Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma) di dalam rumah ‘Aisyah? Di dalam rumah atau luar rumah?” Mereka juga mengatakan, “Bagaimana kok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabat beliau shalat di Masjidil Haram, padahal di sana dikuburkan Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, serta beberapa Nabi?” Maka dari itu, saya memohon kepada anda, wahai Syaikh yang mulia, untuk menerangkan apakah ada kuburan Hajar dan beberapa Nabi di Masjidil Haram? Benarkah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha shalat di rumahnya setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Dan mohon anda menunjukkan kepadaku beberapa buku yang membahas hal ini.

Jawab:

Telah shahih di dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda ketika sakit pada waktu beliau hampir meninggal dan beliau tidak bisa bangun (yang artinya), “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memperingatkan apa yang mereka perbuat. Andai bukan karena hal itu, niscaya akan ditinggikan kuburan beliau, namun ditakutkan akan dijadikan sebagai masjid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan di dalam kitab Shahih Muslim, dari Jundub bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, bahwasanya beliau bersabda lima hari sebelum beliau meninggal (yang artinya), “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dahulu menjadikam kuburan para nabi dan orang shalih di antara mereka sebagai masjid. Ketahuilah, maka janganlah kalian jadikan kuburan sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari hal itu.” (HR. Muslim)

Dan di dalam kitab Shahih Muslim pula, disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya, “Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah shalat menghadapnya.” (HR. Muslim)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga melarang kuburan untuk dikapur, dibangun, dan diduduki. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam juga melarang untuk menjadikan kuburan sebagai masjid, shalat menghadapnya, dan membangun bangunan di atasnya. Hal ini sebagai bentuk penjagaan terhadap sisi tauhid serta menutup jalan kesyirikan.

Dengan ini, diketahui bahwa tidak boleh shalat di atas masjid yang dibangun di atas kuburan. Membangun masjid di atas kuburan seperti ini hukumnya haram.

Adapun yang ditanyakan oleh penanya, “Di mana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha shalat setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan selainnya dikubur di rumah beliau? Di dalam rumah atau di luar rumah?” Jawabnya, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah salah seorang shahabat yang meriwayatkan hadits Shahih dari Rasul shallallahu ‘alaihi wassalam tentang dilarangnya menjadikan kuburan sebagai masjid. Ini merupakan hikmah Allah -jalla wa ‘alaa-. Oleh karena itu, diketahui bahwa beliau tidak pernah shalat di dalam kamar yang ada kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena, seandainya beliau shalat di dalamnya, berarti beliau menyelisihi hadits-hadits yang beliau riwayatkan sendiri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Ini tidak pantas bagi beliau. Tetapi beliau shalat di rumah selain di ruangan tersebut.

Dengan ini, diketahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah dikuburkan di dalam masjid. Beliau dikuburkan di rumahnya. Namun, saat khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memperluas Masjid Nabawi, dia memasukkan kamar ke dalam masjid. Sebagian orang yang datang setelah mereka pun mengira bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dikuburkan di masjid. Padahal, kenyataannya bukan begitu. Dan shahabat radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang paling mengerti dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena itu, mereka tidak menguburkan beliau di dalam masjid. Mereka menguburkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam di dalam rumahnya agar tidak dijadikan sebagai masjid.

Adapun apakah Hajar dan para Nabi lainnya dikuburkan di Masjidil Haram, kami tidak mengetahui ada dalil mengenai hal ini. Persangkaan beberapa sejarawan mengenai hal ini tidak bisa dijadikan sandaran karena tidak ada dalil yang menunjukkan keshahihan hal tersebut.

Wabillahit taufiq. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

(Dialihbahasakan dari Majmu’ Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ wal Buhuts al-‘Ilmiyyah, Komite Tetap untuk Urusan Fatwa dan Riset Ilmiah Kerajaan Saudi Arabia, diketahui Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullahu)

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 10 vol. 01 1432 H-2011 M, hal. 42-44.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s