Beberapa Permasalahan seputar Shalat Istkharah

Hukum Shalat Istikharah

Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa shalat istikharah ini hukumnya sunnah, bukan wajib. Artinya, siapapun juga yang bertekad mengerjakan sesuatu seperti safar (bepergian), menikah, atau berdagang, disunnahkan (dianjurkan) baginya untuk shalat istikharah sebelum dia mengerjakannya, dan bukan sebagai suatu kewajiban. Akan tetapi sebaiknya dia jangan meninggalkan sunnah ini, karena di dalamnya terkandung banyak kebaikan, dan Allah Maha Mengetahui perkara yang ghaib sedangkan manusia tidak mengetahuinya. ….

Dalam Persoalan Apa Shalat Istikharah Itu Dilakukan?

Istikharah dilaksanakan ketika menghadapi persoalan-persoalan yang mubah. Misalnya menikah, berdagang (yang mubah) dan lain-lain. Namun dapat pula pada hal-hal yang sifatnya sunnah jika seseorang melihat di antara kedua persoalan yang dihadapinya itu bertentangan. Misalnya, seseorang yang akan memilih suatu perkara, kemudian dia memilih yang lebih baik dan bermanfaat kemudian dia meminta pilihan yang paling baik dan tepat kepada Allah dalam urusan itu.

Shalat istikharah tidak berlaku pada perkara yang diharamkan atau makruh (yang tidak disukai). Sehingga tidak boleh melakukan istikharah untuk kepentingan atau dalam rangka apakah dia mau mencuri atau tidak?

Dan sebagaimana pula tidak dilakukan dalam menghadapi perkara yang wajib atau perbuatan-perbuatan yang baik yang jelas kebaikan dan manfaatnya. Maka tidak boleh melakukan shalat istikharah apakah dia akan mengerjakan shalat dhuhur atau tidak? Karena shalat dhuhur itu wajib atas dirinya. Jadi, istikharah ini hanya berlaku pada persoalan-persoalan yang tidak diketahui oleh seorang hamba sisi yang benar, kebaikan dan manfaat di dalamnya. Adapun perkara yang wajib, perbuatan yang baik seperti ibadah, maka tidak perlu mengerjakan shalat istikharah.

Boleh jadi seseorang mengharapkan pilihan yang tepat dalam perkara yang berkaitan dengan ibadah, misalnya safar untuk menunaikan ibadah haji. Maka kemudian dia memohon kepada Allah pilihan apakah dia berangkat tahun ini (atau tidak), karena ada kemungkinan (terhalang) musuh atau fitnah tertentu? Juga ketika memilih teman (seperjalanan) apakah dia menemani si fulan atau tidak?

Al Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: Ibnu Abi Hamzah mengatakan: “Sesungguhnya terhadap perkara yang wajib dan sunnah tidak perlu istikharah untuk melakukannya. Demikian juga yang haram dan makruh tidak perlu istikharah untuk meninggalkannya. Maka jelaslah istikharah ini hanya berlaku pada hal-hal yang mubah (boleh), atau yang mustahab (sunnah) apabila terjadi pertentangan di antara keduanya mana yang didahulukan dan dikerjakan.

Dan jangan meremehkan urusan tersebut. Tetaplah memohon pilihan kepada Allah (istikharah) baik dalam urusan besar maupun kecil, yang utama maupun yang remeh dalam setiap perkara yang disyariatkan untuk istikharah padanya. Boleh jadi yang remeh itu justru menjadi perkara yang besar. [1]

Kapan Disyariatkan Untuk Shalat Istikharah? Atau Kapan Memulainya?

Yang dimaksud dengan masalah ini ialah batasan waktu yang disyariatkan padanya shalat istikharah.

Dalam hal ini, waktu istikharah dimulai ketika seseorang sudah mempunyai keinginan kuat untuk melakukan sesuatu atau menghadapi persoalan-persoalan yang (hukumnya) mubah.

Hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, dari kalimat: “Apabila salah seorang dari kalian mempunyai rencana”, yang maksudnya ialah jika seseorang dari kalian mempunyai maksud tertentu dan mempunyai keinginan kuat (tekad).

Ada yang mengatakan: “Apabila terlintas dalam hatinya pemikiran terhadap suatu perbuatan atau ingin mengerjakan sesuatu, maka hendaklah dia melakukan istikharah, sehingga akan tampak baginya dengan berkah doa dan shalat ini apa yang lebih baik baginya.

Akan tetapi istikharah itu justru berlaku ketika muncul tekad yang bulat untuk mengerjakannya dan sebelum mulai melaksanakannya, itu lebih kuat. Sebab yang datang melintas dalam hati seseorang itu sangat banyak, sehingga kalau dia melakukan istikharah dalam setiap perkara yang terlihat olehnya dan terlintas dalam hatinya tentulah waktunya akan terbuang sia-sia. [2]

Perlu diperhatikan bahwa orang yang menjalankan istikharah ini, pada waktu istikharah itu hendaknya pikirannya bersih, tidak terikat pada suatu perkara tertentu. Artinya, dia tidak cenderung memilih salah satu dari kedua persoalan itu karena dorongan hawa nafsunya atau keinginan (kesukaan)-nya. Akan tetapi hendaknya dia bebas dari semua itu dan menyerahkan diri (tawakkal) kepada Allah Azza wa Jalla agar menampakkan kepadanya mana yang lebih baik dari hal-hal yang sudah ditekadkannya.

Adakah Keharusan Dikhususkan Dua Rakaat Shalat Istikharah Itu Atau Boleh Dengan Shalat Nawafil (Sunnah) Lainnya?

Yang dibahas dalam permasalahan ini ialah, apakah melaksanakan doa istikharah ini di belakang shalat-shalat sunnah seperti shalah sunnah rawatib. Misalnya seseorang shalat sunnah rawatib dhuhur, empat rakaat sebelum dhuhur dan dua rakaat sesudah dhuhur. [3] Atau dua rakaat shalat sunnah rawatib sesudah shalat maghrib. Maka, kalau seorang muslim shalat sunnah rawatib sesudah shalat maghrib dan mengerjakan shalat sunnah istikharah setelah itu, apakah cukup dan sah shalatnya ataukah dia harus mengerjakan shalat sunnah khusus untuk melakukan doa istikharah ini?

Pendapat yang shahih dan kuat dalam masalah ini -wallahu a’lam- ialah, kalau seseorang shalat sunnah apapun dengan niat istikharah, maka shalatnya sah dengan izin Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi dia harus mempunyai keyakinan dan tekad serta niat yang kuat bahwa dengan shalat sunnah ini dia ingin melakukan istikharah sekaligus, sebelum dia memulainya.

Muhyiddin An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Yang tampak dari permasalahan ini ialah, bahwa shalat istikharah bisa terjadi dengan dua rakaat shalat sunnah rawatib yang manapun, bahkan juga shalat sunnah tahiyyatul masjid dan shalat-shalat lainnya.”

Zainuddin Al Iraqi rahimahullah mengatakan: “Kalau keinginannya (mengerjakan urusan) itu (muncul) sebelum dia memulai shalat sunnah rawatib atau yang lainnya, lalu dia shalat tanpa ada niat untuk melakukan istikharah. Kemudian ternyata dia melihat perlunya berdoa sesudah shalat itu dengan doa istikharah. Yang jelas di sini ialah sah shalat dan doanya.”

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Kalau dia meniatkan shalat (sunnah) itu dengan jelas (shalat apa yang ingin dikerjakannya -ed) dan shalat sunnah istikharah sekaligus, maka shalatnya sah. Berbeda kalau memang dia tidak meniatkannya sama sekali.” [4]

Adapun dalil yang membolehkan hal ini ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits tersebut yang berbunyi: “yang bukan fardhu”, ini adalah manthuq [5] yang dapat dipahami bahwa shalat ini dapat dilaksanakan setelah shalat sunnah (apapun juga). Adapun kalau dikerjakan setelah shalat fardhu (shalat wajib lima waktu seperti dhuhur, ashar dan lainnya -ed), hukumnya tidak sah. Maka kalau seseorang mengerjakan shalat shubuh misalnya kemudian setelah dia melakukan istikharah, perbuatannya dianggap tidak benar (tidak sah).

Siapa bertekad ingin melaksanakan istikharah setelah shalat sunnah, dan ingin berdoa dengan doa istikharah setelah shalat, apakah harus mengerjakannya ketika itu atau harus mengulangi shalatnya?

Adapun yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah, tentang seseorang mengerjakan shalat sunnah (nafilah) tertentu kemudian terbetik dalam hatinya keinginan istikharah untuk suatu urusan tertentu, dalam keadaan dia memang termasuk orang-orang yang mempunyai niat (tujuan) istikharah setelah mengerjakan shalat sunnah dua rakaat. Maka apakah cukup baginya shalat sunnah yang dia kerjakan itu atau dia kerjakan shalat sunnah yang lain?

Yang tampak dalam masalah ini -wallahu a’lam- ialah bahwa dia harus mengulang shalat dua rakaat dengan niat istikharah, bukan shalat sunnah yang baru saja dia kerjakan. Hal itu karena harus adanya keinginan (iradah) dan niat untuk mengerjakannya. Di samping itu, juga karena keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Bahwasanya setiap amalan itu tergantung pada niatnya.”

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan: “Sangat jath untuk dianggap sah shalat orang yang terbetik keinginannya (shalat) istikharah setelah selesai mengerjakan shalat (sunnah) tertentu. Karena secara dzahir dari hadits itu menegaskan bahwa shalat dan doa istikharah hanya terlaksana setelah adanya keinginan (tekad dan niat) terhadap suatu urusan. [6]

Adakah di sana ayat-ayat atau surat tertentu yang khusus dibaca dalam shalat istikharah?

Sebetulnya, tidak ada dalil yang mengkhususkan bacaan ayat atau surat tertentu dalam shalat sunnah istikharah. Oleh sebab itu, yang shahih dalam masalah ini ialah bahwa seorang muslim apabila mengerjakan shalat istikharah, dia membaca surat Al Fatihah dalam setiap rakaat, kemudian membaca ayat Al Qur’an yang mudah baginya. Maka jelas, di sini dia boleh membaca apa yang dihafalnya dari Kitab Allah (Al Qur’an) tanpa ada batasan atau ikatan tertentu. Inilah yang benar. Dan kalaupun sebagian ulama menganggap sunnah membaca ayat atau surat tertentu, maka tidak perlu diperhatikan, karena tidak boleh membatasi sesuatu yang telah dinyatakan mutlak oleh syariat. Bahkan tidak boleh mengkhususkan perkara yang umum kecuali dengan adanya dalil. Sedangkan istihbab (sunnah) termasuk hukum syariat, sehingga (penetapannya) membutuhkan dalil yang tegas.

Al Allamah Zainuddin Al Iraqi rahimahullah mengatakan: “Saya tidak menemukan sedikitpun dalam hadits-hadits tentang (shalat sunnah) istikharah ini penentuan apa yang harus dibaca di dalamnya.” [7]

Dan ketika Al Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah ditanya tentang tatacara shalat istikharah ini, beliau menjelaskan: “Tatacara shalat ini ialah, hendaknya kamu menegakkan shalat dua rakaat sebagaimana shalat sunnah lainnya. Membaca surat Al Fatihah dalam setiap rakaat dan ayat yang mudah dibaca. Kemudian berdoa.” [8]

Perhatikan keterangan beliau rahimahullah: “Surat Al Fatihah dan ayat-ayat yang mudah dibaca, karena jelas menunjukkan betapa penting dan dalam hikmahnya.

Anggota Lajnah Daimah yang diketuai oleh Al Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah juga ditanya: “Apakah harus membaca surat atau ayat tertentu dalam shalat sunnah istikharah?” Mereka menjawab: “Adapun bacaan di dalam shalat ini ialah, membaca Al Fatihah dan satu surat secara lengkap atau sebagian surat (yang manapun).” [9]

Dan saya menyatakan: “Sebetulnya, tidak adanya batasan atau ikatan bacaan ayat atau surat tertentu dalam shalat istikharah ini -selain Al Fatihah-, selaras dengan hikmah diberlakukannya syariat ini, serta tujuan dan kemudahan di dalamnya. Karena, shalat ini sangat dituntut penerapannya dan perlu diperhatikan oleh setiap orang. Sedangkan manusia berbeda-beda kedudukannya. Ada yang hafal Al Qur’an (seluruhnya) dan ada yang hanya beberapa ayat atau beberapa surat tertentu dari surat-surat pendek. Maka apabila syariat membatasi dan menentukan hanya boleh dengan surat tertentu saja, mungkin ayat atau surat ini tidak dihafal oleh setiap orang. Karenanya, terhalanglah sebagian besar orang yang ingin menerapkan sunnah yang mulia ini, padahal sudah banyak manusia yang Allah beri taufik dengan (melalui) shalat ini kepada kebaikan.

Akan tetapi ketika disyariatkannya shalat ini, dan dibiarkannya perintah membaca dalam shalat ini terbuka lebar bagi siapapun, ini menunjukkan kemudahan bagi manusia. Sehingga masing-masing mereka boleh membaca apa yang dihafalnya agar memungkinkan dia untuk menjalankan sunnah ini dan memohon pilihan terbaik kepada Allah Azza wa Jalla dalam setiap masalah kehidupannya.

Dengan demikian, pembatasan shalat istikharah ini dengan bacaan tertentu saja adalah satu bentuk upaya mempersempit ruang gerak kaum muslimin. Sedangkan agama dan ibadah ini semuanya dibangun di atas hal-hal yang mudah dan longgar. [10]

Allah Azza wa Jalla yang mewahyukan kepada Nabi-Nya syariat shalat dan doa istikharah ini, tentunya yang Maha Kuasa membatasi bacaan shalat ini dengan ayat-ayat atau surat tertentu. Akan tetapi Allah Azza wa Jalla dengan hikmah-Nya, kemudahan dan rahmat-Nya yang dilimpahkan-Nya kepada manusia menyerahkan urusan ini kepada mereka, agar memilih apa yang mereka kehendaki dari Kitab-Nya. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah, maka renungkanlah.

Bolehkah Membaca Doa Istikharah Dari Buku Atau Harus Dari Hafalan Sendiri?

Sebagian orang, ada yang beralasan meninggalkan shalat istikharah ini karena tidak hafal doa yang harus dibacanya, terlalu panjang menurut mereka.

Terhadap penilaian seperti ini, perlu dijelaskan bahwa kalau dia mampu menghafalnya maka hal itu lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Kalaupun tidak, maka sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Dan boleh dia membaca doa ini dari buku-buku yang terbentang di hadapannya. Atau dia dapat menulisnya dalam sehelai kertas dan dibaca setelah selesai mengerjakan shalat sunnah istikharah. Persoalan ini sangat mudah dan leluasa. Segala puji hanya bagi Allah atas kemudahan yang diberikan-Nya.

Tentunya, dengan seringnya sunnah ini dikerjakan berulang-ulang, niscaya doa ini akan mudah terhafalkan seiring dengan perjalanan waktu.

Dan boleh membaca doa istikharah dari buku manapun. Lajnah Daimah pernah ditanya sebagai berikut:

Pertanyaan: “Sehubungan dengan shalat istikharah untuk suatu pekerjaan, atau kebutuhan atau apapun juga. Apakah disyaratkan harus menghafal doa yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam (doa istikharah). Ataukah mungkin membacanya dari buku saja setelah mengerjakan shalat?”

Jawabannya sebagai berikut:

“Kalau kamu dapat menghafal doa istikharah ini atau membacanya dari sebuah buku maka yang manapun boleh. Yang penting wajib atasmu untuk berusaha menghadirkan hatimu dan bersikap khusyu’ kepada Allah dan jujur dalam berdoa…”

Apa Yang Harus Dikerjakan Oleh Orang Yang Shalat Istikharah Sesudah Shalat Istikharah?

Kalau seorang muslim sudah mengerjakan shalat istikharah, dia teruskan apa yang dia niatkan untuk menjalankan (pilihannya). Kalau pilihannya itu baik, maka Allah mudahkan baginya, dan kalau buruk, niscaya Allah palingkan dan jauhkan dia dari perkara tersebut.

Sebagian besar kaum muslimin berkeyakinan bahwa orang yang mengharapkan pilihan (mustakhir), kalau dia memohon pilihan kepada Allah dalam suatu urusan, hendaknya dia menunggu sampai melihat sebuah tanda dalam mimpinya. Kemudian berdasarkan mimpi yang dilihatnya ini dia laksanakan ataukah tidak apa yang ditekadkannya.

Ini adalah khurafat, tidak ada dasarnya sama sekali dalam ajaran (agama) Islam. Hukum syariat Islam tidak bisa ditegakkan atas dasar suatu mimpi. [11]

Maka apabila seseorang meminta pilihan kepada Allah untuk (melaksanakan) suatu urusan tertentu, hendaklah dia bertawakkal kepada-Nya, dan meneruskan apa yang diinginkannya serta jangan menanti datangnya mimpi atau insyirah (kelapangan, kelegaan) dada atau perasaan. Karena kelapangan dada (kelegaan perasaan) itu tidak pasti patokannya. Bisa jadi seseorang mengalami kelegaan atau lapang dadanya karena dorongan hawa nafsunya yang masuk sebelum dia memulai shalat istikharah.

Izzuddin bin Abdussalam rahimahullah mengatakan: “(Hendaknya) dia kerjakan apa yang disepakati.”

Muhammad bin Ali Kamaluddin Az Zamlakani rahimahullah menyatakan: “Apabila seseorang shalat dua rakaat istikharah karena satu urusan, hendaklah dia kerjakan sesudah itu apa yang tampak baginya. Baik itu dia dalam keadaan lapang dada (lega) atau tidak, karena di dalamnya terdapat kebaikan. Dan tidak ada dalam hadits ini indikasi yang menyatakan syarat harus adanya insyirah (kelapangan) dada ataupun perasaan. [12]

Seyogyanya bagi mustakhir membersihkan dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Sehingga, jangan sampai dia mengikuti apa yang diinginkan hawa nafsu tersebut. Tapi hendaklah dia lepaskan semua itu, kemudian dia melakukan shalat istikharah serta bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

Imam Al Qurthubi Al Maliki rahimahullah mengatakan: “Para ulama menyatakan sepantasnya dia membersihkan hatinya dari semua bayangan agar tidak cenderung kepada salah satu urusan yang ada (sebelum melakukan shalat istikharah). [13]

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan: “Yang perlu dipedomani ialah bahwasanya dia tidak boleh mengerjakan apa yang melegakan atau menenangkan hatinya dari hal-hal yang di dalamnya terdapat dorongan hawa nafsu yang kuat sebelum melaksanakan shalat istikharah.” [14)

Apa Hukum Shalat Istikharah Berulang-ulang?

Kadang-kadang, seorang muslim yang sudah melakukan shalat istikharah kepada Allah dalam persoalan tertentu, merasa bahwa urusan tersebut masih samar-samar, belum jelas gambarannya, apalagi kebaikannya. Kemudian dia melihat perlunya mengulang shalat tersebut sekali lagi. Apakah hal ini disyariatkan?

Badruddin Al Aini rahimahullah mengatakan: “Kalau anda mengatakan apakah dianjurkan (sunnah) mengulang shalat istikharah terhadap satu urusan kalau tidak jelas (masih samar-samar) segi kebenaran atau kebaikan untuk dilaksanakan atau ditinggalkan, padahal dada (hati) tidak merasa lega menjalankan urusan itu.” Maka saya katakan: “Tentu. Dianjurkan (sunnah) mengulang shalat dan doa istikharah karena alasan tersebut.” [15]

Ali Al Qari rahimahullah menyatakan: “Hendaknya dia teruskan (keinginannya) setelah melakukan istikharah ini ketika hatinya lapang tapi bukan karena dorongan hawa nafsu. Kalau tidak merasa lapang hatinya karena satu alasan maka yang jelas dia hendaklah mengulang shalat istikharah ini sampai terlihat jelas kebaikan baginya.” [16]

Asy Syaukani rahimahullah menyatakan: “Apakah disunnahkan mengulang doa dan shalat istikharah? Al Iraqi mengatakan bahwa yang dzahir (tampak) adalah sunnah (dianjurkan).” [17]

Jadi, di antara para ulama ada yang berpendapat sunnahnya mengulangi doa dan shalat istikharah ini, lebih-lebih lagi tentang bolehnya. Sehingga ini merupakan pendukung bolehnya melakukan shalat istikharah berulang-ulang. Di samping itu, hal ini (bolehnya berulang-ulang mengerjakan doa dan shalat istikharah) difatwakan pula oleh Yang Mulia Al Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dan Syaikh Al Muhaddits Al Allamah Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah, dan membatasi pengulangan ini apabila hati tetap tidak merasa tenang karena shalat yang pertama.

Siapa yang tidak mungkin untuk shalat, apakah cukup hanya dengan doa istikharah tanpa shalat dua rakaat?

Telah dimaklumi bahwa istikharah ini adalah dengan (shalat) dua rakaat, kemudian berdoa setelah selesai shalat. Akan tetapi kalau seorang muslim tidak mampu mengerjakan shalat ini apakah boleh dia hanya melakukan doa istikharah tanpa melaksanakan shalat?

Hal ini seperti pada wanita haid. Kalau muncul suatu keperluan pada dirinya dan dia ingin melakukan istikharah, dan tentunya dia tidak dapat mengerjakan shalat. Maka apakah disyariatkan baginya untuk hanya mengucapkan doa istikharah saja?

Jawabnya:

Ya. Dia boleh mengerjakan istikharah hanya dengan membaca doanya saja (tanpa shalat). Demikian juga yang lain yang memang tidak memungkinkan untuk shalat. Ini adalah madzhab Hanafiah, Malikiah dan Asy Syafi’iyah. Mereka membolehkan istikharah hanya dengan doa saja tanpa shalat kalau memang berat (ada udzur) untuk mengerjakan istikharah ini dengan shalat dan doa sekaligus. [18]

Muhyiddin An Nawawi rahimahullah mengatakan: “Kalau memang ada uzur (keberatan) pada seseorang untuk shalat istikharah maka dia boleh melakukan istikharah hanya dengan doa saja.” [19]

Footnote:

[1] Fathul Bari (11/220).

[2] Idem.

[3] Demikian dalam satu riwayat, yang lain menyebutkan (dalam riwayat Ibnu Umar), dua rakaat sebelum dan sesudah dhuhur. Wallahu a’lam. -ed.

[4] Al Adzkar (112), Nailul Authar (3/88) dan Al Fath (11/221)

[5] Al Manthuq ialah suatu ketetapan hukum nash atas masalah yang telah jelas batasannya. Wallahu a’lam, -ed.

[6] Fathul Bari (11/221)

[7] Umdatul Qari (7/235).

[8] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (2/336).

[9] Fatawa Lajnah Daimah (8/161)

[10] Akan tetapi bukan berarti harus ditinggalkan sama sekali, wallahu a’lam -ed.

[11] Kecuali mimpi para Nabi dan Rasul, karena itu adalah wahyu dari Allah Azza wa Jalla, wallahu a’lam -ed.

[12] Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra (9/206).

[13] Al Jami’ li Ahkamil Qur’an (13/203).

[14] Fathul Bari (11/223).

[15] Umdatul Qari (7/235).

[16] Mirqatul Mafatih (3/406).

[17] Nailul Authar (3/89).

[18] Al Mausu’atul Kuwaitiyah (3/243).

[19] Al Adzkar (112) dan Hasyiyatu Ibni Abidin (2/28).

Sumber: Menyingkap Rahasia Di Balik Shalat Istikharah karya Abu Umar Abdullah Al Hammadi (penerjemah: Abu Muhammad Harits Abrar Thalib), penerbit: Pustaka Ar Rayyan, Solo. Hal. 37, 42-44, 47-51, 55-59, 67-69, 71-72 & 75-76.

3 responses to “Beberapa Permasalahan seputar Shalat Istkharah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s