Bid’ah-bid’ah dalam Istikharah

Istikharah secara bahasa artinya mengharapkan pilihan terhadap suatu perkara. Seperti ungkapan: ‘khaarallahu laka’ (Semoga Allah memilihkan untukmu), maksudnya semoga Allah memberimu apa yang terbaik untukmu. Dan seperti ungkapan: ‘istakhaarallah’, artinya memohon pilihan dari Allah. Adapun kata ikhtiar maksudnya sama dengan ishthifa’ (pilihan). Begitu juga makna kata takhayyur. Sebagaimana juga dalam ungkapan: ‘itkhirillaha yukhri laka’ (Mintalah pilihan kepada Allah, pasti Dia akan memilihkan untukmu). [1]

Sedangkan menurut istilah syar’i artinya mengharapkan pilihan. Maksudnya memohon agar dipalingkan perhatiannya kepada apa yang terpilih di sisi Allah dan yang lebih utama, melalui shalat atau doa yang berkaitan dengan istikharah. [2]

Lebih jelasnya, istikharah ialah doa tertentu dari As Sunnah yang diucapkan seorang muslim ketika dia berdoa setelah shalat sunnah dua rakaat, yakni tatkala dia bertekad melakukan suatu hal, apakah itu menikah, berniaga atau bepergian (safar) atau yang lainnya. Dimana dia memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar memilihkan dan menentukan untuknya yang terbaik serta memudahkannya. Dan memohon pula agar dijauhkan dari apa yang diinginkannya kalau di dalamnya terdapat keburukan.

Tentang Beberapa Istikharah Bid’ah

Doa shalat istikharah ini sebetulnya diucapkan (diajarkan) oleh manusia yang diberi wahyu oleh Rabb (Pencipta, Pengatur) seluruh manusia (yaitu Allah), Dzat Yang Maha Tahu keadaan dan kemaslahatan mereka. Lafadz haditsnya sendiri adalah lafadz yang ringkas dan padat. Meskipun demikian, ternyata masih ada sebagian orang yang memilih untuk dirinya perkara bid’ah yang diada-adakan yang sangat jauh dari kebenaran dan keabsahan. Akhirnya mereka menghalangi kebaikan bagi diri mereka sendiri. Bahkan tidak jarang menjatuhkan mereka ke dalam kesyirikan dan khurafat.

Al Allamah Abu Abdillah Muhammad Al Abdari yang dikenal sebagai Ibnul Haj rahimahullah mengatakan: “Hendaklah waspada dan menjauhi perbuatan sebagian manusia yang tidak berilmu atau memang mempunyai ilmu tapi tidak memahami hikmah syariat yang mulia ini sehubungan dengan lafadz-lafadz (doa ini) yang ringkas dan lengkap dengan berbagai rahasia yang dalam.

Sebagian mereka memilih untuk diri mereka doa istikharah, bukan sebagaimana yang telah kita uraikan di depan (yakni doa-doa istikharah yang disyariatkan, -pen). Sungguh ini adalah kelemahan, karena pilihan seseorang untuk dirinya sendiri sesuatu yang bukan dipilihkan oleh orang yang lebih sayang kepadanya dibandingkan dirinya dan kedua orangtuanya. Yang lebih tahu tentang kemaslahatan urusannya, dan membimbing kepada kebaikan, kesuksesan dan keberuntungan, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau.”

Di antara istikharah bid’ah yang diada-adakan ini ialah:

1. Mensyaratkan harus terjadi mimpi

Seakan-akan, disyaratkan di sini agar orang yang melakukan istikharah harus melihat mimpi tentang apa yang diniatkannya. Atau melihat sesuatu yang berwarna hijau atau putih kalau yang ditujunya adalah baik, dan merah atau hitam kalau yang ditujunya adalah buruk dan tidak ada kebaikan padanya. [3]

Ibnul Haj Al Maliki rahimahullah mengatakan: “Sebagian mereka melakukan istikharah syar’i dan setelah itu berhenti sampai melihat mimpi yang dapat dipahami dari mimpi itu dilakukan atau tidak niatnya semula. Atau ada orang lain yang melihat mimpi (tentang dia). Dan ini sama sekali tidak ada artinya. Karena manusia yang ma’shum [4] shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi perintah istikharah dan bermusyawarah bukan dengan apa yang dilihat dari mimpi.” [5]

2. Istikharah dengan biji-biji (batu-batuan) tasbih

Caranya:

Seseorang mengambil biji-biji tasbih kemudian menyebut-nyebut keperluannya. Setelah itu dia memulai membagi dua (ganjil dan genap) dan menghitung biji-bijian di tangannya. Kalau hitungan itu ganjil, dia tidak jadi meneruskan rencananya. Namun kalau genap dia teruskan dan menganggap bahwa apa yang diniatkannya baik.

3. Istikharah dengan sebuah piring

Hal ini biasanya dikerjakan bukan oleh orang yang sedang membutuhkan (mempunyai rencana atau niat). Biasa dilakukan laki-laki dan perempuan.

Caranya:

Pemilik hajat (yang mempunyai rencana) meminum secangkir kopi yang disuguhkan kepadanya. Kemudian dia menumpahkan ke piring, tak lama setelah itu dia serahkan kepada yang akan membaca (meramalnya) agar dia melihat bekas pada piring itu. Yakni, setelah muncul beberapa bentuk atau corak yang berbeda bekas sisa kopi tadi. Permasalahannya ialah setiap rasib dalam semua gelas kalau bercerai-berai. Kemudian terbayanglah apa yang diinginkan. Setelah itu dia mulai menceritakannya kepada pemilik hajat. Dan dia tidak berdiri kecuali pikirannya telah penuh dengan cerita-cerita (bohong) itu.

4. Istikharah dengan sapu tangan

Caranya:

Diletakkan sebuah piring yang penuh air di atas tangan orang yang telah dikhususkan dengan rajah tangan istimewa. Ini dikerjakan pada hari yang sudah ditentukan dalam sepekan. Kemudian pemilik sapu tangan (arraf atau dukun, paranormal) membuat azimat dan mantera dengan kata-kata yang sukar dipahami dan memanggil sebagian jin agar mendatangi orang yang diduga sebagai pencuri.

5. Istikharah dengan pasir

Caranya:

Seseorang membuat garis putus-putus kemudian dilanjutkan dengan perhitungan yang hanya diketahui mereka. Yang akhirnya dikeluarkan sebuah gugus dari seseorang lalu diuraikan dengan sebuah kitab yang disediakan untuk tujuan ini. Kemudian diterangkanlah kehidupannya masa lalu dan yang akan datang -menurut dia-. Perkataan seperti ini jelas-jelas, juga dikatakan kepada selain dia selama dengan harapan keduanya yang telah sesuai.

6. Istikharah dengan telapak tangan

Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Si pembaca rajah tangan menggunakan kekuatan firasatnya dengan tetap menggunakan dukungan -menurutnya- perbedaan gambaran tapak tangan untuk menerangkan kehidupan seseorang di masa depan.

Dan ini termasuk dalam perdukunan, ramalan bintang dan arrafah yang dilarang, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. [6]

7. Istikharah dengan mushaf

Orang yang melakukan istikharah ini membuka sebuah mushaf tanpa memilih. Kemudian dia melihat jenis ayat-ayat yang dibacanya. Kalau ayat itu adalah ayat berhsi rahmat dan kenikmatan maka dia teruskan keinginannya. Dan kalau yang terbuka itu adalah ayat-ayat siksa dan hukuman atau tentang api neraka, maka dia berhenti dari rencananya.

8. Istikharah dengan kartu

Yaitu seperti permainan yang dinamakan al bilaut dan al kutsyaniyah, yang juga termasuk bid’ah.

9. Istikharah dengan nama orang yang baru masuk

Caranya:

Dengan menunggu siapa yang akan masuk, agar dari namanya dapat diuraikan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Kalau yang masuk itu namanya baik, dia kerjakan rencananya. Dan kalau nama orang yang masuk menunjukkan kekasaran atau kekakuan seperti Harb (perang) atau Jamr (bara api), dia tinggalkan rencananya. [7]

10. Istikharah dengan perantaraan gugusan bintang

Cara ini banyak dijumpai di zaman ini. Karena gugusan bintang ini memenuhi lembaran berbagai surat kabar. Sehingga setiap orang mengetahui rasi bintang kelahirannya. Kemudian dia melihat apa yang tercantum di dalam ramalan bintang tersebut. Dia lihat di sana misalnya kata-kata (ramalan): “Anda akan menghadapi masalah dan hal-hal yang sulit. Jangan lakukan ini atau jangan bepergian.” Demikian seterusnya, berbagai hal yang diharamkan dan merupakan khurafat yang semuanya berkaitan dengan masalah perdukunan dan perbintangan. Hanya kepada Allah tempat mengadu.

Ibnul Haj Al Maliki rahimahullah mengatakan: “Di antara manusia ada yang lebih buruk keadaannya daripada ini. Dimana sebagian mereka merujuk kepada perkataan ahli nujum dan orang-orang yang meramal dengan bintang-bintang dan seterusnya.”

Maka orang yang mengerjakan berbagai istikharah bid’ah ini dan meninggalkan apa yang disyariatkan oleh Allah melalui lisan (sabda) Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam tidak syak lagi adalah mahrum (diharamkan, terhalang). Dia mengharamkan dirinya mendapat berkah dari doa ini. Dan dia terhalang mendapatkan taufik untuk menolak mudharat yang mendekatinya. Sehingga jelas bahwa perbuatan demikian adalah batil.

Ibnul Haj rahimahullah menerangkan berapa rusaknya pemikirang orang yang memilih istikharah bid’ah ini. Beliau mengatakan: “Maka barangsiapa yang melakukan sesuatu dari yang telah dipaparkan ini atau yang lainnya. Kemudian meninggalkan istikharah yang syar’i, jelaslah betapa rusaknya pemikiran orang tersebut. Walaupun di dalamnya tidak terdapat keburukan. Namun di dalamnya menunjukkan sikap tidak beradab kepada pembuat syariat shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah memilihkan untuk umatnya hal-hal yang di dalamnya terhimpun kebaikan dunia dan akhirat dengan lafadz-lafadz ringkas dan mudah. Sedangkan dia lebih menyukai yang selain itu untuk dirinya.

Maka pilihan terbaik sesungguhnya adalah apa yang dipilih oleh Nabi Al Mukhtar shallallahu ‘alaihi wasallam.

Berdasarkan hal ini, tidak syak lagi bahwa orang yang meninggalkan lafadz yang penuh berkah dan memilih yang lain, dikhawatirkan dia ditimpa hukuman atau teguran yang mungkin datang segera atau suatu ketika terhadap dirinya, anaknya atau hartanya dan lain-lahn.

Istikharah bid’ah ini jelas tertolak, tidak diterima berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintah kami padanya maka (amalan) itu tertolak.” [8]

Yakni, tertolak kembali pada pelakunya. Demikianlah keadaan seluruh bid’ah. Tidak ada kebaikan padanya. Karena semua bid’ah itu sesat. Yang aneh adalah bagaimana manusia mengambil ganti sesuatu yang lebih rendah nilainya untuk sesuatu yang lebih baik?!

Ibnul Haj Al Maliki rahimahullah mengatakan: “Tidak boleh ditambahkan kepada istikharah syar’i ini sesuatu yang lain. Karena hal itu adalah bid’ah. Dikhawatirkan kalau bid’ah itu memasuki suatu perkara, maka dia tidak akan selamat dan sempurna. Apalagi karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memerintahkan untuk istikharah dan bermusyawarah. [9]

Maka seyogyanya dia tidak menambah sesuatu yang lain dan menoleh kepada selain keduanya.

Subhanallah, pembuat syariat shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memilihkan lafadz yang bersih dan mengandung kebaikan dunia dan akhirat, sampai rawi hadits ini (Jabir radhiyallahu ‘anhu) menerangkan sifat shalat ini secara khusus sekaligus sebagai dorongan untuk memperhatikan dan menghafal lafadznya dan tidak memilih yang lain. Rawi (Jabir radhiyallahu ‘anhu) mengatakan:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami shalat istikharah dalam menghadapi semua urusan, sebagaimana mengajari kami surat Al Qur’an.”

Sedangkan Al Qur’an sebagaimana telah dimaklumi, tidak boleh dirubah dan ditambah ataupun dikurangi. Dengan demikian, maka tidak boleh meninggalkan lafadz yang penuh berkah yang telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam istikharah ini kepada lafadz lain yang dipilih sendiri oleh seseorang untuk dirinya atau dari mimpi yang dilihatnya atau dilihat orang lain untuk dirinya. Atau dia menunggu keberuntungan atau memperhatikan nama-nama hari. Imam Malik rahimahullah mengatakan: “Hari-hari itu semuanya adalah hari-hari (milik) Allah.”

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Lihat Lisanul Arab (4/259), materi Kha-ya ra.

[2] Lihat Al Mausu’atul Kuwaitiyah (3/241).

[3] Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’il Mushallin, hal. 409.

[4] Ma’shum ialah orang yang terjaga dari kesalahan.

[5] Al Madkhal, 4/37.

[6] Arrafun merupakan jamak dari arraf, kadang dianggap sama dengan kahin (dukun). Yaitu orang yang menerangkan kejadian pada masa yang akan datang. Dikatakan juga sebagai bentuk umum dari kahin, ahli nujum, ramal dan lain-lain yang menerangkan perkara ghaib pada masa yang akan datang melalui beberapa pendahuluannya. Ini adalah makna yang umum, dan ditunjukkan oleh bentuk pecahan kata ini yang berasal dari kata ma’rifah, sehingga meliputi semua orang yang menjadikan perkara-perkara ini dan mengaku-aku mengetahuinya.

[7] Al Madkhal (4/37-38), Al Fathur Rabbani Lis Sa’ati (5/25), Al Qaulul Mubin (409-410).

[8] HR. Bukhari dan Muslim.

[9] Mungkin beliau mengisyaratkan kepada hadits palsu dari Ali radhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah rugi orang yang istikharah, tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.”

Sumber: Menyingkap Rahasia Di Balik Shalat Istikharah karya Abu Umar Abdullah Al Hammadi (penerjemah: Abu Muhammad Harits Abrar Thalib), penerbit: Pustaka Ar Rayyan, Solo. Hal. 25-26, 90-98 dan 106.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s