Fatwa-fatwa Seputar Permainan Anak

Oleh : Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahulah

Tanya: Ada sekian banyak mainan dan software edukatif untuk anak-anak, yamg sebagian besarnya dimulai dengan musik atau sesuatu yang mirip dengan musik. Kami memiliki contohnya, yaitu sebuah ‘buku audio’. Kami ingin anda mendengarkan lantunan nada berikut ini bersama kami, kemudian anda kemukakan pendapat anda kepada
kami.

Jawab:

Yang aku dengar ini dimulai dengan musik. Sedangkan musik itu tergolong ke dalam ma’azif (alat-alat musik) yang diharamkan. Pengharamannya telah tetap berdasarkan riwayat Al-Bukhari di dalam Shahihnya, dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Niscaya akan ada di kalangan umatku, beberapa golongan orang yang memandang halal zina, sutera, khamar dan alat-alat musik.”
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Al-Asyribah (Tentang Minuman), Bab Ma Ja’a Fi Man Yastahillul Khamr (Riwayat Tentang Orang Yang Memandang Halal Khamar), no. 5590)

Berdasarkan hal ini maka mainan dan software tersebut tidak boleh digunakan kecuali kalau musiknya dihilangkan. Begitu juga tiruan suara-suara hewan yang aku dengar ini tidaklah cocok dengan suara aslinya. Ia juga tidak memberikan gambaran sempurna untuk mengenal suara-suara hewan tersebut. Oleh karenanya, aku memandang bahwa software dan mainan ini tidak perlu digunakan. Kalau musiknya tetap ada, maka ia haram digunakan. Sedangkan kalau musiknya sudah tidak ada, maka penggunaannya hanya bermanfaat sedikit.

Tanya: Sebagian besar permainan memuat gambar-gambar makhluk bernyawa yang dilukis dengan tangan. Biasanya, tujuannya adalah untuk pengajaran seperti yang terdapat di dalam “buku audio” tadi.

Jawab:

Kalau gambar-gambar itu untuk menghibur anak-anak, maka mereka yang berpandangan bolehnya permainan untuk anak-anak, membolehkan gambar-gambar seperti ini. Adapun yang berpandangan tidak bolehnya gambar-gambar tersebut, mereka tidak membolehkannya walaupun gambar-gambar tersebut tidak mencocoki bentuk yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada makhluk-makhluk obyek lukisan itu, sebagaimana yang nampak jelas dari “buku audio” di hadapanku ini. Dalam hal ini, perkaranya adalah mudah (ada kelonggaran).

Tanya: Jadi, wahai Syaikh, kalau gambar itu untuk anak-anak, maka tidak ada penghalang (untuk memuatnya)? Lalu kenapa untuk musik yang ada di dalam permainan dan software edukatif anak-anak (buku audio) itu tidak kita katakan juga, bahwa ia adalah untuk anak-anak. Lalu kita bermudah-mudah dengannya karena ia untuk anak-anak?

Jawab:

Kita tidak bermudah-mudah dengannya karena memang tidak ada keterangan (tentang gambar-gambar di dalam software) yang semisal (dengan keterangan tentang musik) di dalam As-Sunnah. Dan karena alat-alat musik yang ada keterangan keharamannya, bersifat umum. Juga tidak ada dalil yang menunjukkan pengkhususan. Ditambah lagi, kalau seorang anak terbiasa bermain dan menggunakan alat musik, maka itu akan menjadi perangai dan tabiatnya.

Tanya: Ada begitu banyak jenis boneka yang dulu pernah dinamakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan ‘anak-anakan’. Ada yang terbuat dari kapas, yaitu sebuah kantung yang diberi bentuk kepala, dua tangan dan dua kaki. Ada yang benar-benar persis dengan manusia, dan inilah yang dijual di pasar-pasar. Ada juga yang bisa bicara, menangis, berjalan atau merangkak. Apakah hukum membuat dan membeli jenis-jenis boneka seperti ini untuk anak-anak perempuan yang masih kecil sebagai pembelajaran dan hiburan bagi mereka?

Jawab:

Adapun jenis boneka yang tidak memiliki rupa manusia yang sempurna, jadi hanya mempunyai bentuk salah satu anggota badan dan kepala, namun tidak begitu jelas berbentuk manusia, maka sudah tentu ia dibolehkan dan tergolong ‘anak-anakan’ yang pernah dimainkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sedangkan jenis boneka yang memiliki detail bentuk manusia sehingga anda seolah-olah melihat seorang manusia, apalagi kalau ia bisa bergerak dan bersuara, maka di dalam benakku ada ganjalan tentang kebolehannya. Sebab ia benar-benar menyaingi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang zhahir adalah bahwa mainan yang digunakan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak seperti ini. Maka menjauhinya itu lebih baik. Akan tetapi aku tidak memastikan keharamannya, karena dalam masalah seperti ini, anak kecil mendapatkan rukhshah yang tidak diberikan kepada orang dewasa. Anak kecil memang dijadikan cenderung kepada permainan dan hiburan. Ia tidaklah diberi taklif untuk melakukan suatu ibadah sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa nanti waktunya akan terbuang sia-sia dengan bermain-main dan melakukan hal yang percuma. Kalau seseorang ingin berhati-hati dalam masalah ini, maka hendaknya ia mencopot kepala boneka itu atau memanaskannya dengan api sampai agak meleleh, lalu ditekan sampai tanda-tandanya (yang menyerupai makhluk hidup) menjadi hilang.

Tanya: Apakah ada perbedaan antara boneka yang dibuat oleh si anak sendiri dan yang dibuat atau dibeli oleh kita untuk mereka, atau yang dihadiahkan?

Jawab:

Saya berpandangan bahwa membuat boneka dengan bentuk yang menandingi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu haram. Karena hal ini adalah pembuatan gambar (makhluk bernyawa) yang tidak diragukan lagi keharamannya. Akan tetapi kalau boneka itu kita dapatkan dari orang-orang nashrani atau orang-orang non-muslim lainnya, maka penggunaannya seperti apa yang aku katakan tadi. Akan tetapi untuk soal membeli, maka sepatutnya kita membeli barang-barang lain yang tidak memuat gambar-gambar, seperti sepeda, mobil-mobilan,
traktor-traktoran dan yang semisalnya.

Sedangkan masalah boneka kapas yang tidak jelas bentuk manusianya, sekalipun memiliki badan, kepala, leher, namun tidak mempunyai mata dan hidung, maka boneka seperti ini tidak apa-apa sebab ia tidak menandingi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanya: Apa hukum membuat benda yang mirip dengan boneka-boneka ini dari bahan tanah liat, kemudian benda tersebut langsung dilebur kembali?

Jawab:

Setiap orang yang membuat sesuatu yang menandingi ciptaan Allah, maka ia tercakup dalam hadits:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang-orang yang menggambar makhluk-makhluk bernyawa.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Ath-Thalaq, Bab Mahrul Baghyi (Upah Wanita Pelacur), no. 5347)

“Orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat nanti adalah para tukang gambar.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, Bab Adzabul Mushawwirin Yaumal Qiyamah (Azab Orang-orang Yang Menggambar Makhluk Bernyawa Pada Hari Kiamat), no. 5950. Juga diriwayatkan oleh Muslim, Kitab Al-Libas, Bab La Tadkhulul Malaikatu Baitan fihi Kalbun wa la Shurah (Malaikat Tidak Masuk Rumah Yang di dalamnya Ada Anjing atau Gambar Makhluk Bernyawa), no. 2109)

Hanya saja, seperti yang sudah saya katakan, kalau gambarnya tidak jelas, yaitu tidak ada mata dan hidungnya, tidak juga mulut dan jari jemarinya, maka ia tidak berbentuk manusia secara sempurna dan juga tidak menyaingi ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanya: Ketika anak-anak bermain dengan
teman-temannya, anak laki-laki berperan sebagai bapak dan anak perempuan berperan sebagai ibu. Apakah mereka dibiarkan seperti itu ataukah dicegah? Dan kenapa?

Jawab:

Saya berpandangan bahwa mereka dicegah dari hal tersebut. Karena bisa jadi anak laki-laki itu lama kelamaan nantinya akan tidur bersama dengan temannya yang perempuan. Di sini, menutup pintu yang menuju pada keburukan itu lebih utama.

Tanya: Tentang kisah cerita, ada sebagian kisah cerita yang tujuannya adalah untuk mengajari dan menghibur anak. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang bercerita tentang hewan yang bisa berbicara. Misalnya, untuk mengajari anak bahwa akibat berbohong itu buruk, dikisahkanlah bahwa ada seekor serigala yang berperan sebagai dokter. Kemudian ia berbohong kepada seekor ayam dan menipunya. Lalu serigala itu terperosok ke dalam sebuah lubang karena kebohongannya sendiri. Apa pendapat anda tentang jenis kisah cerita seperti ini?

Jawab:

Tentang hal ini, saya bertawaqquf (tidak berpendapat apa-apa). Karena kisah cerita ini memposisikan hewan-hewan tersebut di luar keadaan penciptaannya, yaitu bahwa hewan-hewan itu bisa berbicara, mengobati dan dihukum. Mungkin akan dikatakan bahwa maksud kisah itu adalah untuk membuat suatu perumpamaan. Saya bertawaqquf dalam masalah ini dan tidak berpendapat apa-apa.

Tanya: Ada jenis kisah cerita yang lain. Yaitu seorang ibu menceritakan sebuah kisah yang mungkin saja terjadi sekalipun sebenarnya belum benar-benar terjadi. Misalnya kita katakan: Ada seorang anak bernama Hasan. Ia mengganggu tetangga-tetangganya dengan memanjat tembok rumah mereka. Lalu ia terjatuh dan patahlah tangannya. Apa hukum jenis kisah seperti ini, yang darinya seorang anak bisa belajar tentang beberapa keutamaan akhlak dan sifat-sifat terpuji. Apakah ia termasuk dusta?

Jawab:

Yang zhahir adalah kalau kisah ini diceritakan sebagai suatu perumpamaan, dengan dikatakan bahwa ada seorang anak atau yang semisalnya, tanpa disebutkan namanya, dan ia dibuat seolah-olah merupakan peristiwa yang betul-betul terjadi, maka hal ini tidak apa-apa. Karena ini termasuk sebagai permisalan dan bukan kenyataan sebenarnya. Bagaimanapun, hal ini tidak apa-apa. Karena di dalamnya terkandung faidah dan tidak membawa suatu mudharat.

Tanya: Di dalam metode pengajaran di sekolah-sekolah, seorang anak diminta untuk melukis gambar makhluk bernyawa. Atau anak itu diberi sebuah gambar ayam misalnya. Lalu dikatakan kepada anak tersebut, “Sempurnakanlah gambar sisanya!” Terkadang ia juga diminta untuk menggunting gambar tersebut dan menempelnya di sebuah kertas. Atau ia diberi sebuah gambar lalu ia diminta untuk mewarnainya. Apa pendapat anda tentang hal ini?

Jawab

Saya berpandangan bahwa hal tersebut adalah haram dan harus dilarang. Para penanggung jawab masalah pendidikan harus menunaikan amanat dalam masalah ini dan melarang hal-hal itu. Kalau mereka hendak menguji kecerdasan murid, maka mereka dapat mengatakan, “Buatlah gambar mobil, pohon atau semisalnya yang sudah diketahui oleh si murid. Dengan begitu, akan diketahui seberapa jauh tingkat kecerdasan, kepandaian dan kemampuan si murid mempraktekkan sesuatu. Menggambar makhluk bernyawa ini merupakan salah satu cobaan bagi manusia melalui perantaraan setan. Kalau tidak demikian, maka tentu tidak akan ada perbedaan dalam hal kepandaian melukis dan menggambar, antara melukis gambar pohon, mobil, istana atau manusia. Saya berpandangan bahwa pihak yang berwenang dalam urusan ini mesti melarang hal-hal tadi. Kalau memang mereka harus melakukannya, maka hendaknya mereka menggambar hewan tanpa kepala.

Tanya: Gambar-gambar yang ada dalam lukisan ini, apakah wajib dilenyapkan? Dan apakah memotong kepala dengan cara membuat garis pemisah antara kepala dan badan itu menghilangkan keharaman gambar tersebut?

Jawab:

Saya berpandangan gambar-gambar itu tidak harus dilenyapkan. Karena akan sangat sulit sekali. Juga karena ia -maksudnya buku-buku tersebut- tidak dimaksudkan untuk sekedar menampilkan gambar. Akan tetapi ia dimaksudkan untuk (menjadi media penyampaian) ilmu yang dimuatnya. Membuat garis antara leher dan badan tidaklah merubah gambar tersebut dari keadaannya.

Tanya: Seorang anak bisa jadi tidak naik kelas kalau ia tidak melukis gambar tadi di sekolah. Maksudnya, dia tidak akan mendapat nilai pelajaran menggambar, kemudian tidak naik kelas.

Jawab:

Kalau demikian, maka si murid terpaksa melakukannya. Dan dosa murid ini ditanggung oleh orang yang menyuruh dan menugaskannya dengan hal tersebut. Hanya saja saya berharap dari pihak yang berwenang agar mereka jangan sampai seperti itu, sehingga akan ada hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terpaksa melakukan maksiat kepada Allah.

Tanya: Ada sebagian Taman Kanak-kanak yang menerapkan pengajaran untuk anak-anak sampai usia lima atau enam tahun dengan pembauran antara anak perempuan dan anak laki-laki. Berapakah batas usia yang diperbolehkan bagi anak untuk berikhtilath? Banyak juga dari Taman Kanak-kanak itu yang pengajarnya adalah wanita untuk murid laki-laki dan perempuan. Apa pendapat anda tentang masalah ini? Dan sampai batas usia berapakah seorang anak laki-laki boleh diajar seseorang wanita?

Jawab: Saya berpandangan bahwa masalah ini hendaknya disampaikan kepada Hai’ah Kibaril Ulama untuk dibahas. Karena ini dapat membuka pintu (peluang) ikhtilath di masa mendatang dalam jangka waktu yang panjang. Adapun masalah berkumpulnya anak-anak, maka pada asalnya ia tidak apa-apa. Hanya saja saya khawatir bahwa hal seperti ini sudah direncanakan dan ditujukan untuk menjadi tangga menuju hal-hal yang lebih besar lagi, menurut pandangan saya. Dan Allah-lah yang lebih tahu. Oleh karena itu, masalah sekolah-sekolah ini harus disampaikan kepada Hah’ah Kibaril Ulama untuk dikaji, atau kepada pihak-pihak berwenang lainnya yang bisa melarang ikhtilath tersebut setelah melakukan kajian tentangnya.

Tanya: Ada sebagian sekolah yang memisah antara siswa dan siswi. Hanya saja pengajar murid laki-laki dan murid perempuan adalah wanita. Sampai batas usia berapakah seorang anak laki-laki boleh diajar oleh seorang perempuan?

Jawab:

Seperti yang telah saya katakan, bahwa wajib melarang segala hal yang mengitari masalah ikhtilat ini, apapun bentuknya.

Sumber: Majmu’ah As’ilah Tahummul Usrah Al-Muslimah (Kumpulan Pertanyaan Yang Penting Bagi Keluarga Muslim)

[Dinukil dari majalah Akhwat vol. 3/1431/2010, hal. 77-82]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s